•   Sabtu, 14 Desember 2019
Ekonomi China

Tarif Ekspor – Impor Ada di Tangan Donald Trump

( words)
Presiden Donald Trump saat berjalan menuju Gedung Putih SP/Rtr


SURABaYAPAGI.com - Setelah cukup lama perang dagang melakukan banyak negosiasi namun, tak ada satupun kesepakatan yang berhasil menyelasaikan peperangan tersebut. Harapan berkahirnya perang dagang terus terlontar saat sebelum perhelatan KTT G20 di Jepang dimulai.

Harapan tersebut muncul saat Trump mengumumkan akan mengadakan pertemuan singkat dengan Persiden China Xi Jinping untuk bernegosiasi, dan saat itu pula keadaan perekonomian dunia terlihat cerah. Meski banyak pihak yang telah bersyukur atas itu namun beberapa pihak lain mengatakan bahwa hal itu hanya sementara dan perang dagang masih terus berlanjut.

Bukti bahwa meredanya perang dagang hanya sementara, saat laju pertumbuhan ekonomi China melemah, Amerika seolah-olah paling berkuasa. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan bahwa dirinya dapat mengenakan tarif tambahan pada impor China sesuka hatinya jika dia mau.

Padahal, Trump dan Presiden China Xi Jinping telah sepakat untuk menunda penambahan bea dalam gencatan senjata perang dagang sejak pertemuan terakhir mereka di Osaka bulan lalu. Trump dan Xi menyepakati gencatan senjata pada tarif dagang dan menyetujui untuk memulai babak baru perundingan dagang, setelah perundingan sebelumnya terhenti selama 6 pekan.

"Kami masih punya banyak peluang dalam [untuk menambah] tarif dagang dengan China. Masih ada sisa [barang impor] senilai US$325 miliar yang belum kami berikan tarif," kata Trump

Usai pertemuan tersebut, Trump menyampaikan bahwa Washington akan menunda ancaman penetapan tarif tambahan pada impor China senilai US$300 miliar. Dia juga mengatakan bahwa Xi telah setuju untuk meningkatkan volume pembelian produk pertanian AS sebagai gantinya.

Namun, sejumlah pejabat pemerintahan China yang memiliki informasi terkait perundingan dagang tersebut mengatakan bahwa tidak ada kesepakatan yang dibuat antara Beijing dan Washington terkait penambahan volume pembelian.

Hingga saat ini, tidak ada pembelian berskala besar yang tercatat sejak akhir Juni. Di tengah ketegangan perdagangan yang masih berlangsung, Trump masih melanjutkan tekanan pada China melalui cuitan yang dia unggah pekan ini.

Dia menunjukkan bahwa tarif AS memiliki dampak yang diinginkan Washington yakni dengan menekan ekonomi China. Angka ekonomi yang dirilis China awal pekan ini menunjukkan bahwa ekonomi terbesar kedua dunia tersebut mengalami perlambatan dengan pertumbuhan sebesar 6,2% pada kuartal kedua.

Sementara itu, Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin dan Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer memperkirakan akan melanjutkan pembicaraan dengan negosiator China pekan ini.

Perundingan dagang yang sebelumnya terjalin sejak awal tahun mengalami kebuntuan pada Mei setelah AS menuduh China telah mengingkari komitmen dalam rancangan kesepakatan yang menurut Mnuchin telah rampung 90%.

Di sisi lain, China menyatakan pembelaan dengan mengatakan bahwa tidak akan ada kesepakatan yang tercapai jika AS tidak menghapus seluruh tarif eksisting.

Berita Populer