SURABAYAPAGI.com, Sidoarjo – Puluhan warga Desa Mliriprowo, Kecamatan Tarik, Kabupaten Sidoarjo, menggelar aksi unjuk rasa damai dengan mendatangi langsung kantor desa setempat. Rabu (7/10/2026). Aksi turun ke jalan ini dilakukan sebagai wujud protes dan penyampaian aspirasi terbuka terkait belum terealisasinya pembangunan sistem drainase di lingkungan pemukiman mereka.
Sambil membentangkan spanduk kain dan lembaran baliho besar, warga berbaris tertib menyuarakan keluhan mereka tepat di halaman depan Kantor Desa Mliriprowo yang berasitektur khas. Salah satu baliho utama yang diusung oleh massa aksi secara tegas menuliskan tuntutan : "Menuntut Pembangunan Gorong-Gorong di RW 4 Mlirip Rowo Pajaran Utara Tarik - Sidoarjo, Kapan Dijalankan?".
Baca juga: Serba Serbi Manten Expo Nusantara 2026 Menyala di Lippo Plaza Sidoarjo
Aksi ini dipicu oleh dampak jalan penghubung antar dusun yang melintasi kawasan pemukiman warga Dusun Pajaran Utara. Warga mengeluhkan bahwa jalan lingkungan tersebut belum dilengkapi dengan sistem sodetan dan saluran gorong-gorong yang memadai, sehingga berpotensi memicu genangan air saat hujan deras.
Menariknya, aksi demonstrasi ini dikoordinatori langsung oleh M. Sobri Jaelani, yang juga menjabat sebagai Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Mliriprowo. Kehadiran figur ketua lembaga legislatif desa ini di tengah massa menunjukkan betapa krusial dan mendesaknya persoalan infrastruktur yang sedang dihadapi oleh warga di lingkungan RW 4 tersebut.
Dalam pernyataannya, M. Sobri Jaelani menegaskan bahwa dirinya berdiri bersama warga murni untuk memperjuangkan hak masyarakat Dusun Pajaran Utara yang terdampak langsung secara geografis. Ia menyebut bahwa janji untuk melengkapi jalan lingkungan dengan saluran drainase bis beton hingga kini belum kunjung direalisasikan oleh tim pelaksana di tingkat desa.
"Sebagai perwakilan masyarakat di BPD dan warga Dusun Pajaran Utara, kami menuntut kejelasan kapan pembangunan gorong-gorong ini dijalankan. Infrastruktur jalan yang mulus tidak akan berfungsi optimal jika pemukiman di sekitarnya justru terancam banjir akibat ketiadaan saluran pembuangan air," ujar Sobri Jaelani di hadapan para demonstran.
Baca juga: RS di Sidoarjo Ubah Ruang Staf Jadi Kamar Pasien Imbas Kenaikan Kasus Influenza
Warga menekankan bahwa proyek pembangunan gorong-gorong ini didanai langsung melalui anggaran Dana Desa (DD) Tahun Anggaran 2025 yang dikerjakan secara swakelola tanpa pihak ketiga. Hal inilah yang mendorong warga membawa kain putih bertuliskan keluhan dengan cat semprot merah berbunyi "DANA DESA TOK NO", sebagai desakan agar sisa pagu anggaran fisik tahun 2025 tersebut segera direalisasikan sepenuhnya untuk gorong-gorong.
Situasi aksi di halaman Kantor Desa Mliriprowo sempat menegang, namun tensi mereda setelah Kepala Desa (Kades) Mliriprowo, Mamok Widodo, keluar dari ruang kerjanya dan hadir secara langsung di tengah-tengah massa. Kehadiran orang nomor satu di pemerintahan desa ini disambut baik oleh warga yang menuntut komitmen riil secara lisan dan tertulis di tempat.
Jalannya aksi unjuk rasa warga Dusun Pajaran Utara ini mendapatkan pengawalan dan penjagaan dari sejumlah personel Kepolisian Sektor (Polsek) Tarik beserta petugas ketertiban kecamatan. Berkat kehadiran Kades Mamok Widodo dan pengawalan aparat di area kantor desa, massa aksi tetap menjaga kondusivitas wilayah dan tidak melakukan tindakan anarkis.
Baca juga: Layanan Uji KIR Drive True Dishub Sidoarjo Semakin Cepat Dan Praktis
Aksi demo ini akhirnya membuahkan hasil manis setelah dilakukan mediasi intensif antara pihak warga, BPD, dan Pemerintah Desa. Dalam kesepakatan formal tersebut, Kades Mamok Widodo menyatakan kesiapannya untuk membangun saluran gorong-gorong yang dituntut oleh warga RW 4 Dusun Pajaran Utara.
Tidak sekadar janji manis, Mamok Widodo juga menegaskan bahwa pelaksanaan pengerjaan fisik bangunan gorong-gorong tersebut akan dimulai dalam waktu seminggu ke depan. Komitmen konkret yang disertai dengan linimasa waktu pengerjaan yang jelas ini langsung disambut riuh tepuk tangan dan rasa lega dari seluruh warga yang hadir.
Sebelum membubarkan diri secara tertib dari area Kantor Desa Mliriprowo, Sobri Jaelani selaku Ketua BPD menegaskan bahwa pihaknya bersama warga Dusun Pajaran Utara akan mengawal ketat masa transisi satu minggu ini hingga pekerja swakelola benar-benar turun ke lokasi proyek. Warga berharap janji ini ditepati tepat waktu demi kenyamanan hidup dan keselamatan lingkungan pemukiman mereka dari ancaman genangan air. jum
Editor : Redaksi