•   Rabu, 18 September 2019
SGML

Unik, Petani Cabai Lamongan Bertanam Berdasar Survey Pasar

( words)
Bupati H Fadeli saat panen cabai di Desa Sukorame Kec Sukorame Kabupaten Lamongan. FOTO: SP/ MUHAJIRIN KASRUN


SURABAYAPAGI.com, Lamongan - Ada yang unik dilakukan oleh petani cabai di Lamongan, tepatnya di Desa Sukorame Kec Sukorame. Di desa yang ada diperbatasan dengan Bojonegoro ini, petani nya punya kebiasaan yang tidak umumnya dilakukan oleh petani lainnya, yakni melakukan survey pasar sebelum menanam cabai. Hal itu disampaikan oleh Kades Sukorame Anton Susilo saat panen raya cabai di Desanya dan dihadiri oleh Bupati Lamongan H Fadeli.
Disebutkannya, awal mula warga desanya bertani cabai dari survey sederhana di pasar kecamatan setempat. “Kami survey dulu, komoditas apa yang paling laku di pasar, kapan komoditas itu paling banyak dibutuhkan dan apa jenisnya. Dari situlah awal mula petani Desa Sukorame mulai menanam cabai merah, “ uarai dia.
Dari survey tersebut, lanjutnya, produksi cabai mereka selalu bisa diserap pasar dengan harga yang layak. Karena jadwal tanam mereka disesuaikan dengan jadwal pasar biasa membutuhkan cabai besar.
Selain itu, tanah di desanya rupanya cocok untuk budidaya cabai besar, sehingga produksinya melimpah.
Di setiap lahan seluas 1 hektare, produktivitasnya mencapai 1 hingga 1,5 ton perhektare dalam sekali panen. Sementara dalam satu kali siklus tanam, mereka bisa panen hingga sepuluh kali.
Bupati Fadeli saat panen raya cabai besar di Desa Sukorame mengaku takjub dengan ketelatenan petani Sukorame. Sehingga ketika daerah pertanian lain belum bisa berproduksi, petani Sukorame masih bisa panen cabai besar.
Terlebih pemerintah saat ini memang sedang mendorong petani untuk membudidayakan holtikultura seperti cabai. Karena komoditas ini bisa menjadi penahan laju inflasi di daerah.
Terkait tengkulak yang terkadang meminta cabai yang masih berwarna hijau ke petani, menurut dia itu tidak masalah. Karena petani masih tetap mendapatkan keuntungan.
Dalam kondisi hijau, cabai besar dari petani dihargai Rp 11 ribu perkilogram. Sedangkan jika dalam kondisi merah, harganya bisa mencapai Rp 16 ribu perkilogram.
Namun dengan memanen cabai besar dalam kondisi hijau, petani bisa menambah intensitas panen. Karena untuk cabai bisa sampai berwarna merah, dibutuhkan waktu satu bulan.
Budidaya cabai besar ini berpeluang meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dengan produktivitas 1,5 ton perhektare, harga Rp 11 ribu perkilogram untuk cabai besar hijau dan bisa dipanen hingga sepuluh kali, maka omzet petani dalam setiap hektarnya bisa mencapai Rp 165 juta. jir

Berita Populer