Whisnu-Eri, Bila benar Hasil Rekomendasi PDIP, Risma Ambyar....

Catatan Dr. H. Tatang Istiawan

Catatan: Dr. H. Tatang Istiawan

 

Akhir pekan lalu, beredar kabar di media sosial soal pasanganwawali-cawawali Kota Surabaya. Dikabarkan, PDI Perjuanganhampir pasti akan memberikan rekomendasi pada Whisnu Sakti Buana. Whisnu akan dipasangkan dengan Eri Cahyadi, KepalaBapeko Surabaya. Keputusan ini ditulis sudah final dan tinggalmenuangkannya dalam selembar kertas rekomendasi untukdibawa ke KPU Surabaya.

Sekiranya kabar ini akan menjadi kenyataan, ambisi Risma, berpolitik praktis di Surabaya, ambyar.

Dalam bahasa jawa, perasaan Risma bisa remuk, bercerai berai. Karir politiknya bisa habis berkeping-keping.

Harapan Risma terus berkuasa di Surabaya ambyar ini pastiterdengar sampai ke telinga anak muda yang mencapai 50% lebih pemilih Surabaya.

Bila kabar ini fix, Risma bisa tidak terkonsentrasi lagi ngurusPilwali Surabaya. Bisa ditebak, meski Eri, jagonya “dicangking” Whisnu Sakti dalam Pilkada, Risma akan menggelondongkan

Secara cul-culan. Artinya Risma, tak mau mendanaikampanyenya. Termasuk enggan memobilisasi pengusaha untuklogistik Eri Cahyadi, yang ternyata diisukan hanya orang nomordua di Pemkot Surabaya.

Kebenaran kabar ini bila valid, bisa semakin membuat Rismagalau. Artinya, Risma dalam konstelasi Pilkada serentak 2020 ini, kalah telak sejak dini.

Aspek lain, konsep Megawati selalu mendengar suara incumbent dalam menentukan calonnya di Pilkada, bisa bermakna, masukan Risma atas jagonya dientuti putri Bung Karno. Bahasa lain, suara Risma, sudah dianggap busung (kosong) oleh petinggi DPP PDIP.

Sementara bagi Eri Cahyadi, posisi yang hanya maju sebagaicawawali “melorot”. Baliho, brosur dan papan reklame Eri Cahyadi di beberapa sudut jalan di kota Surabaya tak ditanggapipositif oleh ibunda Puan Maharani, ketua DPR-RI.

Secara politik, citra Eri Cahyadi, yang hanya disorongkan hanyacawawali membuka mata publik bahwa power Risma, sudahredup di DPP PDIP. Saya menyebut Eri Cahyadi “melorot” menggunakan sudutpangang perebutan pengaruh di Megawati. Ini menunjukkan, Risma sebagai incumbent tak didengar lagioleh pucuk pimpinan partai banteng monyong putih.

Tapi dari aspek “karir politik” Eri di birokrasi, yang kinimenjabat kepala Bappeko Surabaya justru tidak melorot. Secaraakal sehat Eri Cahyadi, naik jenjang. Ini bila pada tanggal 9 Desember 2020, ia mampu mendulang suara bagikebersamaannya dengan Whisnu Sakti Buana.

Berbeda bila dalam pilihan menjadi cawawali kali ini, Rismayang dikecewakan bisa melakukan harakiri.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) harakiri adalahbentuk bunuh diri seremonial dengan cara menyobek perutdengan pedang pendek. Ini terjadi di Jepang.

Warga Jepang percaya bahwa orang yang melakukan harakiriadalah pemimpin perang yang mengalami kekalahan. Harakiridilukiskan sebagai simbol penyesalannya terhadap prajurit yang sudah gugur dan keluarga yang ditinggalkannya. Apakahmungkin Risma, akan melakukan harakiri atas keterpilihanWhisnu, sebagai wakil PDIP dalam konstetasi Pilkada 2020 ini? Walahualam. Wait and see.

Kita secara politik, tidak ada peristiwa yang tak mungkin. Mari kita tunggu, kabar rekomendasi ini nyata tidak. Bila nyata, Eri Cahyadi, jago Risma, kelak pasti kalah dalam Pilkada serantakSurabaya 2020. Maklum Eri Cahyadi, sampai minggu laludiunggulkan sebagai walikota Surabaya, penerus Risma.

***

Sebaliknya, bila kabar di medsos ini tak terbukti diumumkanoleh PDIP, itu artinya kabar rekomendasi Whisnu-Eri Cahyadihoax.

Kabar seperti ini bisa dianggap ada spekulasi atau psywar darilawan Eri ditubuh PDIP.

Namanya spekulasi tak beda dengan judi. Bisa benar dan bisakalah.

Ini karena spekulasi punya sifat untung-untungan yaitu menebarkabar yang mungkin mendatangkan untung besar. Siapa yang untung besar dengan adanya spekulasi Whisnu-Eri, hasilrekomendasi Ketum DPP PDIP Megawati?

Dalam internal PDIP sudah bisa ditebak Whisnu, yang kiniwawali Surabaya. Whisnu selama menjadi orang kedua Risma, dalam pemerintahan kota Surabaya, menurut kader PDIP, nyaristidak diberi peran yang signifikan sebagai wawali Surabaya. Padahal Whisnu, mantan Ketua DPC PDIP Surabaya. Ia juga anak tokoh gaek PDIP Almarhum Ir. Soetjipto. Dengan jabatandan brand seperti itu, Whisnu punya pendukung di tingkatgrassroot dan logikanya disupor oleh tokoh-tokoh PNI sepuhyang masih hidup.

Sekiranya kabar ini hoax, pasangan yang diwacanakan Whisnu-Eri, tidak akan terwujud. Apalagi selama ini, kasak kusukkompromi antara Risma-Whisnu nyaris tak terdengar ke publik.

Nah, inilah spekulasi politik. Bahkan psywar berupa seranganpropaganda dari lawan-lawan Risma di PDIP.

Pertanyaan politisnya, mengapa rekomendasi Megawati bisajatuh ke tangan Eri yang bukan kader PDIP sendiri. Bila initerjadi, nasib Whisnu bisa mengikuti Purnomo, wawali Solo, yang sudah semangat maju mendaftar pilwali Solo, akhirnya“dihempaskan” oleh Gibran, putra Presiden Jokowi, yang taktercatat sebagai kader di DPC Solo.

Nah, kisah “romantika” di Solo Gibran, bisa terjadi di Surabaya.

Bila Eri, yang mendapat rekomendasi maju di pilkada Surabaya tahun 2020, kader dan simpatisan Whisnu Sakti Buana, bisaditebak tak serta merta menerima.

Maklum, Whisnu, sudah mengeluarkan dana yang tak kecil. Ibarat bisnis online, putra tokoh PDIP, sudah melakukan PO(Pre-Order). Kegiatan Pre-Order Whisnu, selain menyebarbrosur, juga spanduk, reklame umbul-umbul dan baliho se Surabaya. Whisnu malah sudah membentuk puluhan poskopemenangan sampai di kampung - kampung. Sejauh ini, Whisnutelah membentuk relawan-relawan sebagai mesin politiknya.

Gerakan membentuk relawan seperti ini masuk akal, karenaWhisnu masih punya pengaruh di pengurus PDIP tingkatkecamatan. Dengan tidak terpilihnya Whisnu, bukan takmungkin, kader PDIP pro Whisnu, melakukan perlawanan. Salah satu bentuknya mereka akan golput dalam pilkada 2020. Dan ini pasti merugikan hingar binggarnya Risma, membentengiEri Cahyadi.

Bentuk lain, kader dan simpatisan Whisnu, akan mbalelo kecawali Machfud Arifin, mantan Kapolda Jatim yang telahdidukung delapan partai politik. (tatangistiawan@gmail.com)