•   Minggu, 23 Februari 2020
Kediri

Tiap Hari Puluhan Warga Trisulo Kediri Terkena ISPA

( words)
Puluhan warga Desa Wonorejo Trisulo Kabupaten Kediri saat melurug Kantor Desa setempat. FOTO : SP/DUCHANG.


SURABAYAPAGI.com, Kediri - Akibat dijadikan jalur truk pasir hingga mengakibatkan debu, puluhan warga Desa Wonorejo Trisulo, Kecamatan Plosoklaten, Kabupaten Kediri, tiap hari harus berobat ke Puskesmas lantaran terkena Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA).

Warga setempat merasa sudah tidak tahan dengan polusi debu yang ditimbulkan oleh truk pasir. Akibatnya, Senin (24/9/2018) ratusan warga Desa Wonorejo Trisulo, Kecamatan Plosoklaten, Kabupaten Kediri, meluruk kantor balai desa setempat untuk meminta pemerintah desa menutup akses jalan utama truk pasir.

Masyarakat berbondong-bodong datang ke balai desa. Aksi itu ditemui oleh Kepala Desa Wonorejo Trisulo, Mohamad Mustofa bersama Bhabinkamtibmas dan Babinsa setempat. Mereka kemudian menggelar audiensi bersama Paguyuban Truk Pasir.

Wakil Ketua BPD Wonorejo Trisulo, Edi mengatakan, masyarakat sudah tidak tahan terhadap polusi debu yang terjadi setiap hari. Banyak diantara warga yang jatuh sakit. Mulai batuk, pilek hingga Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA). Penyebabnya jalur truk pasir tersebut menimbulkan debu hingga masuk kerumah warga. Ditambah, aktifitas truk pasir tersebut juga mengganggu anak-anak saat berangkat sekolah.

"Kedatangan kami kemari sebenarnya membantu Pemerintah Desa Wonorejo Trisulo untuk segera menyelesaikan masalah ini. Kami sepakat menolak truk pengangkut pasir melintasi jalan utama. Kami juga meminta agar pembangunan jalan ini segera dipercepat agar polusi debu ini segera berakhir. Saat ini sedikitnya sudah 23 warga yang terkena ISPA," kata Edi saat audiensi di balai desa.

Dalam audiensi ini sejumlah tokoh masyarakat mengajukan protes dan usulan. Mayoritas mereka menolak apabila jalan utama dilalui truk pasir. Bahkan, ada yang meminta agar jalan ditutup untuk truk pasir yang sehari-hari melintas kurang lebih 400 unit.

Ditambahkan Edi, selain menyebabkan debu, truk pasir juga mengabaikan kondisi lingkungan dan kesehatan warganya. “Mereka hanya menyirami jalan menggunakan air. Dalam cuaca panas terik seperti ini, penyemprotan itu tidak sebanding. Belum lama disemprot, jalanan sudah kering dan berdebu kembali,” terus Edi.

Sementara itu, Kepala Desa Wonorejo Trisulo, Mohamad Mustofa mengaku, selama ini pihaknya terus mendapatkan keluhan dari masyarakat yang merasa terganggu akibat polusi debu dari truk pasir. Ditambah lagi pelaksanaan proyek jalan yang tidak kunjung selesai.

“Dalam pertemuan ini, warga mempertanyakan kelanjutan pembangunan jalan kapan, karena efeknya sangat mengganggu. Mulai ada yang batuk dan penyakit dalam. Ada beberapa warga yang meminta untuk jalan ini ditutup, tetapi itu tidak mungkin,” tegas Mohamad Mustofa.

Pertemuan tersebut membuahkan beberapa poin. Pemerintah Desa Wonorejo Trisulo melarang truk pasir beroperasi di jalur utama, tetapi akan dialihkan ke jalur alternatif. Pemerintah desa juga akan mempertanyakan ke lembaga diatasnya terkait kelanjutan proyek pembangunan jalan.

Diberitakan sebelumnya, warga Desa Wonorejo Trisulo mengeluhkan polusi debu yang ditimbulkan oleh truk pasir yang melintasi jalan desa. Jalan yang rusak dan kini proses pembangunan dilintasi ratusan truk membawa material pasir dari tambang setiap harinya. Banyak warga yang tidak berani keluar rumah karena debu. Bahkan, ada beberapa diantara mereka yang jatuh sakit saluran pernafasan. Can

Berita Populer