Holder Schein, an deine Spiele

Sieh mich willig hingegeben;

Andre haben Zwecke, Ziele,

Mir genugt es schon, zu leben.

(Hermann Hesse, 1918)

KOSMOLOGI kampanye pemilu hari-hari ini kian merangsek ke semua lini. Itu pantas dan patut dalam berdemokrasi yang mengajarkan meraih kekuasaan secara kompetitif sekaligus terhormat. Adalah keanehan dan keganjilan apabila ada pihak yang memobilisasi perangkat negara untuk mengampanyekan para kandidat yang kian kukuh memegang fasilitas negara. Soal kepala desa hingga petinggi negara yang ramai digerakkan guna mendata para warganya agar memilih paslon tertentu bukan lagi rahasia. Semua orang sudah tahu dan mafhum dengan anggukan yang sama kepada institusi yang tidak mau disebut namanya agar tidak dituduh melakukan kebohongan. Sudah sekian lama rakyat menyaksikan betapa liarnyagerakan untuk mengabadikan diri dalam tengger kursi kuasa. Publik dapat melihat semua ulah dan tingkah dari serpihan otoritas yang tidak hendak bergeser. Kompetisi kali ini terasa sekali keberpihakan pihak-pihak yang menggunakan sumber daya Republik secara terang-terangan. Setiap kelebatan amplop yang dihamburkan adalah atas nama organ kekuasaan. Beratus ribu amplop yang memenuhi gedung wakil rakyat sudah tersingkap dan ternyata menurut info yang berkembang dari bilik KPK ada lambang-lambang yang menyimbulkan keterkaitan dengan kontestasi yang tidak mau disaingi.

Lho demokrasi itu soal persaingan, bukan sekadar pengundian karena kekuasaan diberi ruang untuk dipilih dalam gerakan mandat rakyat. Atas nama itulah pemilu diselenggarakan agar damai menyerta setiap pergantian atau peneguhan kekuasaan secara sah. Guliran pada setiap detaknya menyertakan beragam komponen ataupun elemen rakyat, tidak terkecuali Bunda-bunda yang selama ini mengabdikan dirinya dalam pendidikan anak usia dini. PAUD ada dan kian menapak dalam kepakan yang terekam banyak politisi. Ramainya dunia PAUD menjadi ajang memberikan apresiasi atas kinerjanya yang diingat setiap jelang coblosan seperti saat ini. Saya menyaksikan betapa kaum politisi memberikan perhatian meski dengan segala sengkurat yang menyertainya.

Bunda-bunda Paud terperhatikan selaksa kisah Surat Ijo di Surabaya yang selalu ramai di acara pemilu atau pilkada meski usai itu akan lenyap seperti biasanya. Surat Ijo tetap menarik diperhatikan meski tidak terselesaikan karena itulah surat yang abadi mengantarkan penyuara nyaringnya ke tampuk kekuasaan dengan janji yang tetap tidak ditepati. Lantas rakyat lupa akibat kesibukan hariannya. Soal Bunda PAUD tentu tidak bisa seperti itu karena ini bukan mengenai surat tetapi tentang martabat dalam mendidik anak-anak yang berusia emas bagi peradaban masa depan. Para politisi dan capres-cawapres menyentuh titik kebijakan yang mem-paud-kan diri.

Saya terkesan dengan ihktiar Bunda-bunda PAUD yang tidak lelah mengabdi dengan gaji yang sangat minim. Tetapi pekan lalu sewaktu Bunda PAUD disapa Cawapres terlihat geliat yang menggema dengan kesigapan yang menandakan ada aura besar dalam diri mereka. Politisi harus menoleh kepadanya apabila memang peduli nasib pendidikan anak-anak yang mungil dalam segala tingkah lucunya. Tapi tangis anak-anak PAUD itu adalah nyanyian keriangan meski terkadang sangat ritmis dalam segala dimensinya. Anak-anak itu menghadirkan lakonkehidupan yang berkesehajaan sebagaimana honor Bunda-bunda PAUD. Bunda-bunda inilah yang mampu menguraiapa adanya. Bunda yang trengginas dalam bekerja dan tawaduk dalam bersikap dan acapkali disajikan secara menarik. Adegan sowan para kandidat dijlentrehkansangat terbuka dengan harapan yang menjanjikan.

Bunda-bunda PAUD hadir mewarnai negeri ini penuh kreasi-inovasi melalui sentuhan tangan yang ngrejekeni. Ada tuah, apa yang dipegangnya menjadi berkah, sehingga buat apa ngembat anggaran negara? Maka jangan pernah memasuki gerbang PAUD dengan curiga apalagi fitnah. Begitu ditandaskan para aktivis per-PAUD-an. Lelehan air mata Bunda PAUD itu “dapat mengubah takdirmu”, bukan semata-mata soal kerumunannyamelainkan kelindan sengkurat yang terus dililitkan atasnya saja, tetap mampu diatasinya. Bunda PAUD itu sudah biasa “sengsara” maka setiap mengahadapi masalahmereka paling berdaya dengan kondisi pihak yang mencercanya akan tampak menguntit menuang lazuardi problema. Kasus-kasus itu membawa kisah yang sangat “telenovelis” bagi jiwa-jiwa “pemirsa” atas nasib Bunda PAUD yang tidak potongan “leha-leha”.

Saya memahami Bunda PAUD bukan dari sisi figur semata, melainkan gelombang perasaan yang membangun empati atas nasib anak negeri yang gigih menangani karakter yang hendak mati menjadi bangkit dan menghasilkan energi, tapi justru dihimpit. Pahatan argumentasi bahwa permasalahan PAUD sejatinya masukrezim kebijakan yang harus diatasi secara bermartabat.PAUD sejatinya berfungsi sebagai penyelia jalan takdir. Agenda pendidikan model PAUD pastilah menuang cerita panjang lagi untuk dinanti. Adakah yang memanggungkan PAUD dengan rentetan kehendaknya? Bait puisi sastrawan besar yang lahir di Jerman dan meninggal di Swiss, Hermann Hesse (1877-1962) telah mengekspresikan dengan terjemah indah Agus R. Sarjono (2015):

Wahai pesona maya,

Pada godamu rela aku berserah;

Mereka selalu ada maunya,

Bagiku, hidup cukuplah sudah.

Beribu nilai dari puisi tersebut dapat disusun untuk menggambarkan suasana kebatinan (geistlichen hintergrund) nasib Bunda-bunda PAUD. Memang sebagian pihak yang berkuasa cenderung ada maunya. Kemauan itulah yang bertendensi mengatur dan mempermainkan nasib orang agar berlumur salah. Bahkan di banyak acara yang melibatkan PAUD ada saja yang ditoreh menjadi alat yang dapat diterapkan sesuai dengan karep yang kuasa, bukan sesuai kaedah. Membaca Bunda PAUD, jiwa-jiwa pengabdi ada yang terkoyak dan tampak terpaku tidak mampu beranjak. PAUD yang tidak ada “DNA” main akal-akalan justru dibuat berjarak agar tidaklagi terpercaya. Potret yang muda dibaca adalahmembuncahnya gelagat untuk menjebloskan ke lubang bersalah.

Kondisi ini menusuk keperihan diam-diam dalam diri masyarakat dari berbagai lapisan. Suara batin yang saya tangkap adalah bahwa usai menyimak acara-acara Bunda PAUD yang sering dicibir ternyata mereka tetap memendarkan rasa syukur dan mengekspresikannya dengan terang betapa PAUD memang sangat mendasar. Tetapi itu tidak berlangsung lama, dengan gerak berita bahwa PAUD diperhatikan kandidat muda, sebagian besar “penilik” PAUD susut beringsut sambil berdegup apa yang akan terjadi pada PAUD di hari-hari mendatang. Situasinya mengingatkan saya pada potongan puisi Alfred Victor Comte de (1797-1863) yang disitir Albert Camus (1913-1960): “... tak lagi menemu, dalam kebajikan ataupun kejahatan setetes kenikmatan ... tidak juga dari dukalara yang melecutnya untuk mengambil tindakan”.Sebuah pesan yang mestinya Bunda PAUD memikirkan jangan sampai pendamba keadilan merasa dinihilkan.

Keputusasaan Bunda PAUD tak boleh singgah seperti yang ditulis oleh Albert Camus dalam karya adiluhung Le Pain et La Liberte dalam terjemah apik Edhi Martono (2017): “mari kita sebut saja dengan sebutan yang, karena tidak ada lagi kemuliaan padanya, setidaknya menjadikannya mulia karena jujur, dan marilah kita sadari bersama bahwa dasar semua itu tidak lain adalah balas dendam”. Cuitan Albert Camus ini sedang mendekterakyat mendapatkan pelajaran ekstrakurikuler: bagaimanapun kejujuran itu merupakan pijakankemuliaan. Nalar sehat pun berkata agar kekuasaan mempertimbangkan konteks batin rakyat yang mengerti bagaimana Bunda PAUD mengabdi. Kejujurannya dirasa banyak orang. Kalau dianggap sebuah kekurangan, Bunda PAUD ini dirakit terlalu sentimentil, bikin nangis, selaksa anak-anak mungil kita sendiri. Semoga ketulusan Bunda PAUD menjadi penawar takdir agar esok hidup berkemajuan, adil dan makmur.

Suparto Wijoyo (Kolomnis, Akademisi Fakultas Hukum, dan Koordinator Magister Sains Hukum & Pembangunan Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga)