Warga Pertanyakan Fungsi Box Culvert Mayjen Sungkono

Gambar visual by SP

Ada Pemasangan “Beton Cor” Depan Ciputra World, Masih Banjir dan Malah Lalu Lintas Tambah Macet

Pada awal musim kemarau ini, Selasa malam Surabaya masih diguyur hujan deras. Hujan “dadakan” ini terganggu gelombang Rossby di laut Jawa. Anehnya titik-titik pelanggan banjir di Surabaya, masih digenangi banjir. Termasuk Jalan Mayjen Sungkono. Tim wartawan Surabaya Pagi melakukan penelusuran di lokasi banjir, wawancarai warga, Pemkot Surabaya dan wakil rakyat di DPRD Surabaya. Ada tiga angle liputan, di halaman utama ini.

 

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Hujan deras yang mengguyur kota Surabaya, Selasa (11/8/2020) saat musim kemarau ternyata masih menyisakan genangan air alias banjir di beberapa titik langganan banjir di Surabaya. Beberapa titik lokasi yang terdampak banjir, seperti di Jalan Mayjen Sungkono Surabaya, Ahmad Yani depan RSI Surabaya. Namun, yang paling parah menjadi langganan di Mayjend Sungkono, dikarenakan ada proyek box culvert yang masih mangkrak hampir 3 bulan lebih. Alhasil, selain banjir, box culvert itu mengganggu pengguna jalan dan warga sekitar.

 Dari pantauan Surabaya Pagi di sepanjang jalan Mayjend Sungkono, Rabu (12/8/2020) kemarin, pemasangan box culvert yang seharusnya bertujuan untuk mengantisipasi adanya banjir di kawasan Jalan Raya Mayjen Sungkono ini, ternyata belum membuahkan hasil. Bahkan, kemacetan lalu lintas pun sering memadati saat pagi hari dan sore hari saat pulang jam kerja.

 Rohman (37), warga sekitar Jalan Raya Mayjen Sungkono ini mengatakan, proyek pemasangan box culvert seharusnya berjalan cepat, sehingga bisa mengantisipasi datangnya banjir di musim penghujan.

"Harusnya box culvert ini bisa mengatasi banjir yaah. Apalagi Mayjend Sungkono jadi langganan. Tapi apa yang terlihat tidak sesuai, masih tergenang banjir karena pemasangan box culvert bisa dibilang sangat lamban. Selain itu kemacetan semakin terlihat di pagi dan sore hari. Soalnya box culvert, batu dan pasir di jajar di samping jalan raya," ujar Rohman saat ditemui Surabaya Pagi, Rabu (12/8/2020) di pinggir Komplek Darmo Park II.

Tak hanya Rohman, Gunawan (42), juga mengeluhkan box culvert yang tak kunjung selesai. Bahkan ia mempertanyakan, rencana pembangunannya beton cor yang digunakan gorong-gorong saluran air itu tidak terencana. “Dari tahun ke tahun, saya lewat sini, selalu ada proyek box culvert. Apa setiap tahun harus diganti? Tiap tahun diganti yah sama aja, disini (Mayjend, red) tetap banjir. Ini khan mubadzir. Masa bu Risma gak ngerti yaa,” celetuk Gunawan, yang ditemui Surabaya Pagi, di Park and Ride Mayjend Sungkono, Rabu (12/8/2020).

Hal serupa juga terjadi di Jalan Raya  Kedungdoro. Riyadi (33), Pedagang kaki lima yang sudah 7 tahun berjualan di sepanjang jalan ini menuturkan, adanya box culvert yang di jajar di sepanjang jalan tersebut mengganggu aktifitas pemilik usaha dan perkantoran di kawasan tersebut.

"Oh ini yang dinamakan box culvert ta mas, saya kalau sebut beton cor. Yang taruh box culvert disini ngawur, selain membahayakan pengguna jalan, adanya box culvert ini menganggu pemilik usaha darah sini. Banyak yang sambat mas, tapi bagaimana lagi kami wong cilik, isinya di sepelehkan tok," jelasnya dengan raut emosi.

 

Risma Langsung Turun Tangan

Sementara, melihat Surabaya diguyur hujan deras dalam dua hari terakhir, membuat Wali Kota Surabaya beserta jajarannya bergerak cepat. Bahkan, kritikan DPRD terkait proyek box culvert mulai direspon. Namun, sayangnya, Pemkot Surabaya Rabu (12/8/2020) masih belum menyentuh box culvert di Mayjend Sungkono.

Wali Kota Tri Rismaharini, Rabu kemarin hanya meninjau saluran bozem existing di Bintang Diponggo, komplek belakang Ciputra World Surabaya. Hal ini akan dimaksimalkan dalam mengatasi genangan di Mayjen Sungkono.

Sebelum menuju ke Bintang Diponggo, Risma dan jajaran Dinas PU Bina Marga dan Pematusan juga meninjau di sisi timur Taman Makam Pahlawan (TMP) Mayjend Sungkono. Di tempat tersebut, ia meminta jajaran Dinas PUBMP untuk melakukan pengerukan dan membuat semacam tampungan atau bozem. “Nanti di sini dijebol aja supaya lebih rendah,” kata Walikota Surabaya.

Selanjutnya, ia menuju sisi barat Taman Makam Pahlawan. Ia pun menunjukkan lokasi kosong yang bisa dibuat tampungan atau bozem demi mengatasi genangan.  “Nanti di sini bisa digali juga untuk membuat tampungan itu,” ujar Risma.

Kemudian ia meninjau Jalan Pakis Tirtosari yang posisinya lebih tinggi dibanding Jalan Mayjen Sungkono. Di tempat tersebut, ia meminta jajarannya untuk membuat saluran bawah tanah yang dapat menahan air, sehingga air tersebut tidak turun ke kawasan Mayjen Sungkono. “Jadi, teorinya air jangan diturunkan ke bawah, tapi di tahan di sini. Nanti dibuat saluran bawah tanah aja, intinya nanti air tidak turun ke bawah,” tegasnya.

 

Pelebaran Bozem

Sementara itu, Kepala Dinas PU Bina Marga dan Pematusan Erna Purnawati mengatakan berdasarkan arahan Wali Kota Risma, nanti pihaknya akan membuat tampungan atau bozem di Taman Makam Pahlawan, tepatnya di sisi barat dan sisi timur.

“Jadi, nanti kami akan membuat tampungan atau bozem di Taman Makam Pahlawan sisi timur dan sisi barat yang terkoneksi dengan saluran pedestrian, sehingga nantinya air tidak langsung turun ke Mayjen Sungkono,” kata Erna.

Selain itu, Erna memastikan bahwa nantinya di kawasan Bintang Diponggo bozem existing akan lebih dimaksimalkan, karena nanti di situ akan ada pengerukan dan pelebaran bozem. Bahkan, nantinya beberapa pohon besar di kawasan tersebut akan dipindahkan. “Jadi, bozem-bozem existing di kawasan Bintang Diponggo akan keruk dan diperlebar. Bahkan, nanti kami akan membuat crosing-crosing yang tersambung dengan bozem existing,” pungkasnya.

Setelah dari kawasan Mayjen Sungkono, Walikota Surabaya beserta jajarannya meninjau saluran Kalibokor yang saat ini terus dilakukan pengerukan. Ia juga sempat memberikan arahan terkait dengan beberapa lokasi yang harus dikeruk maksimal supaya aliran airnya lancar.

 

Bukan Banjir

Sedangkan, Kepala Bidang Kebersihan Dinas Kebersihan dan Ruang Terbuka Hijau (DKRTH) Kota Surabaya, Arif Rusman menyebut, beberapa genangan yang terjadi curah hujan tinggi Selasa (11/8/2020) bukan banjir. Dikarenakan hujan ini bukan terjadi saat musim hujan, tetapi musim kemarau.  “Itu bukanlah banjir. Jadi kami tidak mengantisipasi banjir, tetapi mengantisipasi musim hujan,” ucap Arif, kepada Surabaya Pagi, kemarin.

Ia berpendapat bila banjir yang terjadi pada Selasa (11/08/20) malam adalan antrian air untuk memasuki saluran tertentu. "Di Surabaya itu cuma air ngantri masuk saluran, jadi bukan banjir. Kalau banjirkan berhari-hari. Nah ini kan satu jam sudah surut," terangnya.

Ia juga mengatakan bila dalam sehari untuk satu wilayah dapat membersihkan sekitar 9 ton.  "Setiap hari satgas itu membersihakan saluran-saluran, contoh dalam sehari di wilayah Soal Barat (red) kami bisa membersihkan sekitar 9,7 ton.  Itu macam-macam karena setiap hari berubah-berubah," pungkasnya.

Arif menegaskan bila setiap harinya, seluruh satgas saluran DKRTH memiliki rutinitas untuk melakukan pembersihan pada saluran-saluran air, sebgai antisipasi mejelang musim hujan. tyn/byt/alq/cr2/rmc