KEKERASAN terjadi di bentara Aksi 21 dan 22 Mei 2019 dan sontak ada yang belingsatan sekaligus trengginas dalam uniform hitam. Anak itu terserang dengan amat brutal meski semua beralibi untuk akhirnya hanya tanda tanya yang bisa diberikan. Adakah ini produk pendidikan kedinasan? Laku curang nan culas sekaligus memanfaatkan semua kewenangan selaksan negara dalam gelembung fasisme yang akut. Begitu orang-orang hendak menyulamkan angannya sebelum menoleh ke dunia pendidikan tinggi yang masih kukuh dengan dalil-dalil akademik. Suara mahasiswa nyaris senyap sehentakan dengan beberapa organisme mahasiswa terpanggil juga nuraninya atas tewasnya demonstran. Atas nama kemanusiaan dan keluhuran bangsa yang beradab, tindakan yang ramai di media itu tidaklah pantas di negara yang berfalsafah Pancasila.

Usai itu diunggah kini ramai pembelaan diberikan institusi yang kini tersudut meski dia sangat perkasa untuk bertindak apa saja. Kampus akhirnya disorot dalam ketersembunyian yang sepi tetapi kini sedang menggeliat malu-malu. Padahal perguruan tinggi dipancangkan memiliki peran strategis dalam menyiapkan peningkatan kualitas manusia dan pengembangan masyarakat. Dalam kajian historis-sosiologis diyakini semua orang bahwa kemajuan suatu bangsa ditentukan oleh sejauh mana bangsa itu membangun perguruan tinggi yang bermutu. Penelitian John Vezey dalam “Education In modern World” membuktikan bahwa di berbagai negara menunjukkan adanya korelasi positif antara kualitas lembaga pendidikan dengan pertumbuhan ekonomi, angkatan kerja berkualitas, peningkatan taraf hidup masyarakat dan peningkatan peradaban pada umumnya.

Untul itulah tak ada rumusan pendidikan yang utuh-overal-simultan dan diterima semua pihak. Mengingat formulasi yang mencuat sebangun dengan subyektivitas setiap pakar yang memformulasikannya. Meskipun demikian harus diakui bahwa pendidikan itu musti bersandar pada suatu sistem sebagai “starting point”. Semisal teori-teori: perenialisme, esensialisme, progresifisme dan rekonstruktruksionisme sosial yang merupakan muatan teori pedagogi model pemikiran pelopor pendidikan sekaliber Peztalozzi, Lock, Rousseau, Froebel, Monetessri, Spincer dan Dewey dengan schooling system-nya yang bertumpu pada asumsi tentang “unggulnya otak manusia”.

Perguruan tinggi sebagai lembaga pendidikan tidak hanya membentuk manusia yang mampu untuk mengadaptasikan diri dengan “life in general” melainkan juga bermisi sebagai pengubah. Untuk itu “learning-teaching” yang dikembangkan adalah untuk menciptakan kondisi dan kegiatan sebagaimana suasana masyarakatnya, sekaligus berupaya melahirkan manusia yang berwawasan keilmuan yang diperhitungkan.

Tidakkah kita merasa terluka dan tentu ada yang salah dalam penyelenggaraan perguruan tinggi kita dengan hadirnya peradan bar-bar otoritas yang sedianya mengayomi. Pemilu jurdil kian terasa terabaikan karena yang berposisi netral kerap berafiliasi seperti parpol demi jabatannya semata. Ada pepatah tiada gelombang tanpa angin dan mari mencari kausa apa kira-kira yang menjadikan semua itu terjadi. Memang hal ini teramat pelik-njelimet-zwarwichtig yang secara keilmuan tidak boleh “gebyah uyah podo asine”. Ada yang bilang bahwa biangnya adalah “ruler-regering” dan masyarakat. Ini menegaskan kalau kondisi melankolis aparatur negara tersebut diakibatkan policy maker dalam bidang kediklatan, sebab yang ada sekarang ini bukan lagi tut wuri handayani melainkan tut wuri hangangkangi dengan adanya arogansi kekuasaan yang sistematis dari pihak pengendali kekuasaan yang masuk ke dalam lembaga ilmiah dalam suatu proses “teknokratisasi”. Really, dalam mendulang sebab rendahnya output perguruan tinggi dihadapkan pada kenyataan tentang pluralistik-heterogeniknya jawaban.

Masalahnya sendiri kata orang memang “genab tidak dan ganjil pun tak tentu” seakan “vicious circle”: output merupakan resultan proses, poses berawal dari input dan input sebagai kristalilasasi “segmen sentrifugal” pergulatan “ekstern” perguruan tinggi yang terakumulir dalam bingkai raksasa jaringan kehidupan sosial. Daniel Bell menegaskan, perguruan tinggi mengemban tanggung jawab sebagai lembaga sentral dalam masyarakat pasca industri. Sejalan dengan label dan peringkatnya, tidak berlebihan jika kesuksesan pembangunan fisik dan spiritual sebuah negara banyak ditentukan pada produk perguruan tinggi. Dengan mengkaji ulang sejarah dan sistem yang telah dan tengah berlangsung, lembaga pendidikan tinggi mampu memenuhi masa depan.

Sebagai kontribusi positif dalam usaha manyapu “awan gelap” peradaban bangsa yang membenihkan barbarisme, terdapat kutipan “pantun santun” berikut:


Gendang gendut, tali kecapi

Kenyang perut senanglah hati

Pinggang tak retak, nasi tak dingin

Tuan tak hendak, kami tak ingin.


Dalam hubungan ini ada syair karya C.S. Adama van Scheltema yang perlu dikutip dari Hastuti Khamalid ataupun lainnya sebagai “pembulat hati”: “… Wie is het, die de zwarte voren in govelend goud veranderen doet? Wie mesten en maaie’t koren, wie is het die de wereld voedt? Dat zijn de paarden en de ploegers. Dat zijn de zweters en de zwoegers. Dat zijn de zaaiers van het zaad. Dat is de daad …” (… Siapa yang memberi makan pada dunia? Petani yang dengan diam-diam mengerjakan sawahnya? Siapa yang mamayu ayuning bawana? Hanya mereka yang bekerja keras, mengeluarkan keringat dengan perbuatan yang nyata…”).

Pemilu ini sangat spesial dengan segala permaslahannya pada sosok yang berebut kuasa dan hendak mempertahankannya. Terhadap hal ini saya teringat ungkapan Ki Ageng Soeryomentaram yang dituliskan oleh Gunawan Mohammad: “yang menangis adalah yang berpunya; yang berpunya adalah yang kehilangan; yang kehilangan adalah mereka yang ingin”. Ki Ageng lahir 20 Mei 1892 anak ke-55 Sultan Hamengku Buwono VII dan mendapat gelar Bendara Pangeran Harya Soeryomentaram di usia 18 tahun. Diceritakan oleh Goenawan Muhamad dengan merujuk tulisan Marcel Boneff: pada suatu hari, dalam perjalanan ke sebuah pesta perkawinan di Keraton Surakarta, dari jendela Kerata Api sang Pangeran melihat ke luar.

Di bentangan sawah, sejumlah manusia berkeringat, bersusah payah, mencari sesuap nasi. Sementara itu di gerbong itu ia duduk dengan megah dan nyaman: kenikmatan yang diperolehnya semata-mata karena ia dilahirkan di suatu tempat yang tak harus diraih. Bisakah ia berbahagia? Sejak saat itulah Suryomentaram mempertanyakan hal yang oleh orang lain didiamkan: arti benda bagi hidup; arti punya bagi manusia. Al-kisah, akhirnya ia meninggalkan keraton. Sebelum umurnya 30 tahun, salah satu bangsawan terkaya di Yogyakarta itu pun memberikan harta bendanya kepada sopir atau pekatiknya.

Lalu ia berangkat ke arah Banyumas. Ia memakai nama “Notodongso” dan praktis menghilang. Ketika Raja menyuruh orang mencari putranya yang ganjil ini, mereka menemukannya di Kota Kroya: sedang menggali sumur. Shahdan, ia pun memilih hidup sebagai petani di Dusun Bringin. Apa yang dicarinya? Suprana-suprene, aku kok durung tau kepethuk wong – selama ini aku belum pernah berjumpa manusia. Mungkin ia tahu manusia sekarang lebur diantara milik (harta) dan melik (keinginan untuk mendapatkan sesuatu). Adakah kita sedang hidup dalam atmosfer kepemilikan atau kepemelikan? Siapa yang mau menjadi Ki Ageng Soeryomentaram dalam kasus bergaman keretakan sosial dengan dunia kampus tang tetap asyik dengan dirinya yang ribut konferensi dan riset-riset tanpa mendengar suara rakyat. Biarlah waktu yang bersaksi untuk saling tahu diri. Salam.
Suparto Wijoyo (Kolomnis, Akademisi Fakultas Hukum, dan Koordinator Magister Sains Hukum & Pembangunan Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga)