PADA mulanya saya hendak berkontemplasi mengenai Indonesia 2030 yang telah ramai mewarnai diskusi publik nasional. Nyaris semua media “terhipnotis” dan “menghipnotis” pembacanya dengan analisis yang beragam tentang “saat waktu 2030” seperti diorasikan Ketua Umum Partai Gerindra. Bahkan wartawan senior Surabaya Pagi pun “tergiring” untuk memberikan ulasan dengan “gempita” yang khas selaku pendiri harian ini. Berbagai kolega dan reporter media meminta jua tanggapan saya mengenai pidato politik yang memberi kisah “pembubaran Indonesia 2030”, termasuk respon petinggi Republik ini di hadapan mahasiswa salah satu universitas swasta di Malang tempo hari, Kamis 29 Maret 2018.

Tampaknya khalayak dari aneka ragam kaliber, cenderung tertarik pada “sensasi dan imajinasi” yang tersaji sangat hiperpolik. Luapan “emosi” yang terpapar sehentakan sewaktu meluncurnya buku Gregg Braden, Peter Russell, Daniel Pinchbeck, Geoff Stray, dan John Major Jenkins yang berjudul The Mistery of 2012 yang “menggelinding” di pasaran tahun 2009. Dunia gempar menyambut “kemungkinan-kemungkinan” terjadinya kiamat 2012. Sejatinya banyak hal yang perlu mendapatkan kupasan atas segala “reaksi balik” mengenai lontaran Kiamat 2012 maupun Indonesia 2030, mengingat “arah anginnya” yang berbeda.

Tendensi dan pretensi melekat pada setiap aktor penyampai gagasan. Atas kondisi “menggantang asap yang tertiup angin kencang” itulah, saya sementara ini menepi dulu dengan memberikan “pengaguman” atas prestasi yang diraih pemimpin Jawa Timur: Pakde Karwo (Dr H Soekarwo).

Sebagaimana diberitakan banyak media bahwa pada Selasa, 27 Maret 2018, Pakde Karwo mendapatkan penghargaan Indonesia Visionary Leader (IVL) dalam kategori Best Overall. Penghargaan ini diberikan Koran Sindo dan SindoNews.com dalam helatan gawe besarnya yang bertajuk The Power of Collaboration di The Westin Hotel, Jakarta. Inovasi-inovasi yang dilakukannya diapresiasi pada ritme kepemimpinan yang partisipatoris untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Ide-ide visioner dalam mengintegrasikan peran pemerintah, BUMN dan swasta untuk membangun daerah, melangkah menumbuhkan entrepreneurship, mengajak pelaku partikelir memajukan wilayahnya, ada di “jalan yang lurus”.

Penghargaan ini melengkapi daftar panjang ratusan “sanjungan” nasional maupun internaisonal yang telah disemat penuh hormat. Kepemimpinan dan inovasi Pakde Karwno disorot on the track. Di samping pertumbuhan ekonomi yang inklusif, kesejahteraan yang meningkat, secara administratif-organisatoris birokrasi terbukti manfaat dengan mendapatkan Leadership Award dan Innovative Government Award 2017. Saat itu penghargaan diberikan langsung oleh Menteri Dalam Negeri, Tjahjo Kumolo di Puri Agung Convention Hall, Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, pada Senin 18 Desember 2017. Secara khusus Leadership Award merupakan wujud apresiasi terbaik yang diberikan pemerintah pusat kepada para kepala daerah yang telah berdedikasi memajukan daerahnya.

Inovasi dan leadership yang hebat juga lahir di Kabupaten/Kota Jatim. Anugrah Leadership Award untuk bupati/walikota saat itu diraih olrh Surabaya, Banyuwangi, serta Lamongan. Khusus untuk Innovative Government Award 2017 kategori kabupaten diraih Bupati Gresik. Penghargaan ini pada jenjang urusan berikutnya juga dicapai Kota Probolinggo, Kabupaten Malang dan Kabupaten Madiun. Semua ini memberikan optimisme hadirnya kepemimpinan dan inovasi pemerintahan terutama di Jatim di tengah-tengah maraknya berita OTT KPK. Istimewa lagi untuk “edisi” penghargaan Indonesia Visionary Leader ini, Emil Dardak selaku Bupati Trenggalek meraih pula untuk kategori Best in Unlocking Local Potentiality. Trenggalek menjadi moncer melalui pembangunan yang tidak bersifat top down melainkan bottom up.

Terhadap penghargaan dimaksud, pembaca pasti memiliki pandangan yang bersifat persepsional atas suguhan menu yang dihidangkan dengan citarasanya. Tetapi yang jelas terdapat satu komitmen betapa pemimpin perlu hadir guna melayani dengan filosofi harmoni yang selayaknya dikonstruksi. Sejak tahun 2015 saya telah menuliskan pandangan perlunya pola “hidup bersanding, dan bukannya bersaing”, yang kalau meminjam kata-kata Albert Camus, Pemenang Penghargaan Nobel Sastra tahun 1957:

Don’t walk in front of me

I may not follow

Don’t walk behind me

I may not lead

Walk beside me

Our just be my friend

Idealitas itu terbangun diantara pemimpin dan rakyat yang bersemangat untuk meningkatkan martabat rakyat. Dalam menghadapi situasi internasional apapun, sejatinya warga diajak bijak oleh Pakde Karwo untuk bersama-sama siap membuka pintu gerbang kehidupan global. Kesigapan untuk mencapai masa depan yang lebih baik harus digelorakan oleh seorang pemimpin, dan Pakde Karwo terpanggil melakukan itu agar Jatim ambil bagian secara aktif di panggung dunia, terutama dalam Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) sebagai regional champion. Ini adalah bahasa yang bermakna memotivasi etos kerja dan kreativitas warga yang dicitakan mampu bersaing dan membuka diri sebagai superkoridor. Kata Napolean Bonaparte: “a leader is a dealer in hope” dan menurut Walter Lippmann: “leaders are the custodians of a nation’s ideals, of the beliefs it cherisher, of its permanent hopes, of the faith which makes a nation out of mere aggregation of individuals”.

Untuk itulah para pemimpin di seluruh Indonesia niscaya tidak akan membiarkan rakyatnya tanpa panduan. Pakde Karwo terpotret mengambil prakarsa untuk mengarungi masa depan hari ini seperti diungkapkan oleh Peter Senge dan kawan-kawannya dalam buku The Necessary Revolution: “... the future is now”. Dan tersadari dengan sungguh-sungguh: “the emerging changes now taking shape around the world are very small compared to what is coming” dan diafirmasikan “the leadership required to create a regenerative society”.

Kini saya memahami kenapa Pakde Karwo pernahmenuliskan percaturan single market and production base dalam pasar dunia sebagai tantangan yang harus dijawab oleh Bangsa Indonesia. Pemerintah diliterasi untuk memberikan motivasi sekaligus fasilitasi agar warga terus survive, bahkan menjadi Regional Champion. Ajakan Pakde Karwo itu seyogianya menjadi panggilan bagi untuk berbuat meningkatkan daya saing Jatim sesulit apapun. Hal ini mengingatkan saya pada surat-surat yang dibuat tentara Jerman ketika menyerbu Rusia di masa Perang Dunia II, yaitu Franz Schneider dan Charles Gullans yang dihimpun dalam buku Last Letters From Stalingrad. Dalam situasi terkepung dan terjebak perangkap yang sangat mengerikan, tentara itu menulis surat: “…of course, I have tried everything to escape from this trap, but there only two ways left: to heaven or to Siberia……”. Kemudian dia lanjutkan: “Waiting is the best thing, because, as I said, the other is useless”.

Benarkah jalan terbaik bagi Bangsa Indonesia adalah menunggu seperti sang pasukan itu tanpa kreasi-inovasi dengan meningkatkan daya saing di medan “perang” di zaman now? Pakde Karwo dan seluruh pemimpin nasional kita pastilah menjawab tidak (agar Indonesia tidak bubar di 2030). Dan iturasanya sudah cukup menimbulkan inspirasi untuk mengenali kembali makna substansial yang harus dilakukan seorang pemimpin.

Sebagai permenungan sengaja saya ingatkan kembali ajaran Astha Brata (delapan perilaku) seorang pemimpin yang selalu bertindak: menerangi (laku hambeging candra), tegas (laku hambeging dahana), percaya diri (laku hambeging kartika), berbelas kasih (laku hambeging kisma), teliti (laku hambeging samirana), menampung (laku hambeging samudra), menginspirasi (laku hambeging surya), dan adil (laku hambeging tirta). Hal ini berarti hari esok harus disongsong penuh semangat dan berkelanjutan. Apalagi secara kultural Pakde Karwo memanggul tugas sejarah untuk melaju terdepan mengingat Jatim mempunyai langgam dari wilayah ujung timur Pulau Jawa, yaitu Banyuwangi:

Bangbang wus rahina

Bangbang wus rahina

Srengengene muncul, muncul, muncul

Sunar sumamburat

Cit cit cuit cuit, cit cit cuit cuit, cit cuit

Rame swara ceh ocehan

Krengket gerat geret

Krengket gerat geret

Nimba aning sumur, sumur, sumur

Adus gebyar gebyur

Segere kepati, segere kepati, kepati

Bingar bagas kuwarasan

---------------------------------

Lingsir wengi tan kendhat

Bebaya memala tan kinaya ngapa

Bebendu pepeteng tan kena kinira

Bangbang wetan semburata

Semburata

Syair kerakyatan itu telah lama dialunkan dalam dolanan anak-anak dengan formulasi pengenalnya Ki Hadi Sukatno (1915-1983), dan semakin terpahami melalui lantunan Bangbang Wetan yang dibawakan oleh Novia Kolopaking. Penambahan maknawi aransemen garapan Emha Ainun Nadjib dalam iringan musik Gamelan Kiai Kanjeng dengan tampilan orkestra yang sangat ritmis, membuat “nadanya” bermuatan spiritual tinggi, untuk tidak mengatakan amat “mistis”.

Ya … Sebuah tembang dapat menjadi perlambang yang meneguhkan realitas untuk terus dipancarkan bahwa mentari memang selalu terbit dari timur. Oleh karena itulah, kesiapan dan kesediaan Pakde Karwo menyemangati warganya sesungguhnya sedang membumikan cita-cita dan meluaskan ruang harapan atas pesan motorik yang terkandung dalam langgam itu: sebuah ajakan agar cahaya Jatim teruslah bersinar. Sinar yang semburat itu harus dibaca sebagai daya saing yang mampu menjadi penanda (krengket gerat geret) keriuhan (rame swara ceh ocehan) dalam pergumulan nasional dan global. Jatim pantang menyerah tanpa gairah kreativitas, mengingat Jatim terserukan terus berikhtiar menjadikan “lahan internasional” sebagai sumber kesejahteraan (nimba aning sumur, sumur, sumur; adus gebyar gebyur).

Pangsa pasar dunia harus dimanfaatkan sebagai wahana yang menyegarkan dan menyehatkan kehidupan publik (segere kepati, segere kepati, kepati; bingar bagas kuwarasan). Dengan inovasi, berarti Jatim melangkah pasti membuka pintu menyapa semesta. Dengan daya saing yang bermutu (bersinar) akan memposisikan Jatim laksana pandora yang terang benderang. Pakde Karwo sebagai pemimpin mendapat mandat berupaya mencahayai “jalan rakyat” agar panggung politik dapat menjadi ladang bersaing yang menggembirakan. Kini pembaca tahu tongkat estafet ataupun pelari cepat mana yang layak melanjutkan inovasi Pakde Karwo, dialah yang “direkomendasikan” untuk “mbeber kamulyan dampar kencono periode mendatang. Lantas, sang visioner sendiri hendak ke mana? Panggung nasional saatnya dijelajah.

Suparto Wijoyo (Kolomnis, Akademisi Fakultas Hukum, dan Koordinator Magister Sains Hukum & Pembangunan Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga)