Kementerian Transmigrasi Tawarkan Pesantren Kelola Lahan 3,1 Juta Hektare

Reporter : Muhajirin
Wamen Transmigrasi Viva Yoga Mauladi saat menyampaikan peluang kolaborasi dengan Pesantren dengan jaringan alumni untuk mengelola aset tanah Transmigrasi mencapai 3,1 juta. FOTO:SP/MUHAJIRIN

SURABAYAPAGI.COM, Lamongan – Kementerian Transmigrasi membuka peluang luas bagi pesantren dan jaringan alumninya untuk ikut mengelola potensi ekonomi di kawasan transmigrasi yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.

Tawaran tersebut disampaikan Wakil Menteri Transmigrasi (Wamentrans) Viva Yoga Mauladi saat menghadiri Seminar Nasional yang digelar Persatuan Santri Alumni Sunan Drajat (Pessandra) di Hall Pondok Pesantren Sunan Drajat, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, Rabu (30/9/2026).

Baca juga: Gubernur Khofifah Harap 121 Warga Jatim Bisa Sukses di Sulawesi

Dalam seminar bertema Membangun Kemandirian Santri Melalui Pemberdayaan Ekonomi Santri dan transmigrasi tersebut, Viva Yoga mengungkapkan bahwa paradigma transmigrasi saat ini telah mengalami perubahan. Program transmigrasi tidak lagi semata-mata dipahami sebagai kebijakan pemindahan penduduk dari satu daerah ke daerah lain.

Menurut dia, orientasi utama program transmigrasi sekarang adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang telah berada di kawasan transmigrasi, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi lokal secara berkelanjutan.

“Sekarang orientasi transmigrasi bukan untuk memindahkan penduduk, tetapi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang ada di kawasan transmigrasi,” terang Wamen asal Lamongan tersebut.

Kelola Aset 3,1 Juta Hektar

Viva Yoga menyebut Kementerian Transmigrasi memiliki aset tanah yang sangat besar. Totalnya mencapai sekitar 3,1 juta hektare yang tersebar di 612 kawasan transmigrasi di luar Pulau Jawa dan Bali. Dari ratusan kawasan tersebut, sebanyak 154 kawasan ditetapkan sebagai lokasi prioritas nasional hingga 2029.

Potensi lahan tersebut, kata Viva Yoga, tidak harus seluruhnya dikelola pemerintah. Kementerian membuka ruang kolaborasi dengan pihak ketiga, termasuk pesantren, alumni pesantren maupun korporasi yang memiliki kapasitas dalam mengembangkan usaha.

Salah satu skema kerja sama yang ditawarkan adalah melalui legalitas Izin Pelaksanaan Transmigrasi (IPT). “Kalau dari santri mau berminat kerja sama dengan Kementerian Transmigrasi, sangat boleh,” ujarnya.

Menurut Viva Yoga, berbagai sektor ekonomi dapat dikembangkan di kawasan transmigrasi sesuai dengan karakteristik dan potensi masing-masing daerah.

"Mulai dari perkebunan, pertambangan, pertanian, peternakan hingga pariwisata. Kalau seluruh potensi dan produk unggulan di kawasan transmigrasi dipegang oleh para santri Pondok Pesantren Sunan Drajat, mantap itu," tegasnya.

Komoditas Kawasan Transmigrasi Tembus Ekspor

Besarnya potensi ekonomi kawasan transmigrasi juga terlihat dari sejumlah komoditas unggulan yang telah memiliki pasar ekspor.

Viva Yoga mencontohkan durian dari Sigi, Sulawesi Tengah, yang telah masuk pasar Asia Timur. Kemudian rajungan dari Maluku yang dipasarkan ke Amerika Serikat.

Selain itu, terdapat komoditas pala dari Teluk Bintuni, Papua Barat, serta lada dari Luwu Timur, Sulawesi Selatan.

Potensi tersebut, menurutnya, menunjukkan bahwa kawasan transmigrasi tidak hanya memiliki sumber daya lahan, tetapi juga produk unggulan yang dapat dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi baru.

Karena itu, keterlibatan pesantren dinilai dapat menjadi salah satu alternatif untuk memperkuat ekosistem ekonomi di kawasan tersebut.

Baca juga: Kadisnakertrans Himawan Lepas 11 Keluarga Transmigrasi Ke Sulbar

Pesantren Sunan Drajat Siap Bersinergi

Tawaran kolaborasi tersebut mendapat sambutan positif dari Direktur Perekonomian Pondok Pesantren Sunan Drajat, Gus Anas Alhifni.

Menurut Gus Anas, Pondok Pesantren Sunan Drajat selama ini telah mengembangkan berbagai unit usaha, yang dapat menjadi modal pengalaman untuk bersinergi dengan potensi ekonomi kawasan transmigrasi.

Di antaranya sektor pertanian, pengolahan garam industri, ritel hingga pariwisata. Namun demikian, Gus Anas menilai keberhasilan pengembangan ekonomi di kawasan transmigrasi tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan lahan dan modal.

Menurutnya, faktor sumber daya manusia, ilmu pengetahuan serta mentalitas menjadi fondasi utama. “Transmigrasi itu kaitannya dengan kemandirian. Berdiri tegak itu karena punya ilmu dan mental yang kuat,” tutur Gus Anas.

Ia menegaskan, santri harus memiliki keberanian untuk mengambil peluang ekonomi di berbagai daerah, termasuk kawasan transmigrasi.

“Kalau mentalnya sudah kuat dan tidak mudah menyerah, peluang bisnis sekecil apa pun di kawasan transmigrasi pasti bisa dioptimalkan untuk kemaslahatan masyarakat,” katanya.

Mokhammad Zamroni Kepala Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Lamongan, mendorong santri memiliki mental petarung dalam menghadapi persaingan ekonomi yang semakin terbuka. Ia menilai etos kerja, inovasi dan komitmen menjadi modal penting agar generasi muda tidak tertinggal.

“Harus menjadi petarung, punya komitmen dan tidak mudah putus asa. Persaingan sangat luar biasa. Kalau tidak memiliki etos kerja dan inovasi, komitmen kita akan tergilas,” katanya.

Ia menyebut potensi talenta santri sangat besar, termasuk peluang untuk berkontribusi di berbagai kawasan transmigrasi.

Sementara itu, Andi Wijaya, Direktur Perencanaan Teknis Pengembangan Ekonomi dan Pemberdayaan Masyarakat Transmigrasi, menyebut transmigrasi masih relevan dengan konteks pembangunan Indonesia saat ini.

Menurutnya, pemerintah melakukan transformasi terhadap pendekatan transmigrasi dengan orientasi pembangunan kawasan dan penciptaan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru. “Transmigrasi masih relevan untuk konteks hari ini. Ini merupakan reborn di pemerintahan sekarang,” katanya.

Ia menjelaskan pemerintah mengembangkan konsep 5T, yaitu Trans Tuntas, Trans Lokal, Trans Patriot, Trans Karya Nusa dan Trans Gotong Royong. Program tersebut diarahkan untuk mengintegrasikan penyelesaian persoalan kawasan, pemberdayaan masyarakat lokal, keterlibatan generasi muda, pengembangan ekonomi serta kolaborasi berbagai pihak dan Pesantren punya potensi itu.

Ketum PP. Pessandra Muhajirin, mendorong santri berani keluar dari zona nyaman. Seminar nasional ini menjadi ruang untuk mempertemukan gagasan pesantren, pemerintah dan pelaku pemberdayaan ekonomi dalam melihat peluang baru bagi santri.

"Pesantren dinilai tidak cukup hanya mencetak lulusan yang memiliki kemampuan keagamaan, tetapi juga perlu membangun ekosistem kewirausahaan, penguasaan teknologi, kemampuan membaca pasar dan keberanian membuka lapangan pekerjaan," terangnya.

Melalui forum ini, Pessandra mendorong lahirnya kolaborasi antara pesantren, pemerintah, dunia usaha dan masyarakat, dalam mengembangkan potensi ekonomi santri. "Harapannya, santri dan alumni Sunan Drajat tidak hanya menjadi pencari pekerjaan, tetapi mampu menjadi pencipta lapangan pekerjaan, penggerak ekonomi masyarakat sekaligus agen pembangunan di berbagai daerah Indonesia, salah satunya melalui program Transmigrasi,"harapnya.jir

Editor : Redaksi

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru