•   Rabu, 20 November 2019
Kesehatan

Temukan Pemanfaatan Terapi Stem Cell Pada Penderita Diabetes

( words)
Pakar Biomedik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) sekaligus dokter bedah plastik, Dr. Karina, SpBP-RE, Minggu (8/9/2019).


JAKARTA – Pakar Biomedik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) yang juga berprofesi sebagai dokter bedah plastik, Dr. dr. Karina, SpBP-RE, berhasil menemukan stem cell pada pasien penderita diabetes I dan II.


Doktor bidang biomedika ini menelurkan penelitiannya dalam sebuah disertasi berjudul Efek Pemberian Platelet-Rich Plasma terhadap Angiogenesis Adipose-Derived Mesenchymal Stem Cell Penderita Diabetes Melitus Tipe 2: Tinjauan In Vitro pada VEGF.


Perkembangan terapi stem cell menjadi salah satu alternatif dalam mengobati aneka penyakit terus mencapai berbagai hal positif. Termasuk terobosan baru menggunakan penambahan platelet-rich plasma (PRP), yang menjadi topik disertasi doktoralnya. DM merupakan penyakit metabolik kronis yang lambat laun menimbulkan kerusakan di seluruh sel di dalam tubuh.


“Penelitian ini tidak hanya ingin mengetahui kalau stem cell pasien diabetes lebih jelek daripada orang normal, tetapi bagaimana memperbaiki stem cell yang menjadi induk dari seluruh sel di tubuh,” tuturnya, Minggu (8/9).


Menurut Karina, saat ini terapi stem cell bagi pasien diabetes lebih banyak mengambil dari lemak dibandingkan sumsum tulang. Sayangnya, pasien diabetes cenderung memiliki stem cell-jelek dan harus ditambahkan trombosit atau platelet-rich plasma (PRP) supaya menjadi lebih baik.


“Perbaikan dari stem cell ini permanen, asalkan pasien tidak mengonsumsi lagi jangan makanan yang manis-manis. Jadi, meskipun sudah di-stem cell, ya pasien harus tetap menjaga pola hidup sehat supaya tidak rusak lagi,” ujar dr Karina.


Target ke depan dari penelitian ini adalah untuk mencapai tingkat perbaikan yang baik, agar pasien DM nantinya tidak perlu menggunakan insulin atau minum obat. Sehingga menurunkan angka amputasi.


“Kami berharap angka amputasi turun bahkan jangan sampai amputasi dulu, tapi diabetesnya terkontrol. Jadi ini membuka harapan orang-orang diabetes yang tadinya enggak bisa terapi stem cell dari diri sendiri, dari penelitian saya ada kemungkinan itu bisa,” kata Karina menambahkan.


Tentu hal tersebut menjadi harapan baru bagi penderita diabetes melitus di Indonesia. Penelitian mengenai efek pemberian Platelet-Rich Plasma terhadap Angiogenesis Adipose-Derived Mesenchymal Stem Cell kepada Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 tersebut, memiliki makna yang besar bagi dunia kedokteran di Indonesia mengingat


Data Riset Kesehatan Dasar Departemen Kesehatan Republik Indonesia tahun 2013 menunjukkan terjadinya peningkatan prevalensi diabetes di Indonesia dari 1,1% di tahun 2007 menjadi 2,1% di tahun 2013.


Diabetes melitus sampai saat ini masih menjadi momok yang sangat serius bagi kesehatan masyarakat. WHO menempatkan DM sebagai penyakit nomor empat penyebab kematian terbanyak di dunia setelah penyakit kardiovaskular, kanker, dan penyakit pernafasan kronis.


“Berbagai penelitian epidemiologi memperkirakan jumlah penyandang DM akan terus meningkat di seluruh penjuru dunia,” kata Dr. dr. Karina, SpBP-RE.


Sekitar 95% dari total kasus DM global adalah DM tipe 2. Terapi terstandar untuk DM tipe 2, dijelaskan oleh Dr. dr. Karina, SpBP-RE, meliputi perubahan pola hidup penderita yang dapat berlanjut ke terapi medikamentosa (obat).


Keseluruhan terapi ini difokuskan untuk mencapai target glikemik, di mana pemeriksaan laboratorium berupa angka HbA1C dipakai sebagai acuan. Sayangnya, walaupun target glikemik dapat tercapai, para penderita DM tipe 2 tetap memiliki risiko komplikasi penyakit vaskular (pembuluh darah), yang dapat menimbulkan berbagai gejala seperti penyakit jantung, gagal ginjal, luka diabetes, disfungsi ereksi, dan sebagainya.


Terapi Stem Cell pada Penderita DM


Pemanfaatan stem cell (sel punca) pada terapi DM mulai banyak dilakukan di seluruh dunia, dan juga di negara Indonesia.


Berbagai jurnal tentang peran stem cell pada DM, serta berbagai uji klinis pada berbagai fase, sudah banyak dipublikasikan. Sayangnya, banyak riset menyatakan bahwa potensi stem cell pada DM menurun, sehingga diduga akan terjadi penurunan efektivitas terapi bila menggunakan stem cell autologus (dari tubuh pasien sendiri) pada DM.


Meskipun penggunaan stem cell autologus untuk aplikasi klinis masih dianggap layak karena stem cell dapat diperoleh dalam jumlah banyak dengan mudah dari jaringan lemak tubuh pasien, serta meniadakan reaksi penolakan dari tubuh pasien.


“Namun demikian, upaya perbaikan perlu dilakukan agar efek terapi stem cell autologus menjadi maksimal, terutama saat digunakan untuk pembentukan pembuluh darah baru guna perbaikan penyakit vaskular akibat diabetes melitus,” tutup Pakar Biomedik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) sekaligus dokter bedah plastik, Dr. dr. Karina, SpBP-RE, yang telah berhasil meneliti peran stem cell bagi penderita diabetes I dan II ini. Byob

Berita Populer