•   Kamis, 12 Desember 2019
Skandal Properti

Tak Hanya Seks Bebas, Ada juga Larikan Gadis yang Disembunyikan

( words)
Kondisi kamar kos bebas di kawasan Dukuh Kupang, Surabaya


Menelisik Kos-Kosan Mahal di Surabaya (3-Habis)

Mudahnya persyaratan menjadi penghuni kos-kosan elit, ternyata memberi peluang orang melakukan pelanggaran. Asal membayar uang kos, mau apa saja dibolehkan. Entah membawa istri tak resmi, pasangan selingkuhan atau istri simpanan. Kalaupun terjaring razia, hanya diperiksa identitasnya dan dikenakan tipiring (tindak pidana ringan). Ironisnya lagi, gaya hidup seks bebas di kos-kosan bertarif di atas Rp 1,5 juta hingga Rp 3 juta per bulan di wilayah Surabaya barat ini, seakan-akan sudah biasa.
------------------
Fauzan BCH- Farid Akbar
Tim Wartawan Surabaya Pagi

TimSurabaya Pagi sebelumnya menemukan kos-kosan menggunakan aplikasiRedDoorz dan OYO dan menjadi hotelshort time. Ini terlihat di wilayah Kecamatan Dukuh Pakis yang berdasarkan pendataan, terdapat 18.000 kamar yang disewakan. Peminat dari pasangan mesum untukcheck in di kos-kosan seperti itu cukup banyak.

Tim juga sempat menemukan pengakuan penghuni kos-kosan yang menyediakan sewa harian di kawasan Dukuh Kupang, yang ternyata berprofesi pekerja seks komersial dengan tarif Rp 400 ribu(short time). Cerita ini melengkapi imej jika kos-kosan mahal di Surabaya identik dengan ‘markas’nya para wanita pekerja malam.

Di lain tempat, Tim kembali menelusuri informasi dari pihak Rukun Tetangga (RT) di wilayah Petemon Gang 4, Surabaya. Di wilayah ini, juga terdapat kos-kosan bebas yang dihuni sejumlah pasangan pria dan wanita. Sutris, Ketua RT ini mengakui jika kos bebas itu imejnya negatif. "Kalau kos bebas itu jangan direspon dulu lah, nanti dikira kampung bebas seperti Dolly,” ujar Sutris saat ditemuiSurabaya Pagi, kemarin.

Menurutnya, dia sudah memberitahu pihak pengelola kos, baik yang mewah maupun yang rumahan, apabila ada pendatang baru segera melaporkan ke dirinya. Sehingga apabila ada razia yustisi yang dilakukan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), sudah ada laporan tertulisnya. “Kalau pas razia dan kedapatan berduaan atau nggak terdaftar, amankan saja," kata dia.

Sutris yang sudah menjabat sebagai RT selama satu periode ini sudah seringkali mengingatkan pihak pengelola kos agar melaporkan kepadanya jika ada penghuni baru. "Susahe kalau ada yang pindah kos, mereka kadang nggak lapor. Dipikir sudah terdata," ungkapnya.

Beberapa kasus yang pernah ditangani Sutris adalah salah satu penghuni kos di nomor 26 yang membawa kabur anak perempuan yang belum sah menjadi istrinya. Dari penjelasannya, dia mendapatkan laporan dari orang tua perempuan tersebut bahwa yang bersangkutan pamit untuk bekerja. Namun karena beberapa hari tidak pulang dan membuat khawatir keluarganya, usut punya usut keluarga mendapat informasi dari teman sekerja bahwa si perempuan dibawa lari ke kos tersebut. Sehingga keluarga meminta bantun Sutris sebagai RT untuk mengurus ke pihak kos dan penghuni kos.

Tidak mau ambil pusing, Sutris yang kebetulan masih jadi RT tersebut segera menuju kos dan menemui pengelola. Segera dia menegaskan bahwa pengelola harus mempertemukan penghuni kos tersebut dengan keluarga perempuan agar urusannya segera selesai. Dia juga mengancam jika tidak segera dipertemukan, seluruh penghuni kos akan diusir dan kos tidak boleh dihuni lagi.

"Tahun lalu ada pak haji yang bawa lari anak orang, pamit kerja tapi ternyata di sini beberapa hari. Kalau gitu kita yang repot, mas. Kalau nggak dipertemukan bakal tak usirkabeh seng ngekos, kose tak tutup," tandasnya.


Image

Masih di kawasan Petemon, Tim menemui rumah kos yang memiliki 30 kamar dan masih dibangun lagi 10 kamar baru. Tarifnya Rp 1.650.000 per bulan. Atim, penjaga kos itu menceritakan dulu di tempatnya banyak wanita dengan pakaian mini tinggal di sini. “Berangkat kerja sore hari dan pulang dini hari, bahkan pulang mereka dalam keadaan mabuk. Kejadian paling parah sampai tak sadarkan diri datang hampir telanjang,” cerita Atim.

Sekarang rumah kos yang dijaga Atim, sudah tidak menerima penghuni seperti itu lagi. Sebab, menurut Atim, banyaknya keluhan dari tetangga hunian. “Tetangga merasa risih, mereka protes,” ujarnya.(*)

Berita Populer