•   Jumat, 3 April 2020
Hukum & Pengadilan

Vonis ASN Kasus Rasisme Terlalu Ringan

( words)
Bentuk ulah rasisme


SURABAYAPAGI.COM, - Mahasiswa Papua di Surabaya yang menjadi sasaran ujaran rasisme menilai hukuman lima bulan penjara yang dijatuhkan kepada terdakwa Syamsul Arifin terlalu ringan.


Hal itu diungkapkan langsung oleh Yoab Orlando, salah satu penghuni Asrama Mahasiswa Papua di Jalan Kalasan Surabaya. Asrama itu dikepung oleh ratusan orang dari ormas dan oknum aparat pada Agustus 2019.


Yoab menilai hukuman lima bulan itu terbilang singkat, apalagi Syamsul diperkirakan akan bebas karena sebagian besar hukuman dipotong masa penahanan selama proses persidangan. Hukuman itu, kata Yoab, berbanding terbalik dengan hukuman yang mengancam sejumlah aktivis dan masyarakat Papua yang memprotes aksi rasisme tersebut.



Ia pun mempertanyakan mengapa yang dihukum hanyalah Syamsul. Ia ingat betul ada pula oknum aparat yang terlibat melakukan ujaran rasisme ke Mahasiswa Papua. Hal itu kata dia juga terekam jelas dalam bukti video yang beredar.


Yoab pesimis oknum aparat tersebut akan ditindak secara hukum. Menurutnya, sama halnya seperti kasus pelanggaran hak asasi manusia (HAM) di Papua yang hingga kini belum juga tuntas. Sebelumnya, Syamsul Arifin, oknum aparatur sipil negara (ASN) terdakwa aksi rasial saat insiden Asrama Mahasiswa Papua di Surabaya, dijatuhi hukuman lima bulan penjara.


Putusan Syamsul, dibacakan langsung oleh Hakim Ketua Yohanes Hehamony menjatuhkan hukuman kepada Syamsul lima bulan penjara. Sidang vonis itu digelar di Ruang Garuda 2, Pengadilan Negeri (PN) Kota Surabaya, Kamis (30/1).


Majelis hakim menilai Syamsul secara sah dan meyakinkan bersalah melanggar Pasal 16 UU RI Nomor 40 Tahun 2008 Tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis.


Hakim menilai ada hal yang meringankan terdakwa yakni Syamsul telah mengakui perbuatannya, ia juga belum pernah dipenjara atau tak terlibat pidana apapun sebelum kasus ini. Sementara pertimbangan memberatkan perbuatan Syamsul dinilai telah meresahkan masyarakat.


Putusan tersebut diketahui lebih ringan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) pada sidang sebelumnya, di mana Syamsul dituntut bui selama delapan bulan penjara. Dengan putusan ini, Syamsul juga akan segera memperoleh kebebasan, sebab jika dihitung masa tahanan yang telah dijalaninya, ia akan keluar dari Rutan Klas I Surabaya, Medaeng Sidoarjo tepat pada hari ini.

Berita Populer