PEMBERONDONGAN pekerja di Papua oleh organisasi yang lazim dikenal OPM yang menggelegak sejak 1 Desember 2018 berseiringan dengan HUT Tentara Pembebasan Nasional OPM, sungguh menyesakkan dada. Darah kembali tumpah dan menyirami Bumi Cendrawasih tanpa mampu dicegah oleh pemegang otoritas negara yang kerap sibuk bercitra diri selaku pembangunan utama Tanah Papua. Peristiwa yang terus menolehkan pandangan anak negeri sampai hari ini itu mestinya menjadi fokus perhatiannya. Saya amat perih menyaksikan seluruh rekam pemberitaan tentangnya di sela-sela agenda Rapat Koordinasi untuk pengembangan dunia akademik di Solo.

Kejadian yang sejatinya secara intelijen mudah dideteksi itu kerap menggoada rumah Indonesia. Apalagi OPM pun cenderung disemat penuh sopan oleh pihak yang bukan tupoksinya melalui julukan KKB, Kelompok Kriminal Bersenjata. Sebuah penyebutan agar wilayah makar, pemberontak, dan radikal serta separatis nan teroris ini tidak dimasuki pemangku pertahanan negara (TNI) tetapi cukup keamanan umum (polisi). Tindakan terhadapnya yang bersemliwer dengan penyubutan antara KKB dengan pemberontak telah mengkavling siapa sejatinya yang hendak “bermanja-manja” dengan OPM. Kalaulah hal itu disebut KKB berarti yang masuk kepolisian, tetapi sebutan pemberontak senafas OPM pastilah TNI yang harus bertindak. Dan dalam lingkup ini TNI harus terpanggil melakukan “pembenahan” OPM atas kajadian yang mengoyak kedaulatan.

Selama ini, bagi saya, membincang tentang Papua itu tidak lepas dari derita yang terasa melangkolis atas seluruh kekayaan bumi dan airnya yang direnggut transkorporasi yang menyimpangi Pasal 33 UUD 1945. Seputaran Freeport, inilah yang sewajarnya dibincangkan. Tetapi kini OPM telah unjuk kekuatan dan TNI mendapatkan restu rakyat untuk “membina” mereka karena kedaulatan setiap jengkal wilayah Papua sudah selesai secara demokratis yang tersepakati PBB pada 19 November 1969 sebagai bagian dari NKRI. Kebersamaan saudara-saudaraku Papua untuk selalu berkasih sayang dengan kita semua kawula NKRI menyebabkan sambungnya rasa diantara kita. Inilah yang menyebabkan saya dan kita semuanya penuh hormat meriangkan sebuah nyanyian dari Papua.

Nyanyian yang bagi anak-anak yang dilahirkan di Nusantara pastilah mengenal. Itulah lagu Yamko Rambe Yamko. Kalau ada yang tidak mengenalnya makakuragukan sebagai warga yang bersemayam dalam keindahan rahim Papua, bahkan Indonesia?

Hee yamko rambe yamko aronawa kombe

Hee yamko rambe yamko aronawa kombe

Teemi nokibe kubano ko bombe ko yuma no bungo aweade

Teemi nokibe kubano ko bombe ko yuma no bungo aweade hongke hongker hongke riro hongke jombe jombe riro hongke hongke hongke riro hongke jombe jombe riro

Substansi hal ini telah saya buatkan Kontemplasi beberapa waktu yang lalu, tetapi kini hendak kuulangi kembali guna menegaskan bahwa kita telah menyatu dengan Papua hingga lagu itu adalah lagu kita semua. Itulah lagu yang kunikmati bukan hanya isinya serta nada maupun intonasi indahnya, tetapi jauh dari itu semua. Lagu itu adalah capaian perjalanan panjang penuh semangat, bukan hanya dengan nada Do=D 4/4, bersemangat, melainkan refleksi jiwa-jiwa penuh gelora yang dimiliki warga Papua. Saudara-saudaraku warga Papua sejatinya tahu dan mengerti betul makna lagunya yang memberi kobaran hangat dalam hidup. Resapi dan gali sedalam-dalamnya maknanya, luaskan cakrawala gaungnya, tinggikan cuatan impiannya, panjangkan rute perjalannya, akhirnya selami dengan jiwa raga sewaktu mendendangkannya. Anda semua pasti merasakan gelombang cinta menyongsong hari-hari mendatang pada setiap waktunya tentang Papua yang lebih dari siapapun. Anda usahakan dapat bernyanyi bersama dengan kisaran 255 tetua adat yang siap memandu dan memanggul amanat untuk terus menjaga tanah Papua. Tanah leluhur yang memiliki kisah gemilang dalam sejarahnya pada ribuan tahun yang silam.

Inilah tanah Papua, inilah Bumi Papua, inilah rahim semesta yang berkesejatian. Dari tanah inilah kehidupan dalam referensi-ferensi agamawi disebut cikal-bakal kehidupan. Bumi Papua memiliki kesahihan sebagai manifestasi Nirwana, potret Surgawi yang digambarkan dalam Kitab-kitab Suci. Bumi Papua adalah keajaiban yang disebut dalam dongeng-dongen dan cerita-cerita yang pernah didengar dari seantero jagad. Inilah Bumi yang sesunguh-sunguhnya bumi sebagaimana digambar Tuhan sejak dalam pikiranNya. Dan tersebutlah kisah sampingnya: semua datang dan terus mengeruknya dengan keserakahannya. Ini dilakukan juga berasal dari legenda-legenda klasik yang mereka pelajari. Bumi Papua, Bumi Kita Semua dan mereka merasa sebagai pemilik meski datang dari jauh yang telah mendengar kisah-kisahnya.

Papua punya segalanya sebagaimana telah dipandu oleh para Nabi dan Rasul dalam zamannya. Kidung-kidung rakyatnya membahana menyeruak membuka angkasa. Catatan-catatan para ilmuwan dari zaman yang lampau sejak masa-masa Atlantis-Limuria maupun yang lebih muda sekelas Babilonia-Mesopotamia-Persia-Romawi-Yunani, dan kini pada kisaran Eropa-Amerika-India-Cina-Australia. Bacalah semua rujukan-rujukan kehidupan yang telah dapat kita temukan dari semua bangsa di bentara Bumi, kau akan menyaksikan betapa Papua telah menorehkan kekaguman-kekaguman yang tidak pernah diimajinasikan sebelumnya. Inilah Bumi yang sejatinya Bumi dengan segala kandungan yang didekapnya penuh kilauan abadi, meski kini dirobek-robek dalam skala yang Anda semua saksikan betapa besar, kasar, keras dan culas.

Gunung yang menjulang ditambang tanpa batas, dan kebanyakan dari Republik ini pasrah menerima celotehnya tanpa beban. Bahan tambang, mineral dan segala kesediaan yang Tuhan telah anugrahkan dirampok secara legal atas nama hukum dan pergaulan antarbangsa. Undang-undang dibuat tampak digunakan untuk membenarkan kelakuannya. Bumi Papua ini sesungguhnya Bumi Siapa? Ingat Wanim ataupun Nuwaar. Anak-anak negeri mendapatkan apa dari kekayaan Papua? Mineral dan segala kekayaan tambangnya dapat memenuhi kebutuhan hidup semua bangsa termasuk dengan segala kerakusannya. Sungai yang elok sejak ribuan tahun lalu terus meneteskan lelehan air mata dengan lintasan sejarah panjangnya sejak pertambangan yang mendera tanpa peringatan. Dikala diusik maka yang muncul adalah tangan-tangan gelap menyulutkan permusuhan diantara kita anak-anak NKRI.

Para perompak seperti OPM dapat datang dari semua penjuru angin. Dari gunung muncul para pelancong yang membawa surat izin untuk mengambil milik kita sendiri. Dari laut semisal Raja Ampat terkuak juga sang penjual dan pedagang kelas dunia yang terus menawarkan keindangan alam sebagai tontonan dengan mengelu-elukan puja puji buat kita agar kita terlena, padahal mereka juga memanjatkan citanya untuk mengeruk sumber alam hutan dan membabatnya diam-diam maupun terang-terangan. Asmat dengan segala keagungan yang kubanggakan diantara yang ada di NKRI dan diberi panggung untuk dapat ditonton dunia, sambil pelan-pelan mereka masuk atas nama investasi dengan segala skenario yang disusun untuk memgabadikan cengkraman kuku-kukunya dengan dukungan hukum internasional. Mereka kini masuk total dan maksimal senyampang kita semua dikira belum tersadarkan dari tidur panjang yang selalu mimpi-mimpi tanpa arti.

Mana wilayah Bumi Papua yang tidak ajaib? Mana segmen geografis Bumi Papua yang tidak memiliki cerita kemuliaan sekaligus penderitaan karena kita abai dengan diri sendiri? Mana bentangan alam Bumi Papua yang tidak memberi pemenuhan hajat hidup bagi kehidupan yang mendunia? Siapa yang berani bilang bahwa Bumi Papua itu miskin? Siapa yang tidak percaya bahwa Bumi Papua dapat menghidupi semua makhluk yang ada di dunia tanpa hitungan berapa besar pun jumlahnya? Kalaulah tidak percaya maka rasakan saja gentanya bahwa Bumi Papua adalah Bumi Semesta yang oleh Tuhan dihadiahkan untuk manusia pilhan dan saya mengagumi Papua dengan segala isinya hingga aku mendengar segala rintihnya, tangisnya.

Ditengah kekaguman itulah saya sedih sesedih-sedihnya atas nasib Bumi Papua tatkala ada yang merusaknya, menjarah kekayaannya, menambang tanpa pernah kenyang meski sudah berpuluh-puluh tahun. Lautnya dilelehi nista dengan aliran sungai-sungai yang semakin keruh buangan limbah sisa pertambangan. Semua dapat melihat dan semua dapat memiliki pesawat sendiri, bandara sendiri, pelabuhan sendiri, kendaraan sendiri, dan akhirnya menguras-nguras kekayaan yang dikira ini adalah milik moyangnya sendiri. Mereka lupa bahwa mereka adalah tamu yang hadir, tamu yang datang, tamu yang mengincar sejak dari sananya dengan segala perbuatannya, dan kita semua bangsa Indonesia dan warga Papua menyambut dengan penuh hormat, sebab kita telah lama diajari untuk bertindak hormat kepada tamu. Bukankah para tamu itu adalah para pihak yang selalu oleh leluhur diminta untuk diberi kehormatan. Sampai kapan kita memperlakukan para tamu dengan hormat meski mereka telah berbuat laknat pada rumah kita, pada Bumi kita, pada isi rumah kita? Sementara saudara-saudara kita yang kini memberontak saatnyalah kita ajak bersama memakmurkan Papua. Pemberontakan itu berselisik salah satu sisinya pasti karena ketidakadilan dan ketidakmakmuran rakyatnya.

Lebih dari tu, ada lagi. Kegelisahan yang menyelimuti kita semua atas apa yang terbersit di Bumi Papua melalui penyebaran virus HIV/AIDS yang meretas di banyak tempat di kota-kota yang perpusat di tepian pantai di Bumi Papua. Pelacuran itu memang ada dan membuahkan penyebaran HIV/AIDS yang serius. Akan tetapi pelacuran menyetubuhi Bumi Papua tanpa persetujuan yang berimbang sesungguhnya jauh dari adab bangsa beradab. Pelacuran jasmaniah yang terekam di metropolitan adalah hubungan transaksional yang sama-sama menikmati kepuasan, sementara pelacuran lingkungan dengan menyentuh relung terdalam hati Bumi Papua selama ini tampak tidak menimbulkan keseimbangan dan kenikmatan para pihak.

Industri kelas dunia dan adat yang kukuh sebagai tradisi berhadapan dalam paradigma yang berbeda. Jalan yang ditempuh sama-sama berbeda. Di sinilah tugas negara untuk hadir di tengah ketidakseimbangan posisi ini. Masak tuan rumah dikalahkan tamunya. Pemberontakan OPM telah didengar pada saat yang pas untuk memberi daya lenting yang bersifat quantum bagi penyelamatan Bumi Papua. Bersemangatlah dan kita dapat berbagi rasa tentang Bumi Papua yang menanggung sedemikian berat beban hidupnya. Lantunkanlah Yamko Rambe Yamko agar kita semua ingat tanggungjawab apa yang seharusnya kita semua lakukan bagi Bumi Papua. Dengan melantunkan lagu ini marilah kita rampungkan pengabdian menjaga kedaulatan NKRI dan seluruh elemen OPM agar kembali nyawiji sebagai inti negeri. Maka tugas pemimpin nasional adalah menjaga Indonesia dan bukannya asyik bersolek meningkatkan citra diri sendiri. Papua jangan pernah berpisah dan itu butuh keadilan penguasa. Keadilan dan kemakmuran itulah inti HAM yang hari ini diperingati dunia, 10 Desember. (*)


Suparto Wijoyo (Kolomnis, Akademisi Fakultas Hukum, dan Koordinator Magister Sains Hukum & Pembangunan Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga)