SELASA esok, 20 November 2018 diperingati secara nasional, bahkan seluruh dunia Islam menyimpuhkan diri adabnya dalam keberkahan Maulid Nabi Muhammad SAW. Sebuah peringatan atas kelahiran manusia agung nan mulia yang menjadi rahmat bagi seru semesta alam, rahmatan lil ‘alamin. Senin malam, 19 November 2018 sudah ramai kaum muslimin-muslimat mengenangnya melalui lantun shalawat serta puji-pujian di surau-surau, mushalla, langgar, masjid ataupun halaman-halaman rumah perkampungan. Pondok-pondok pesantren, sekolah-sekolah Islam menghelat penuh khidmat segala rupa festival untuk memuliakan hari kelahiran Sang Nabi Akhir Zaman, Rasulullah Muhammad SAW. Tokoh yang menyosok sebagai manusia paling berpengaruh dalam sejarah umat manusia. Belum tertandingi oleh manusia manapun. Begitulah Michael H. Haert menerangkan dalam buku yang amat terkenal sebagai lembaran legenda yang mengagumkan: 100 A Ranking of The Most Influential Person in History.

Beratus literatur dan beribu-ribu lembar naskah yang telah terbit memenuhi pustaka kehidupan akan terus hadir dengan catatan khusus bahwa kemuliaan Kanjeng Nabi Muhammad SAW tidak akan pernah surut apalagi habis dibahas. Setiap sisi hidupnya sangat sempurna hingga selalu menarik, dari semua sisi manapun. Kajian secara spiritual ataupun sekuler serta profesi yang dimiliki oleh manusia zaman now, era sekarang, tetaplah keteladanan Kanjeng Nabi SAW mampu menjadi role model yang berkeabadian.

Pelajaran politik kenegaraan sampai urusan berkeluarga yang penuh adab akhlakul karimah dapat dikembalikan pada kisah hidup Sang Rasulullah. Praktek-praktek kenegaraan dan pemerintahan diajarkan serta bagaimana pergaulan global ditata. Untuk itulah risalahnya teramat lengkap dan mampu menjawab setiap kebutuhan seriap periode peradaban manusia. Dalam kerangka politik kenegaraan, Nabi Muhammad SAW merupakan pembentuk Konstitusi Pertama di dunia melalui penetapan Piagam Madinah yang berisi 47 pasal untuk mengelola relasi negara dan warga negara. Tarikh sepanjang hidupnya, 570-632 merupakan untaian historis paling spektakuler tentang manusia berderajat termulia ini: pelajarilah dan adalah sebuah keganjilan apabila dirimu tidak terpanggil menggali ketinggian hikmahnya.

Untuk keperluan mengenang dan meneladani risalah yang diajarkan dalam Sirah Nabawiyah merupakan kebutuhan bagi setiap orang yang menapaki jalan hidup untuk meraih kemuliaan. Dalam lingkup ini maka janganlah eman untuk membelanjakan harta guna membeli buku-buku yang mengisahkan kehidupan Manusia Teladan dari segala teladan ini. Membaca kisah Nabi Muhammad SAW dalam semua lingkup hidupnya tidak akan pernah henti dan atas namanyalah ilmu semakin berkah. Inilah yang saya seru dalam petikan atas keteladannya, meliput kehadiran Utusan Allah SAW ini dalam kelindan permenungan mengenai sirahnya, bergetar telepon genggam karena ada pesan masuk dari kolega. Oh … dalam suasana pikir untuk persetambatan batin mengenang perjuangan Rasulullah SAW dan Sahabat-sahabatnya, dituang tanya tentang peristiwa yang sudah lebih sepekan bergerak. Tragedi Surabaya Membara. Kolega yang dulu menjadi teman kuliah tetapi kini tinggal di Jakarta itu membisikkan jelajah batinnya yang selalu berharap agar saya tetap sudi menambah sekali lagi permenungan tentang kejadian 9 November 2018, Jumat malam itu.

Atas dasar memperhatikan “energi persaudaraan” itulah, maka pembaca tetaplah memaklumi bahwa saya hari ini berkenan menambahkan “sedikit selisik” mengenai perspektif “lain” atas “gelombang takdir” dalam perlintasan sejarah drama kolosal Surabaya Membara. Ingatku adalah: air mata duka itu tumpah mengiringi derai tangis dan jerit kegemparan penonton drama kolosal Surabaya Membara, Jumat 9 November 2018, setarikan nafas melintasnya KRD pukul 19.45 di viaduk areal Tugu Pahlawan. Insiden viaduk pecah dengan taruhan luka sekaligus nyawa yang teregang dari badan kaum “pergerakan massa” yang hendak menyaksikan perhelatan akbar yang telah eksis selama sebelas tahun ini. Kematian warga Kota Pahlawan dalam kerangka pentas rekonstruksi peristiwa 10 November 1945 ini sontak menyentak khalayak. Agenda tahunan Surabaya Membara pun digugat keberadaannya secara ganjil melalui pernyataan birokrat yang membilang tidak tahu acara ini, dan itu bukan agenda institusinya.

Pemegang kuasa kota, mulai dari camat, sekda maupun petingginya, semua kompak tidak tahu, begitulah diberitakan banyak media di hari Ahad, 11 November 2018. Narasinya meniscayakan legalitas “kreasi seni” ini dipersoalkan melalui instrumen perizinan dengan konsekuensi yuridis pertanggungjawaban hukum penyelenggaranya. Kepolisian melakukan tugas-tugas prosedural dengan membuka lebar “gerbang hukum” bagi siapa saja yang mengakibatkan jatuhnya korban. Ini memang marwahnya dan biarlah aparatur berkinerja sesuai dengan mandat yang dipanggulnya, karena setiap nyawa itu dilindungi oleh negara hukum (rechtsstaat).

Negara hukum pastilah menormakan kewajiban universal agar penguasa memberikan perlindungan kepada rakyatnya (berscherming tegen de overheid). Inilah pandom yang musti direnungkan sehubungan dengan tajamnya sorot mata publik terhadap para seniman “yang ditimpuk tragedi viaduk”. Sebuah realitas nestapa yang menyeret elementasi stakeholders pembuncah Semangat Pahlawan Didadakuterlibat sengkurat untuk memojokkan pengkreasi Surabaya Membara. Semua pihak hendaknya memahami bahwa para seniman telah bergerak dalam koridor membangun heroism, nasionalisme dan mampu membentuk barisan national solidarity yang mengagumkan. Mengikuti bahasa John Hospers (1918-2011) dalam karyanya The Philosopy of Art, puluhan ribu orang yang berbondong-bondong menyaksikan “seni mixed” Surabaya Membara itu menunjukkan bahwa pementasan drama ini “menorehkan tendensi untuk menghadirkan batasan jarak antara waktu dan ruang daripada mempertahankannya”.

Hal itu berarti Surabaya Membara sebagai gawe seni tahunan selalu dinanti oleh khalayak ramai kota ini. Suasana pertempuran 10 November 1945 secara sadar disemai untuk dituai oleh jiwa-jiwa warga kota, sehingga mereka mendapatkan pembaruan rasa kebangsaan yang revolusioner. Situasi kejiwaan yang dibopong Surabaya Membara inilah yang harus diapresiasi oleh penguasa birokrasi maupun “oleh yang berwajib” dengan sikap proporsional. Surabaya Membaraterlihat bukanlah sebagai variabel tunggal penghantar penonton memenuhi takdirnya menjemput maut, karena masih ada aspek kerata api, jajaran aparatur negara, serta yang paling sensasional adalah “laku kepahlawanan radikal” untuk tidak mengatakan sembrono dari para penonton. Terpotret adanya fenomena “mobokrasi sosial” yang muncrat di Surabaya Membara sebagai sinyal tentang warga kota ini yang “rela sengsara” demi “semangat juang para pahlawan” agar terus tersematkan. Pengorbanan warga inilah yang mutlak ditangkap oleh penguasa dengan membuka “jendela” keberpihakan secara total tanpa mempertimbangkan “kas daerah” untuk meringankan beban keluarga korban. Menyantuni mereka jangan lagi seperti kasus gaji ke-13 bagi guru di Kota Surabaya sebagaimana yang sudah dipertontonkan.

Jujur, gelombang pergerakan penonton yang bertindak ikut-ikutan “menyerbu viaduk” seolah memberikan imajinasi daya juang pergolakan 10 November 1945. Merangkak menaiki tangga viaduk dan menjejak kaki di rel-rel kerata api memberikan “warna lain” nuansa revolusioner malam-malam menjelang meletusnya peristiwa 10 November 1945. Kosmologi “parasaan seperjuangan kaum ramai” yang memenuhi viaduk nan mengabaikan keselamatan dirinya inilah, yang ternyata tidak mampu digapai pemegang otoritas kota. Sampai pada posisi ini tidaklah elok apabila penguasa berujar “tidak tahu” mengingat setiap gerak rakyat metropolitan ini telah terpantau sepanjang waktu. Jajaran ASN yang memenuhi setiap jengkal lahan kota dan CCTV yang terpasang sebagai mata-mata kota, laiknya mampu meneropong “kerumunan penikmat” Surabaya Membara. Bukankah Surabaya Membara adalah sumbangsih rutin para seniman yang “mewakafkan kreasinya” bagi Kota Pahlawan?

Capaian Surabaya Membara selam ini merupakan wujud maknawi “atas jasa para pahlawan”. Kejadian Jumat malam itu jangan sampai menepikan penguasa kota ini berada dalam satire Samel C. Florman: plus la change, plus la meme chosesemakin berubah, semakin sama saja, lalu cuci tangan. Juga bukan pula seperti kata puncak kepasrahan “seng wes yos wes” alias yang sudah ya sudah, pecut diseblakno, barang kebacut diapakno.Ini pelajaran penting. Dari kasus ini bukan tidak diapa-apakan melainkan wajib “diapa-apakan” yaitu negara lebih terpanggil untuk peduli dengan kreasi-inovasi Surabaya Membaraberbarengan menata rakyat agar “menghargai jiwa raganya”. Surabaya Membara diajangkan kembali dengan sikap birokrasi yang tanggap ing sasmito. Marilah menata langkah berubah untuk berbenah memanggungkanSurabaya Membara tahun depan yang nyaman bagi warga kota. Inilah drama kita, drama ekspresif Arek-arek Suroboyo. Dan di saat peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 20 November 2018, malam nanti jangan lupa menyongsongnya dengan bershalawat, yuk shalawatan.


Suparto Wijoyo (Kolomnis, Akademisi Fakultas Hukum, dan Koordinator Magister Sains Hukum & Pembangunan Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga)