SURABAYAPAGI.com, Banyuwangi - Untuk pertama kalinya dalam 14 tahun penyelenggaraan, pagelaran tari kolosal Gandrung Sewu 2026 di Banyuwangi, akan menghadirkan konsep berbeda, yakni dengan melibatkan ribuan penari itu bakal digelar pada malam hari dengan konsep glow in the dark di kawasan pesisir.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengatakan, pembaruan konsep tersebut merupakan upaya untuk membawa Gandrung Sewu ke panggung yang lebih luas, termasuk tingkat dunia. Dan sebanyak 1.300 penari akan tampil di Pantai Boom Marina Banyuwangi.
Baca juga: Pemkab Banyuwangi Gelar Operasi Katarak Gratis bagi Warga Kurang Mampu
Bagi Banyuwangi, Tari Gandrung bukan sekadar atraksi wisata, melainkan bagian dari warisan budaya yang perlu diteruskan kepada generasi muda. “Kami bekerja sama dengan InJourney untuk menyajikan Gandrung Sewu yang naik kelas. Kami menyajikannya dengan konsep baru agar bisa dikenal di panggung dunia,” ujarnya, Kamis (15/10/2026).
Baca juga: Pasca Revitalisasi, Pasar Banyuwangi Jadi Destinasi Baru hingga Spot Kulineran
Direktur Utama InJourney Maya Watono mengatakan, kolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi dilakukan untuk mengembangkan potensi alam dan budaya setempat agar memberikan manfaat lebih luas bagi daerah. Pengembangan pariwisata tidak cukup hanya dengan mendatangkan wisatawan.
“Banyuwangi memiliki fondasi alam dan budaya yang kuat. Melalui kolaborasi ini, kami ingin menghubungkan seluruh potensi tersebut agar memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi daerah,” ujar Maya.
Baca juga: Lewat Teman Lansia, Pemkab Banyuwangi Pastikan Layanan Sesuai Kebutuhan
Untuk diketahui, Gandrung Sewu 2026 mengusung tema Kembang Dermo yang terinspirasi dari tradisi Seblang Olehsari, ritual adat masyarakat Osing di Desa Olehsari, Kecamatan Glagah, Banyuwangi. Kembang Dermo merupakan rangkaian bunga yang memiliki makna sakral dalam ritual tersebut, serta mengandung nilai spiritual dan filosofi kehidupan masyarakat setempat. by-01/dsy
Editor : Redaksi