•   Minggu, 23 Februari 2020
Properti

Terbiasa Hidup Susah sejak Kecil

( words)
Ciputra bersama istrinya, Dian Sumeler.


Ir. Ciputra dikenal sebagai Bapak Arsitektur Indonesia. Dr. (H.C.) Ir. Ciputra (Tjie Tjin Hoan) atau lebih akrab disapa dengan Pak Ci ini adalah salah satu enterpreneur sukses, yang juga dikenal sebagai raja properti di Indonesia. Kesuksesan pak Ci ini tidak diraih secara instan. Ia bahkan terlahir bukan dari keluarga yang kaya dan Semuanya yang dimilikinya saat ini berkat kerja keras dan kegigighannya dalam membangun bisnisnya sejak usia sangat muda.

Wartawan SurabayaPagi, Jaka Sutisna

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya -Pak Ci lahir di Desa Bumbulan kota Parigi, Sulawesi Tengah pada tanggal 24 Agustus 1931 dengan nama Tjie Tjin Hoan. Ia anak ke-3 dari pasangan Tjie Sim Poe dan Lie Eng Nio, kedua orang tuanya bekerja sebagai pedagang kelontong di desanya

Sejak kecil, ia sudah membantu orangtuanya untuk berdagang. Ia juga terbiasa untuk memburu binatang di hutan yang kemudian ia konsumsi atau dia jual lagi di pasar untuk membantu perekonomian keluarganya.

Masa kanak-kanak Ciputra sendiri tidak begitu beruntung. Bungsu dari tiga bersaudara ini, di usia enam hingga delapan tahun diasuh oleh tante-tantenya yang cukup “bengis”. Ia selalu diberi pekerjaan yang berat atau menjijikkan. Ia juga terbiasa dengan tidur sendiri di tengah hutan demi melaksanakan tugasnya untuk menjaga ladang.

Di tahun 1944, tept saat ia berusia 12 tahun ayahnya ditangkap oleh tentara pendudukan Jepang karena dituduh sebagai anti-Jepang dan tidak pernah kembali lagi. Praktis, ibunya menjadi orang tua tunggal yang harus membanting tulang menghidupi keluarga.

Di usia remaja, keadaan memaksanya menjadi seorang pengusaha kecil untuk menyambung hidup. Ia menjual hasil pertanian, perburuan dan topi dari daun yang ia buat sendiri.

Akhirnya Ciputra kecil kembali ke bangku sekolah walau terlambat. Ia terlambat karena negara masih dalam suasana peperangan dengan tentara Belanda maupun Jepang. Ia masuk kelas 3 SD di desa Bumbulan walau usianya sudah 12 tahun atau terlambat hampir 4 tahun. Ketika usianya 16 tahun lulus dari SD kemudian melanjutkan SMP di Gorontalo dan jenjang SMA di Frater Don Bosco Manado setelah itu memasuki ITB jurusan arsitektur di Bandung.

Setamatnya kuliah di ITB, ia bersama Budi Brasali dan Ismail Sofyan mendirikan usaha konsultan arsitektur bangunan PT. Daya Cipta di tahun 1957 di Bandung. Di tahun 1960, Ciputra pindah ke Jakarta untuk mendulang kesuksesan karier yang lebih maju. Dengan bendera perusahaan PT. Perentjaja Djaja IPD, ia menembak proyek bergengsi pembangunan pusat perbelanjaan di Kawasan Senen.

Usai proyek pusat perbelanjaan Senen, proyek monumental selanjutnya adalah Taman Impian Jaya Ancol dan Bintaro Jaya. Perusahaan yang sahamnya sebanyak 40% dimiliki Pemda DKI inilah, merupakan tempat dimana Ciputra menunjukkan kemampuan dan kelasnya sebagai entrepreneur sekaligus arsitek profesional yang handal.

Jaya Group yang didirikan pada tahun 1961 dengan modal Rp 10 juta, mampu memiliki total aset sekitar Rp 5 triliun. Ciputra bekerja di Jaya Group sebagai direksi hingga berusia 65 tahun, setelah itu sebagai penasehat.

Tak puas hanya sukses di Jaya Group, suami dari Dian Sumeler ini mendirikan perusahaan Metropolitan Group untuk membangun perumahan mewah Pondok Indah dan Kota Mandiri Bumi Serpong Damai, atau lebih dikenal dengan BSD Serpong bersama Sudono Salim, Budi Brasali, Ibrahim Rasyid, dan Sudwikatmono.

Sukses berkarier di kedua perusahaan tersebut, Ciputra akhirnya mendirikan perusahaan keluarga yang diberi nama Ciputra Group di tahun 1981.Namun sayangnya kemalangan menimpa Ciputra. Pada saat terjadi krisis moneter di Indonesia tahun 1998, ketiga perusahaan properti yang dipimpin Ciputra terkena imbasnya, mulai dari Jaya Group, Metropolitan Group, dan Ciputra Group. Hingga dua perusahaan di Ciputra Group yakni Bank Ciputra dan Asuransi Jiwa Ciputra Allstate harus tutup.

Setelah dihantam krisis moneter, Ciputra bangkit untuk memperluas dan memperkuat bisnis-bisnisnya. Beberapa tahun setelahnya, dengan segera perusahaan properti miliknya membangun beberapa proyek di beberapa kota besar di Indonesia dan Asia Tenggara. Tak salah jika ia dijuluki sebagai Bapak Real Estate Indonesia yang juga pendiri sekaligus presiden pertama Asosiasi Real Estate Indonesia (REI).

Selain di bidang properti Ia juga terlibat dalam pembentukan lebih dari 10 lembaga pendidikan, dari TK hingga perguruan tinggi dalm 35 tahun terakhir. Sampai di tahun 2003, Ciputra mulai mendirikan yayasan pendidikan sendiri yang dibangun di Surabaya. Sekolah ini dirancang Ciputra, yang pernah meraih penghargaan Lifetime Achievement Award 2016, dengan kurikulum yang menitik beratkan pada kewirausahaan supaya lulusannya kelak bisa menjadi pengusaha. Ia pun semakin dikenal sebagai sosok penyebar semangat kewirausahaan di Indonesia.

Hal ini juga mengantarkannya pada penghargaan Museum Rekor Indonesia (MURI) yang berhasil memencahkan rekor sebagai wirausahawan peraih penghargaan terbanyak di berbagai bidang dan penyelenggaraan pelatihan kewirausahaan kepada dosen terbanyak. Ciputra melalui Universitas Ciputra Entrepreneurship Center (UCEC) telah memberikan pelatihan kewirausahaan kepada 1.600 dosen. Ia juga dinobatkan oleh Ernst & Young sebagai Entrepreneur of the Year 2007.

Selain aktif di bisnis properti, Pak Ci tidak lupa untuk berderma dengan sesama. Salah satu yang dilakukannya adalah dengan mendirikan berbagai yayasan sosial.

Ia sendiri pernah terlibat aktif dalam pendirian Ikatan Arsitek Indonesia, Asosiasi Real Estate Indonesia (REI), Asia Pacific Real Estate Foundation (APREF), dan orang Indonesia pertama yang terpilih sebagai Ketua Federasi Internasional Asosiasi Real Estate (FIABCI) pada tahun 1989-1990.

Dalam bidang olahraga, kiprah Ciputra dalam mengelola Jaya Raya Foundation dan Jaya Raya Badminton Club dan Di tahun 1986, Ciputra mendirikan Ciputra Foundation untuk menyediakan dana pendidikan dan tanggung jawab sosial lainnya.

Penghargaan Maecenas FTI 2016 pernah didapatkannya sebagai apresiasi atas dedikasi Ciputra mendirikan Ciputra Artpreneur yang terdiri dari Theatre berstandar internasional, galeri untuk berbagai acara, dan museum yang memamerkan berbagai karya seni kontemporer dan modern koleksi pribadinya.Bagi Ciputra, selain aktif berbisnis dan bersosial, tidak ada yang lebih berharga daripada mengubah kehidupan orang menjadi lebih baik

Berita Populer