Warga Kota Bandel, PSBB 3 Mengancam

Pengendara sepeda motor maupun roda empat memenuhi jalan Raya Pacuan Kuda, Surabaya, Minggu (17/5/2020) sore. Foto: SP/Patrik Cahyo

SURABAYA PAGI, Surabaya – Hingga hari ke-20 pelaksanaan PSBB baik jilid 1 dan jilid 2, kota Surabaya masih ramai dan padat. Bahkan, tak terlihat bila sedang dilakukannya pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

Apalagi, hingga Minggu (17/5/2020) kemarin, total kasus positif di Jawa Timur melonjak 62 kasus baru, terbanyak (lagi-lagi) Surabaya, dengan 24 pasien. Jadi total di Surabaya mencapai 1.059 kasus. Alhasil, dengan kondisi fakta yang terjadi dan perilaku warga Surabaya tak disiplin jaga jarak, bakal ada PSBB jilid 3. 

Pernyataan dilontarkan sejumlah dokter di RS Universitas Airlangga (RSUA), dr Alfian Nur Rosyid, Guru Besar Ilmu Komunikasi Universitas Dr Soetomo (Unitomo) Prof Sam Abede Pareno, tokoh masyarakat yang juga ekonom Unair Dr. Tjuk Sukiadi, tokoh Muhammadiyah Surabaya, serta pakar psikologi sosial dari Unair yang dihubungi terpisah Surabaya Pagi, Minggu (17/5/2020).

Sekretaris Satgas Covid-19 Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA), dr. Alfian Nur Rosyid memprediksi adanya kemungkinan PSBB Surabaya Raya Jilid 3 dengan strategi yang lebih ketat dan adanya sanksi yang lebih tegas bagi pelanggar.

"Saat ini masih banyak kasus terkait covid yang datang perlu perawatan di RS. Artinya kasus penularan di masyarakat masih banyak, mungkin sekali berhubungan dengan kurang ketatnya PSBB itu sendiri. Karena faktanya warga masih berjalan normal seperti biasanya," ujar dr. Alfian saat dihubungi Surabaya Pagi pada Minggu (17/5/2020) dr. Alfian mengatakan dirinya pribadi juga kurang yakin bila jumlah kasus akan menurun pada bulan Juni.

Apalagi, adanya pelonggaran PSBB seperti dibolehkannya mudik dengan syarat tertentu. "Upaya pencegahan harus lebih ketat jika PSBB dilonggarkan," kata dr. Alfian Lebih lanjut, Sekretaris satgas Covid-19 Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA) ini menjelaskan, indikator untuk melihat penurunan kasus dapat dilihat melalui semakin sedikitnya pasien Covid-19 yang datang ke rumah sakit rujukan.

"Bila pasien terduga Covid-19 masih banyak, ini indikator sederhana bahwa negara kita belum sampai pada peak atau puncak pandemi," jelas dr Alfian. Dirinya mengakui bahwa penerapan PSBB masih kurang efektif. Masyarakat juga belum teredukasi dan menyadari dengan baik tentang pencegahan transmisi akan menurunkan kasus Covid-19.

"Banyak yang tidak mengetahui bahkan cuek, bandel dengan himbauan tersebut. Perlu ketegasan, agar masyarakat patuh dan ikut berperan aktif bersama pemerintah dalam mengatasi Covid-19," katanya.

 

Butuh Ketegasan dan Konsistensi Pemerintah

Terkait akan diperpanjang atau tidak, menurut Guru Besar Ilmu Komunikasi Unitomo, Sam Abede Pareno harus ada tindakan yang konsisten pada pemerintah dalam menangani Covid-19 ini.

"Diperpanjang atau tidaknya tergantung pada konsistensi pemerintah. Kalau melihat kondisi saat ini, nampaknya masih layak dilanjutkan. Tapi, pemerintah nampaknya tidak sabar, ingin buru-buru melonggarkan PSBB," ujar Sam Abede Pareno saat dihubungi Surabaya Pagi pada Minggu (17/5/2020).

Sam Abede mengatakan inkonsistensi pemerintah dalam mengeluarkan kebijakan juga mempengaruhi efektivitas sosialisasi. Dirinya juga mengatakan hal ini lah yang berpengaruh terhadap ketidakpatuhan masyarakat saat melaksanakan PSBB Surabaya Raya. "Ketika terbentur dengan tradisi, misalnya mudik, pemerintah gamang sehingga muncul pembedaan antara mudik dan pulang kampung padahal sami mawon," katanya.

Dirinya juga mengatakan bahwa selain membutuhkan konsistensi, maka dibutuhkan ketegasan dari pemerintah dalam setiap langkah yang dilakukan agar penerapan aturan di masyarakat bisa berjalan lebih efektif.

 

Perpanjangan, Harus Dihindari

Sementara itu, ekonom Universitas Airlangga, Tjuk Sukiadi dengan fakta yang ada saat ini, menilai, perpanjangan PSBB Surabaya Raya jilid 3 bukan tidak mungkin terjadi. Namun menurutnya, itu harus dihindari.

"Perpanjangan ini harus dihindari. Kasihan masyarakatnya. Karena itu sama saja dengan mengorbankan ekonomi makro di wilayah tersebut," ujar Tjuk Sukiadi saat dihubungi oleh Surabaya Pagi pada Minggu (17/5/2020).

Menurutnya masing-masing kepala daerah baik itu tingkat kabupaten / kota, maupun provinsi harusnya mampu berpikir sebagai penanggung jawab ekonomi masyarakat. Jika sampai masa pelaksanaan PSBB diperpanjang terus, maka itu sama saja dengan mempertaruhkan kondisi ekonomi dari masyarakat di wilayah tersebut.

Tjuk juga mengatakan bahwa pemerintah juga harus melakukan pendekatan sosial dan budaya yang lebih fungsional, proporsional dan akurat dalam menerapkan PSBB. Hal ini juga harus dipahami hingga struktur kepemimpinan wilayah paling rendah yaitu RT / RW.

"Fungsional, proporsional dan akurat ini artinya petugas atau aparat harus lebih disiplin lagi masuk ke dalam kampung-kampung atau wilayah sempit. Buat apa jika yang diperiksa hanya jalan raya dan jalan tol saja tetapi kondisi di wilayah kampung masih sama saja seperti tidak ada Covid-19?" Tegas Tjuk.

Dirinya juga menambahkan bahwa kegotong royongan memang diperlukan untuk menuntaskan pandemi Covid-19. Namun sebuah kontrol dari pemerintah lebih diperlukan dalam memastikan kegotong royongan tersebut bisa diterapkan lebih disiplin dan efektif.

Dari data terbaru yang dihimpun Surabaya Pagi, Minggu (17/5/2020), Kasus positif Covid-19 di Jawa Timur bertambah sebanyak 62 pasien. Kini, total pasien yang terkonfirmasi positif menembus angka 2.150 orang. Dari total kasus tersebut, 1.593 pasien masih menjalani perawatan.

Tambahan 62 pasien positif Corona ini terbanyak yakni 24 pasien dari Surabaya, 4 pasien dari Sidoarjo, 2 dari Gresik, 2 pasien dari Bangkalan, 1 dari Kabupaten Mojokerto, 1 dari Tulungagung, 1 dari Kabupaten Pasuruan. Ada pula tambahan kasus 1 orang positif dari Jombang, 1 pasien dari Banyuwangi, 1 dari Kabupaten Kediri, dan 3 pasien positif corona dari Kabupaten Magetan, 6 dari Tuban, 1 dari Kabupaten Probolinggo, 6 dari Jember, 9 ABK Kapal.

Selain itu, ada kabar baik dalam penanganan COVID-19 di Jatim. Tercatat ada tambahan 25 pasien yang dinyatakan sembuh. Rinciannya yakni 1 Kota Probolinggo, 6 dari Lamongan, 2 pasien dari Gresik, 11 dari Kabupaten Probolinggo, 1 pasien sembuh asal Pacitan dan 4 dari Surabaya. Kini, total pasien di Jatim yang telah dinyatakan sembuh ada 337 orang atau tingkat kesembuhannya mencapai 15,67 persen. adt/byt/rmc