•   Kamis, 17 Oktober 2019
Ekonomi China

Win-Win Solution, Harapan Semua Pihak atas Riuhnya Perang Dagang

( words)
Presiden Donald Trump duduk berjejer dengan Perdana Menteri Jepang dan Presiden China saat hari pertama KTT G20, Osaka, Jepang SP/Rtr


Kemelut perang dagang antara AS dan China telah berlangsung dalam beberapa bulan terakhir.
Perang dagang ini, telah memberikan dampak ekonomi yang cukup mengganggu di kedua negara tersehut, termasuk juga efek tidak langsung negara lainnya yang berkaitan dagang dengan kedua negara itu.
Ketegangan kedua negara itu tampaknya mulai mencair ketika KTT G20 digelar di Jepang yang mempertemukan kepala negara kedua negara bersitegang itu.
Pada pekan lalu, KTT G20 digelar di Osaka. Perhelatan yang turut dihadiri Presiden Republik Indonesia Joko Widodo (Jokowi) itu digelar di saat tensi perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China sedang memanas.
Namun, hawa sejuk Osaka sukses menghadirkan kesepakatan saat Presiden AS Donald Trump dan Presiden Xi Jinping bernegosiasi. Mengutip pemberitaan di BBC, Sabtu, 29 Juni 2019, dua negara adidaya itu berkomitmen untuk melanjutkan lagi perundingan perdagangan. "Kami mendiskusikan banyak hal dan kami berada di jalur yang tepat. Kita lihat apa yang akan terjadi nanti," ucap Trump.
Perang dagang antara AS dan China yang berlangsung sejak tahun lalu telah memicu kekhawatiran dunia. Maklum, aksi saling balas pengenaan bea masuk atas produk masing-masing negara telah berbuntut ke mana-mana. Salah satu dampak paling nyata adalah penurunan proyeksi pertumbuhan ekonomi global.
Dalam rilis terbaru, Bank Dunia memperkirakan ekonomi dunia hanya tumbuh 2,6 persen pada tahun ini. Sedangkan tahun depan, pertumbuhan ekonomi global diproyeksi 2,7 persen. Perubahan proyeksi itu juga berimbas ke Tanah Air. Bank Dunia meramal ekonomi Indonesia hanya tumbuh 5,1 persen atau lebih rendah dari prediksi sebelumnya 5,2 persen.
Perang dagang juga telah berimbas kepada kebijakan moneter bank sentral di berbagai negara. Satu per satu, bank sentral menurunkan suku bunga acuan dengan harapan mengerek pertumbuhan ekonomi masing-masing. Namun, ada pula bank sentral yang masih bertahan alias belum mengubah suku bunga acuan, misalnya Bank Indonesia (BI).
Patut dicatat. Gencatan senjata AS-China belum berarti apa-apa. Sebab, negosiasi masih akan dilakukan ke depan. Sebagaimana perundingan-perundingan yang lalu, kedua negara masih saling berkukuh atas keinginan masing-masing. Walaupun, ada angin sejuk dari KTT G20 di Osaka, Jepang, seperti langkah Trump mencabut sanksi atas Huawei.
Pada akhirnya, semua pihak tentu mengharapkan kesejukan Osaka tidak terhenti sampai akhir pekan lalu. Gencatan senjata AS-China yang diikuti serangkaian negosiasi dagang semoga dapat melahirkan win win solution. Apabila itu terwujud, maka cuan bukan hanya ada di pihak AS maupun China, melainkan pula negara-negara lain di dunia, termasuk Indonesia.

Berita Populer