SURABAYAPAGI.com, Gresik - Dalam rangka mengembangkan potensi ekonomi lokal dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di tengah penurunan alokasi Dana Desa pada 2026, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik, terus mendorong penguatan Badan Usaha Milik Desa (BUM Desa) setempat.
Oleh karenanya, pemerintah desa perlu kreatif mengelola potensi wilayah dan aset desa untuk menjaga kemandirian ekonomi di tengah keterbatasan dana transfer. “Dengan berkurangnya dana transfer, desa harus mampu mengandalkan kreativitas dalam mengelola potensi, aset, dan BUM Desa. Kemandirian desa perlu terus diperkuat agar pembangunan dan pemberdayaan masyarakat tetap berjalan secara berkelanjutan,” ujar Wakil Bupati Gresik Asluchul Alif, Selasa (13/10/2026).
Baca juga: Perkuat Kemampuan Akademik, Pemkab Gresik Biayai Bimbingan Belajar Sekolah Rakyat
Lebih lanjut, ia menyebutkan penyaluran Dana Desa di Gresik mencapai 100 persen atau Rp108,37 miliar. Sementara itu, alokasi Alokasi Dana Desa (ADD) sekitar Rp172 miliar dan bagi hasil pajak meningkat menjadi Rp147 miliar. Dan per 8 Oktober 2026, pendapatan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) tercatat Rp330 miliar, sedangkan belanja mencapai Rp267 miliar.
Baca juga: Gencarkan Uji Tera Timbangan, Pemkab Gresik Jaga Kejujuran Transaksi di Pasar
Seluruh desa di Gresik juga telah menggunakan Sistem Keuangan Desa (Siskeudes). Hingga 8 Oktober 2026, transaksi nontunai melalui Siskeudes CMS Link mencapai 17.460 transaksi dengan tingkat keberhasilan 99,9 persen. Sedangkan untuk status 100 persen desa mandiri berdasarkan indeks desa perlu diimbangi penguatan ekonomi dan pengembangan usaha produktif.
Baca juga: Dorong Gerakkan Ekonomi Desa, Pemkab Magetan Dukung BUMDes UMKM Fair
Salah satu contohnya BUM Desa Cipta Sejahtera di Desa Yosowilangun yang meraih juara pertama tingkat Jawa Timur pada 2025 dan juara kedua lomba BUM Desa Inspiratif tingkat nasional. Sehingga, adanya workshop tersebut bertujuan meningkatkan akuntabilitas pengelolaan keuangan dan pembangunan desa. gr-01/dsy
Editor : Redaksi