Untuk Ibadah sampai Penggalangan Dana

Vihara Dhammadipa di Pandegiling, Surabaya

Bagi umat Buddha yang ada di Surabaya tentu tak asing dengan Vihara Dhammadipa yang berlokasi di Jalan Pandegiling. Namun siapa sangka jika Vihara ini dulunya bernama Cetya Karunadipa. Konon ceritanya, dahulu sekumpulan umat Buddha yang berkumpul bersama membentuk Cetya yang bernama Cetya Karunadipa.
Wartawan SurabayaPagi, Indra

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya -Seiring waktu berjalan, makin banyak umat yang berkumpul sehingga tempat yang ada kurang memadai. Lalu mereka membuat arisan dengan tujuan menggalang dana. Setelah dana cukup, dibelilah tempat di jalan Pandegiling sebagai tempat Cetya Karunadipa yang baru. Dan pada 7 Januari 1993 berganti nama jadi Vihara Dhammadipa yang merupakan cabang dari Vihara Dhammadipa Arama yang ada di kota Batu, Malang.

Februari 2005 Vihara ini direnovasi total yang sebelumnya lebih terlihat seperti toko, menjadi sesuai standart Vihara meliputi beberapa kuti, ruang untuk sekolah Minggu, Dhammasala yang lebih luas, serta aula serbaguna. Tujuannya agar semua kegiatan rutin yang dilakukan bisa terlaksana lebih baik. Kapasitas untuk menampung orang di Vihara ini sekitar 200 an orang.

Pembina Karakasabha Vihara Dhammadipa, Tjioe Winata Tjokro mengatakan, untuk kegiatan-kegiatan rutinnya antara lain, hari Selasa ada kegiatan meditasi pada jam 19.00-21.00 kemudian hari Rabu kegiatananya perkumpulan lansia antara jam 13.00-16.00. Semantara, untuk hari Minggu ada Puja Bhakti jam 09.00-12.00.

"Selain Puja Bakti, kami juga ada sekolah minggu jam 09.00 pagi. Namanya Sun School Dhammadipa," katanya.

Vihara Dhammadipa ini bernaung di aliran Buddhisme Theravada. Di Surabaya terdapat lima Vihara yakni Vihara Dhammadipa, Dhamma Jaya, Buddha Kirti, Eka Dharmaloka, dan Berkah Utama.

"Kita sebagai Vihara ya melayani umat. Jadi semua umat, semua komponen-komponen dan majelis yang tergabung dalam organisasi-organisasi, untuk melakukan kegiatan ya di Vihara ini," tambahnya.

Keluarga Buddhis Teravada Indonesia termasuk Vihara Dhammadipa tergabung dalam lima organisasi para Bhikkhu yaitu Sangha Theravada Indonesia (STI), Majelis Agama Buddha Theravada Indonesia (MAGABUDHI), Wanita Theravada Indonesia (WANDANI), Pemuda Theravada Indonesia (PATRIA), dan yang paling baru yakni Atthasilani Theravada Indonesia (ASTINDA).

Lebih lanjut, Winata mengatakan sebagian besar yang beribadah di Vihara ini adalah mahasiswa dari luar Surabaya yang dulunya kuliah disitu. "Bisa dihitung dengan jari kalau orang Surabaya asli. Kebanyakan adalah mahasiswa luar pulau seperti dari Toli toli Sulawesi dan Kalimantan," katanya.

Selain kegiatan keagamaan, di Vihara Dhammadipa ini juga mengadakan acara bakti sosial tiap akhir bulan yakni Akupuntur dan pelepasan makhluk hidup atau Fangshen berupa lele, ikan, burung, dan jangkrik. "Biasanya dilakukan di Monkasel (monumen kapal selam) Gunung Sari, dan di Taman Bambu Keputih," tegasnya.

Baksos rutin tiap bulan yakni akupuntur dilakukan di dalam Vihara. Sedangkan baksos umum setiap setahun sekali biasanya basar murah dan pengobatan bagi warga sekitar berupa pemeriksaan kesehatan, cek darah, dan memberikan obat-obatan gratis.

"Ada juga baksos yang agak periodik tapi tidak tentu, kita biasa mengadakan kantong-kantong umat Buddha yang ada di Banyuwangi dan Blitar, Jawa Timur," tutup Winata.indra