IKLAN nan pemberitaan itu besar-besar di banyak media. Surabaya Raih Online Popular City Guangzhou International Award 2018. Judul yang menyembul penuh simpul dengan senyum yang mengembang dari Walikota selaksa mewakili satu keyakinan sebagai Bukti Nyata Partisipasi Publikmetropolitan. Sebagian besar warga Surabaya gembiran dengan tanda memposting ragam status yang mengabarkan betapa digdayanya Kota Pahlawan. Dunia terkirakan olehnya dibuat terpesona dan demikianlah adanya informasi yang diwartakan dengan gagah. Suarabaya juara …. Surabaya juara. Tidak tanggung-tanggung, juara di level internasional dari titik sebuah kota Republik Rakyat China. Lihat dan simaklah tentang sorot mata yang tajam menghadap Surabaya. Inilah kota yang paling terkenal di dunia yang berbasis online semodel “kuis” tebak-tebakan untuk menjadikan sebuah kota pantas menduduki singgasana sempurna.

Surabaya adalah kota yang dinobatkan sebagai kota terkenal di wilayah online. Ini adalah ajang penghargaan bergengsi dua tahunan yang diselenggarakan atas kerjasama World Association of The Major Metropolises, United Citie and Local Government (UCLG) dan Pemerintah Kota Guangzhou. Walikota Surabaya sendiri telah diteguhkan sebagai Presiden UCLG dan metropolitan kita memang jawaranya dalam tema lomba tahun ini Public Participatory in 3R Waste Management for Better Surabaya. Pokoknya ini bukan KKN tetapi murni sebagai prestasi bahwa Surabaya selalu pantas menang dalam lomba apapun untuk kemudian diiklankan memenuhi media cetak agar banyak pihak yang tahu bahwa “kitalah sang juara”.

Kemenangan Surabaya menjadi juara kota paling terkenal secara online ini karena raihan jumlah vote terbanyak, yaitu mencapai 1.504.535 suara. Vote ini ditutup pada Jumat 7 Desember 2018. Adapun di posisi ke dua adalah kota Yiwu, China dengan vote 1.487.512 dan ketiga diraih Santa Fe, New Mexico dengan vote 863.151. Oalah pantesan sepekan sebelum pengumuman ini sudah ramai di medsos tentang gerakan yang menyerukan silahkan untuk memberi suara kepada kinerja Surabaya. Dan nyaris warga Surabaya yang jumlahnya berjuta-juta, bukan sekadar yang tercantum di DPT, sehingga logislah kalau harus terpanggil mensupport agar juara itu teraih “menurut jumlah vote melalui medsos”. Polanya sepertarikan nafas model “pemilihan idol-idolan” di tivi-tivi itu.

Maka agar kedudukan juara yang melambangkan supremasinya di Kawasan Asia Tenggara ini, pasti mulai hari ini, ayo kampanyekan agar dua tahun ke depan kita memiliki voter yang berlipat-lipat ganda lagi. Bukankah jumlah Hp dan nomornya yang bersemliweran di Surabaya ini kalau didayagunakan, atau direkayasakan untuk memberikan “like and share”, pastilah Surabya semakin moncer di tengah-tengah masyarakat dunia yang gandrung model juara-juraan. Bila perlu nanti seluruh warga kota pegang HP dan beri vote untuk mendukung lomba “Kota Paling Bersin” karena kepedesan makan “rujak cingur”, saya yakin Surabaya juga akan juara dengan kemenagan 3-5 juta voter yang siap mendukung penobatan “Kota Rujak Cingur”, karena hal itu memang hanya ada di Surabaya dan agar kulineri Rujak Cingur semakin mendunia.

Inilah dunia masa kini. Untuk juara perlu dibuatkan nama-nama yang semakin menandakan spesifikasi dan dengan juara sebagai Online Popular City yang warganya berpartrisipasi total untuk memberikan vote, sehingga penghargaan ini adalah bukti nyata partisipasi publiknya, termasuk partisipasi kirim vote dalam lomba model ini, dan akhirnya kita semua senang, saya sendiri juga senang dan memberikan senyum lebar: memang Surabaya itu hebat walaupun ada sisi-sisi lain yang perlu dicermati guna berbenah diri ke depan.

Jangan biarkan Surabaya berlari tanpa kendali. Cermatilah dengan teliti mengenai desain kotanya yang gemerlap tetapi menyimpan keperihan diam-diam. Kenapa itu semua terjadi? Apa hendak dikata? Kota telah ditata secara dengan mengarusutamakan kepentingan sesaat dan mengabaikan pertimbangan-pertimbangan azalinya. Lahan dan ruang kota “disergap” terang-terangan oleh simpul-simpul kuasa kota dengan alasan desakan “misi suci” pencitraan global city. Padahal sebagaimana dipesankan oleh John Eade: suatu globalisasi perkotaan pada dasarnya juga bermula secara implikatif dari local process penataan ruang kota.

Kini kota telah “dipatenkan” sebagai “kamar raksasa” yang dihiasi dengan tanaman-tanaman yang dipamerkan. Gedung-gedung tinggi dicipta tanpa mempedulikan nuansa budaya setempat. Hutan kota telah disinggahi hutan beton yang tidak mampu menyerap emisi gas buang industri maupun kendaraan bermotor. Taman kota berpose menjadi taman iklan dan seakan-akan meneguhkan pengalihgunannya sebagai “makam kota”. Pasar-pasar tradisional tersedak lambang kota modern. Toko klontong terseret ke liang lahat oleh “monster” perdagangan dengan atribut Mall-mall yang kian memolak-malikkan (menjungkirbalikkan) daya hidup warga kota melalui “anak ajaib” yang dinamakan Trade Centre. Kota tampil kian ganas membombardir warganya dengan lamunan-lamunan konsumtif dan mejeng gaya jalanan. Belanja pun musti menjadi gaya hidup yang disebut life style dengan segala kemewahannya.

Inikah diri kita? Warga kota pada awal mulanya adalah sedarah yang saling empati dan apresiatif pada karya-karya sesamanya. Tidak bisakah ini kita hidup maknakan kembali dengan manata kehidupan kota yang humanopolis, yaitu kota yang kamanungsan terhadap warganya. Ini adalah kota kita yang menurut lirik lagu ibaratnya “rumah kita sendiri”. Marilah membangun kota berperikemanusiaan bahwa diantara kita adalah “saudara setumpah darah” yang tidak ingin “ada dusta”. Jangan ada lagi kekerasan ekonomi di kota-kota kita. Kenapa kita tega memakan dan menyantap dengan riangnya “daging sesama warga” dengan membunuh toko pracangan. Kita adalah manusia yang berhati nurani sebagai karya agung Sang Khaliq, sehingga sewajarnyalah kita membangun kota yang humanis.

Lebih dari itu, selamatkan pula kota-kota kita apalagi Surabaya ini dengan mengembalikan ke fitrahnya.Kota dibangun dengan tata kota yang harus berbasis situasi ekologis. Membangun kota sebagai eco-juridicopolis adakah sebuah kebutuhan dan bukan sekadar keinganan? Lantas? Pada tahun-tahun yang lalu dan seterusnya harus disadari sesadar-sadarnya bahwa lingkungan telah menjadi dimensi penting dalam konstruksi kota berkelanjutan (sustainable city).Warga kota dimanapun tidak mungkin dapat hidup dengan prima dari udara yang tercemar, air yang kotor ataupun tata kota yang tidak estetis. Sampai di sini Surabaya sudah penuh puji sebagai kota yang ”hijau” meski kali-kalinya dibeton tanpa ampun.

Pembangunan semua kota yang berkemanusiaan dan berwawasan lingkungan musti dibingkai dengan koridor hukum. Berdasarkan pemeo yang sangat populer di kalangan ahli hukum ubi societas ibi ius di mana ada masyarakat di situ ada hukum atau sebaliknya “tiada hukum yang dibangun tanpa masyarakat” (kecuali hukumnya dunia lain), karena hukum bukan sesuatu yang berlaku di ruang hampa. Untuk itulah penataan kota yang diancangkan guna menciptakan kota yang hukumnya berberkat alias kota yang berhukum penuh martabat (“juridicopolis”) adalah “sunatullah” yang sedasar dengan kepatutan sosialnya (“social reasonableness”). Terkuaknya beragam “kejahatan perkotaan” yang menghiasa wajah kota dewasa ini menandakan sepertinya kota-kota kita tidak berhukum. Atau mungkin ada hukum, tapi hukumnya sekadar macan kertas (“paper tiger”) yang lumpuh menghadapi “keliaran penjajah perkotaan” yang kolonialis.

Kita semua warga kota pada akhir hikayahnya harus mampu merancang bangun sebuah kota di mana semua “anak gembala” dapat hidup menjadi piranti dasar dari “eco-humano-juridicopolis”. Jiwa ruhaniah kota yang berperikemanusian, berkarakter lingkungan dan memiliki hukum yang baik (“good legislation”) tidaklah mungkin serta merta kita serahkan kepada para penggede kota yang telah disindir dengan terangnya dalam Deklarasi Johannesburg tentang Pembangunan Berkelanjutan (“Johannesburg Declaration on Sustainable Development, 2002”) melalui untaian kata wicara “as nothing more than sounding brass or tinkling cymbals”, ya … “tong kosong (memang) nyaring bunyinya”.

Maka marilah pada tahun-tahun mendatang, terutama tahun 2019, kita cancut tali wondo (satukan tekad) membangun kota-kota kita di seantero Nusantara dengan berbasis pada nilai-nilai keabadian hidup yang berupa: kemanusiaan, keadilan, lingkungan dan hukum secara serentak untuk mengembangkan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan ekonomi tanpa mengabaikan langgam budaya lokal. Inilah kearifan nenek moyang kita (“local wisdom”) yang diorientasikan untuk kota masa depan. Kota yang mengarusutamakan kemanusiaan dan lingkungan dengan hukum sebagai instrumen penjamin keadilannya.

Beranjak dari potret prototipe “panduan” demikianlah saya termotivasi untuk menggulirkan “keperihan perkotaan” ini kepada civitas sosial pembaca. Tulisan ini semoga tidak sekadar “pemikiran liar” yang sekadar dibaca untuk selanjutnya dibuang. Bagaimanapun wujudnya tulisan ini bagi saya adalah merupakan “aggitan-anggitan genit” yang perlu dilontarkan ke wilayah publik untuk mengundang dialog kolektif yang solutif. Anggaplah ini merupakan sebuah kompilasi “pergulatan pemikiran” yang mengkhawatirkan perjalanan kota-kota raya di Indonesia. Sebuah tulisan pada dasarnya adalah seutas tali ”ideal” dan kiranya “onggokan omong” saya ini segera mendapatkan ”lecutan kolegial” sebagai bentuk “koreksi dan kreasi akademik” atas segala kebijakan yang dipertontonkan penguasa (“public policy”). Surabaya juara. Tersenyumlah sebagai tanda tanya dan syukur yang ada.


Suparto Wijoyo (Kolomnis, Akademisi Fakultas Hukum, dan Koordinator Magister Sains Hukum & Pembangunan Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga)