PILPRES dan pileg 2019 semakin semarak umbul-umbul dan ujaran-ujarannya. Kata sontoloyo yang dipopulerkan Bung Karno tahun 1940 melalui tulisan Islam Sontoloyo mencuat kembali dan Tampang Boyolali yang narasinya sangat ekspresif tentang kepedihan anak negeri direspon dalam batas yang tidak terimajinasi sebelumnya. Kata “asu” bahkan hadir dengan dalih “kultur” yang disemat untuk memperkenankan menghujat. Lama-lama kewarasan menjadi hilang dengan serbuk kampanya yang terus silang sengkurat. Adakah pemilu itu menjadikan sebuah bangsa semakin maju dan menghadirkan pemimpin hebat? Adakah rezim besar yang pernah ada di bumi nusantaraini produk pemilu? Apakah hanya demokrasi dan pemilu yang membesarkan sebuah bangsa?

Begitulah tanya yang terlontar dan intinya adalah soal peradaban yang pernah singgah dalam kelambu bangsa Indonesia. Anak-anak SD saja sudah berdiskusi tentang ini dan saya sangat terjaga atas lontaran yang bernada menggugat tentang kemajuan bangsanya. Ramainya berita korupsi dan ambruknya infrastruktur rumah yang diterjang angin maupun terkena banjir tentu menyesakkan dada. Semua teraduk dalam pertanyaan ringan dari anak-anak: adakah bangas ini pernah memiliki kemajuan ayah? Maka saya harus memahaminya dalam wujud pencarian dan biarlah daya pikir diliarkan untuk menerawangkan pendar cahaya keunggulan yang diraih nenek moyangnya.

Istirah Bangsa Indonesia atas permenungan kenegaraan leluhurnya terkesan terlalu lama dan ternyata keterjagaannya kini sudah dijejali beragam konsepsi-konsepsi baru yang tercerabut dari dimensi keluhurannya. Bangsa ini ibaratnya terbangun agak gagap dan kaget yang dapat bercermin dalam cerita kehidupan para pemuda yang terhikayatkan dalam Kisah Ashabul Kahfi. Perubahan terus terjadi dan ada yang berlaku menjadi-jadi. Di tengah gelembung dan gelombang deras perubahan itulah mari sejenak saja menggali untuk memahatkan substansi penataan pemerintahan yang mengenal dirinya sendiri.Saksikan satu saja candi semisal Candi Borobudur tanpa perlu memasuki pro-kontra pendiri dan pendiriannya (Abad VII-IX oleh Dinasti Sailendra sebagai penghormatan pada Sang Buddha dengan sang perancang Gunadharma – C.W. Leadbeater, 2015; Titus Leber, 2011 - atau lebih dari itu sebagai peninggalan Nabi Sulaiman – KH. Fahmi Basya, 2014), tetapi tetaplah dengan menyelami kreativitas kepemimpin penyelenggaraan pemerintahan yang dikembangkan saat itu.

Ratusan literatur dapat dibaca yang menguraikan sisik melik(kandungan hakiki yang multi sisi) Candi Borobudur, tetapi persaksian siapa saja yang telah melihat, merabah, dan merasakan auranya, niscaya ada kemegahan dan pesona di dalamnya. Permufakatan publik menunjukkan bahwa Borobudur itu megah dan indah dalam segala dimensinya. Dalam bahasa Thomas Stamford Raffles (2008), Candi Borobudur adalah benda yang mengagumkan sebagai karya yang agung. Marilah kemegahan, keagungan dan keindahan itu diterjemahkan membumi dalam lingkup birokrasi pemerintahan yang mampu membangun Candi Borobudur.

Untuk membangun Candi Borobudur secara kenegaraan dan pemerintahan tentu ada keputusan kenegaraan dan pemerintahan yang diambil untuk memenuhi kebutuhan publik. Negara pastilah hadir dan menjadi pihak utama yang melakukan pembangunan Candi Borobudur sebagai monumen kenegaraan atau tetenger kerajaan yang dapat dikenang sepanjang masa. Negara yang mampu membangun berarti memiliki sumber daya yang besar (ekonomi, politik, sosial, budaya, ideologis, dan manusia yang profesional). Kemampuan ekonomi dan finansial serta para teknokrat yang terlibat dalam program nasional kerajaan saat itu niscaya telah menghituang secara komprehensif segala kebutuhan proyek nasional ini. Apabila dipelajari lebih mendalam dengan pendekatan Indikator Kinerja Utama (IKU) dapat dipetakan: berapa Indeks Pertumbuhan Ekonomi, Indeks Tingkat Pengangguran Terbuka dan Indeks Persentase Penduduk Miskin, Indeka Pembangunan Manusia serta Indeks Disparitas Wilayah yang terjadi saat itu? Program pembangunan Candi Borobudur secara birokratik bisa saja digunakan sebagai sarana menjaga pertumbuhan ekonomi berkelanjutan (sustianable growth), membuka lapangan kerja, sekaligus untuk mengurangi pengangguran dan kemiskinan serta mengatasi disparitas wilayah dengan meningkatkan IPM (human development index) yang memiliki keunggulan pendidikan, kesehatan dan daya beli masyarakat. Hanya negara yang sehat secara fisik-psikis dan ekonomi yang mampu membangun monumen monumental semegah Candi Borobudur.

Rapat-Rapat: berapa kali rapat pimpinan (Rapim), rapat koordinasi (Rakor), rapat teknis (Ratek), atau rapat kerja (Raker) dan rapet kerja terbatas (Rakertas) diadakan? Bagaimana rapat-rapat itu diselenggarakan dalam rangka untuk membangun Candi Borobudur dengan penyusunan program kerja nasional serta sinkronisasi atau harmonisasi program dengan pemerintah daerah. Dalam bahasa dewasa ini adalah adanya tahapan musrembang untuk mengharmonisasi kehendak rayat dalam RPJP-RPJM Nasional dan RPJP-RPJM Daerah. Pola penyusunan program kerja Kabinet era pembangunan Candi Borobudur atau lainnya belum kita gali secara serius untuk menjadi pelajaran bagi pengelolaan pemerintahan NKRI. Birokrasi pembangun Candi Borobudur tidak kita pelajari untuk mengembangkan birokrasi pemerintahan NKRI.

Anggaran Belanja Negara: tidak mungkin membangun Candi Borobudur tanpa biaya dengan penyediaan anggaran negara (APBN-APBD) yang memadai. Konstalasi ekonomi saat itu pasti menarik bagaimana pengaruh pengalokasian pembiayaan pembangunan Candi Borobudur tidak sampai mengganggu perekonomian nasional. Berapa tingkat inflasi atau malah deflasi serta kemampuan keuangan negara yang khusus dialokasikan pada Pos Anggaran pembangunan Candi Borobudur? Mekanisme pembiayaan dan pencairan dananya secara birokratik dapat dipelajari dan dicermati bagaimana Bendahara Negara mengelola kebijakan publik tersebut tanpa melanggar regulasi penyelenggaraan pemerintahan dalam lingkup financial management. Bagaimana pengelolaan keuangan negara saat itu guna mempersiapkan bangunan Candi Borobudur yang secara birokratik pengalokasian pembiayaannya dapat menggunakan sistem multy years alias year to year (y to y)? Pembiayaan pembangunan Candi Borobudur itu murni biaya negara atau ada biaya donatur swasta sebagai investor atau semodel dengan pembiayaan yang ditanggung oleh konsorsium modal pembangunan Candi Borobudur?

Penataan Ruang: melihat posisi Candi Borobudur tentu menarik dalam kerangka ilmu planologi, geologi, hidrologi, vulkanologi serta manajemen administrasi birokrasi, karena secara topografis peletakan posisi bangunannya sangat sempurna dilihat dari perspektif keilmuan tersebut. Hal ini menandakan bahwa para birokrat pemerintahan saat pembangunan Candi Borobudur telah mampu melakukan penataan ruang wilayah dengan baik dan futuristik. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bapenas) atau apalah namanya saat itu niscaya menyusun programnya dengan sangat mendetil dari tingkat kebijakan sampai teknis operasional. Penentuan letak Candi Borobudur pada posisi seperti sekarang ini juga menarik dari sisi pembebasan lahan, atau kawasan itu memang telah diperuntukkan dalam pengaturan RTRW nasional dan daerah sebagai lokasi bagi proyek nasional yang tidak memerlukan pembebasan lahan. Adakah gejolak sosial budaya pada waktu pembangunan Candi Borobudur atau justri terbangun mekanisme kerja gotong royong yang sempurna? Kemampuan birokrasi pemerintahan untuk menggerakkan pekerja rakyat bersumbangsih dalam pekerjaan raksasa ini tentu dengan SDM birokrasi yang sangat mumpuni di tataran national development.

Arsitektur: kemegahan dan keindahan Candi Borobudur jelas didukung para arsitek hebat dengan tingkat kecermatan yang tertinggi, sehingga mampu menghadirkan bangunan yang sangat artistik. Para arsitek ini harus dilacak alumni dan kampus tempat kuliahnya di mana? Kurikulumnya disusun dengan muatan perkuliahan apa saja sehingga mampu menghasilkan arsitek yang sedemikian mengagumkan, sampai pada prestasi dunia akademik yang berkembang saat itu. Logikanya tidak mungkin ada bangunan seperti Candi Borobudur yang sangat artistik itu tanpa arsitek yang handal bukan, termasuk dalam bingkai leadership architechture?

Ketenagakerjaan: Bangunan Candi Borobudur sangat kokoh dan rapi yang menunjukkan bahwa bangunan ini dikonstruksi oleh tenaga kerja yang sangat kompeten alias profesional yang dalam konteks kekinian sebagai tenaga kerja yang sudah tersertifikasi. Secara akali pasti tidaklah semua kuli bangunan boleh terlibat membangun Candi Borobudur kecuali yang sangat ahli di bidangnya. Ini menandakan ada profesionalisme dalam pengerjaan Candi Borobudur. Struktur bangunan Candi Borobudur yang sedemikian rupa itu menandakan betapa kokohnya fondasi yang dipersiapkan dan hal ini adalah lambang bahwa rancang bangunnya dikerjakan dengan kesungguhan yang mutlak (professional workers).

Desainer: pembuatan relief yang menghiasi Candi Borobudur memberikan informasi bahwa ini dikerjakan oleh para desainer ternama saat itu. Mungkinkah sebuah Candi yang memiliki relief sedemikian bagusnya tanpa dilakukan oleh desainer yang hebat, berpengalaman dan sangat terpelajar? Para perancang yang terlibat pengerjaan Candi Borobudur mustilah dikoordinasi oleh “Bapenasnya” dengan kualifikasi tertentu yang tidak sembarang orang dapat masuk sebagai Tim Pembangun Candi Borobudur (Team Works).

Mode Busana: Coba simak cara berpakaian nenek moyang kita sebagaimana yang terukir sebagai relief di Candi Borobudur atau Candi-candi yang lain seperti Candi Prambanan, atau Candi Penataran di Blitar Jawa Timur. Kita dapat melihat pakaian mereka yang sangat modis, estetis dan eksotik sekaligus: mulai dari bentuk kemben sampai dengan jarik yang terbelah dengan wiruan indah. Pakaian seperti yang tertera dalam Candi Borobudur dapat kita temui dewasa ini sebagai gaun selebritis sebagaimana di abad ke-21 yang digunakan oleh para aktris penerima Piala Oscar. Dengan bukti sejarah bahwa Candi ini dibangun dalam rentang abad VII sampai IX berarti gambar yang ada di candi sejatinya merefleksikan kondisi mode pakaian era sebelumnya sampai saat candi dibangun. Untuk itulah pola desain mode pakaian yang digunakan oleh para perancang busana Eropa dan Amerika saat ini sejatinya terlambat lebih dari empat belas abad lampau. Inilah secuil lempeng sejarah busana yang dapat dipelajari dengan menghasilkan beribu lembar lempengan peradaban yang mustinya dapat kita aktualitas dalam penyelenggaraan kehidupan publik di NKRI.

Kepemimpinan Birokrasi: dengan membangun penanda semegah Candi Borobudur dapat dipelajari betapa sibuknya kerja birokrasi saat itu. NKRI yang berusia 73 tahun ini belum mampu membangun monumen untuk mengenang kehebatan pengelolaan negara selama ini seperti yang dilakukan pemerintahan era Candi Borobudur dibangun. Kalaulah demikian mempelajari kinerja birokrasi sejatinya dapat belajar kepada para leluhur untuk dibangkitkan sebagai kekuatan historis yang menifestasinya adalah bekerja untuk mengembalikan kejayaan masa lalu guna menjadi yang digdaya di masa mendatang. Dalam konteks dan konten demikian kita menjadi bertanya sejatinya modernisasi kehidupan sekarang ini apanya yang modern dan mengungguli budaya leluhur? Kita terlalu abai dengan capaian-capaian birokratik kepamongprajaan nenek moyang, sehingga dengan pongah kita berkata inilah modernisme yang tidak dinikmati oleh leluhur dan kita merasa jumawah (sombong) untuk mengganggap berperadaban lebih hebat dari zaman yang ribuan tahun silam. Ayo mempelajarinya.

Suparto Wijoyo (Kolomnis, Akademisi Fakultas Hukum, dan Koordinator Magister Sains Hukum & Pembangunan Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga)