Terima Kasih Pakde Karwo

Riko Abdiono,
Wartawan Surabaya Pagi
Gubernur Jawa Timur Soekarwo berpamitan kepada masyarakat Jawa Timur di Grahadi Surabaya. Pejabat yang akrab disapa Pakde Karwo ini habis masa jabatannya hari ini 12 Februari 2019.
Tadi malam (11/2/2019), bertempat di gedung negara Grahadi, Gubernur Soekarwo menggelar acara Mohon Diri Purna Tugas dengan mengundang bupati/walikota dari 38 Kabupaten/Kota seluruh Jawa Timur. Hadir juga forum komunikasi pimpinan daerah (Forkopimda) seperti Pangdam V Brawijaya, Pangarmatim, Kajati, Ketua PN serta tokoh agama dan tokoh masyarakat. Hadir juga Gubernur terpilih Hj Khofifah Indar Parawansa dan Wagub terpilih Emil Elstiano Dardak. Hanya satu yang tidak tampak dalam acara semalam, yakni Wagub Jatim Saifullah Yusuf yang masa jabatannya juga berakhir hari ini.
Dengan ditemani Hj. Nina Soekarwo, pakde Karwo menyampaikan kebanggaannya atas kerjasama yang sudah terjalin selama 10 tahun ini. Pria kelahiran Madiun ini merasa masih banyak kekurangan selama menjabat. “Saya selama ini hanya menjalankan amanah rakyat Jawa Timur. Belum tentu niat yang baik, dianggap baik,” jelas Soekarwo, Senin malam (11/2/2019).
Soekarwo pun berpamitan secara resmi kepada seluruh undangan yang mewakili masyarakat Jawa Timur. Beberapa kali nada Soekarwo terdengar lirih menunjukkan keharuan yang luar biasa. “Saya mohon pamit sebagai Gubernur tapi tidak pernah putus dalam pertemanan kita,” tutup Soekarwo.
Rencana Sertijab
Tiga hari menjelang pelantikan Gubernur dan Wagub Jatim terpilih, Khofifah Indar Parawansa dan Emil Elistianto Dardak bersama Soekarwo selaku Gubernur Jatim yang akan segera purna tugas pada 12 Februari 2019 melakukan silaturahim ke kantor DPRD Jatim. Mereka bertemu dengan pimpinan dewan dan ketua-ketua fraksi yang ada di DPRD Jatim pada Minggu (10/2) malam.
Pertemuan tertutup itu berlangsung di ruang VIP DPRD Jatim berlangsung penuh dengan kekeluargaan mulai pukul 20.00 WIB – 22.30 WIB. Sedangkan inti dari silaturrahim adalah mempertemukan antara Gubernur Jatim yang akan dilantik dengan yang akan diganti. Banyak hal yang dibahas dalam pertemuan sekitar 1,5 jam itu.
“Ini sama saja dengan ta’aruf menyongsong pelantikan Gubernur Jatim yang akan dilantik dengan yang akan diganti. Sebab DPRD Jatim punya kepentingan untuk itu,” ujar Ketua DPRD Jatim, Abdul Halim Iskandar saat dikonfirmasi di kantor DPRD Jatim, Senin (11/2/2019).
Lebih jauh Ketua DPW PKB Jatim itu menjelaskan, selain dengan pimpinan dewan, pertemuan malam itu juga sengaja melibatkan ketua-ketua fraksi. Alasannya, keputusan politik di DPRD Jatim itu sejatinya ada di tangan fraksi-fraksi. “Sudah disepakati Banmus DPRD Jatim bahwa paripurna tentang sertijab dan penyampaian visi-misi Gubernur Jatim baru akan dilaksanakan Senin (18/2) mendatang,” ujar politisi asal Jombang ini.
Dijelaskan Gus Nanang sapaan akrab Abdul Halim Iskandar, jadwal sertijab awalnya ada dua yakni 18 Februari atau 20 Februari. Namun pada 20 Februari Pakde Karwo tidak bisa hadir karena bersamaan dengan penyerahan Ketua APPSI (Asosiasi Pemerintah Provinsi Seluruh Indonesia), sehingga diputuskan pada Senin (18/2) depan. “Jadi pelantikan di istana negara 13 Februari, lalu 18 Februari serah terima jabatan di DPRD Jatim,” paparnya.
Faksi Jatim
Sementara itu, Wakil ketua DPRD Jatim, Tjutjuk Sunario mengatakan bahwa inti pertemuan tadi malam adalah berharap faksi Jatim yang selama ini ikut mengawal pemerintahan Pakde Karwo sapaan akrab Soekarwo dan Gus Ipul sapaan akrab Wagub Jatim bisa dipertahankan dan dilanjutkan di era kepemimpinan Khofifah-Emil lima tahun ke depan.
“Di DPRD Jatim itu yang ada adalah faksi Jatim sebab fraksi-fraksi yang ada di DPRD Jatim lebih mengutamakan kepentingan Jatim daripada kepentingan kelompok dalam pengambilan keputusan politik. Dan Khofifah juga setuju untuk dipertahankan,” tegas politisi asal Partai Gerindra.
Pimpinan DPRD Jatim, kata Tjutjuk juga diundang pelantikan Gubernur dan Wakil Gubernur Jatim terpilih di istana Jakarta pada Rabu (13/2) besok. Namun yang sudah memastikan hadir adalah ketua DPRD Jatim Abdul Halim Iskandar.
Pesan untuk Khofifah
Sementara itu, Gubernur Soekarwo berpesan kepada Gubernur dan Wagub Jawa timur yang baru untuk terus menjaga nilai-nilai yang selama ini sudah dimiliki masyarakat Jawa Timur. Salah satunya Jatim ini masyarakatnya open minded cara berpikirnya tebuka dan kekerabatan tinggi. “Itu modal dasar bagi para pemimpiunan untuk membangun Jawa Timur dan hal itu sudah terimplementasi dengan pemimpin jawa timur yang dulu,” jelas Soekarwo.
Selama ini, pemerintah provinsi dan juga DPRD selalu mengedepankan kepentingan masyarakat. Tidak ada yang melebihi kepentingan masyarakat sehingga membuat faksi Jawa Timur untuk kepentingan jawa timur. Ideologi Pancasila selalu ternamam didalam keseharian para pemimpin serta masyarakat. Selama sepuluh tahun pemerintahan Jatim (Eksekutif dan legislatif) tidak pernah voting dalam mengambil keputusan antara DPRD. Hal ini adalah satu fenomena luar biasa terhadap kematangan DPRD dan masyarakat karena itu representasi dari dapil yang kemudian menjadi perilaku politik. “Inilah monumental yang sudah terwujud dengan baik, bangunan berikutnya adalah kesejahteraan masyarakat. Semoga nanti (Khofifah-Emil) secara kultural dan alamiah hal-hal yang demikian ini terus terjalin dengan baik,” pungkasnya. n