•   Kamis, 20 Februari 2020
Internasional

Tiongkok Tuduh AS 'Bermental Perang Dingin'

( words)


SURABAYAPAGI.COM, Beijing - Tiongkok mendesak Amerika Serikat (AS) menghentikan "mentalitas Perang Dingin" terkait kebijakan nuklir. Desakan muncul setelah Washington berencana melakukan diversifikasi senjata nuklirnya dengan bom-bom yang lebih kecil.

"Negara yang memiliki gudang senjata nuklir terbesar di dunia harus mengambil inisiatif untuk mengikuti tren, bukan justru sebaliknya," kata Kementerian Pertahanan Tiongkok, seperti dikutip BBC, Minggu 4 Februari 2018.
Militer AS memandang senjata nuklirnya saat ini terlalu besar untuk digunakan, sehingga akan dipecah menjadi bom-bom kecil.

Rusia telah mengecam rencana tersebut. Sementara Iran menilai rencana AS itu semakin mendekatkan dunia ke era kehancuran.

AS khawatir mengenai persenjataan nuklirnya akan menjadi usang karena tidak digunakan. Jika sudah usang, maka nuklir tersebut tidak akan berfungsi efektif sebagai pencegah konflik.

Dokumen Kemenhan AS atau Pentagon yang dirilis pada Jumat 2 Februari 2018, bertajuk Nuclear Posture Review (NPR), membahas pengembangan senjata nuklir yang lebih kecil. Bom kecil dengan daya rendah di bawah 20 kiloton tidaklah terlalu kuat, namun masih tetap dapat menghancurkan.

Mental Perang Dingin

Kebijakan tersebut juga mengusulkan beberapa hal seperti rudal balistik berbasis darat, rudal yang diluncurkan oleh kapal selam, dan senjata yang diluncurkan di udara.

Tiongkok menegaskan pihaknya menentang kajian Pentagon tersebut. Kemenhan Tiongkok mengatakan AS menuduh persenjataan nuklir Tiongkok dapat mengancam perdamaian, padahal hanya bersifat defensif.

"Kami berharap AS akan meninggalkan mentalitas Perang Dingin," ujar Kemenhan Tiongkok.

Dalam dokumen NPR, AS menuduh Tiongkok "memperluas kekuatan nuklirnya yang saat ini sudah cukup besar."

Namun Tiongkok membela diri dengan mengatakan pihaknya akan "secara tegas berpegang teguh pada perdamaian dan menjalankan kebijakan pertahanan nasional yang bersifat defensif."
(mtr/cr)

Berita Populer