SURABAYAPAGI.COM, Lamongan – Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Lamongan yang diikuti oleh Lembaga hingga Banom menggelar upacara peringatan Hari Santri Nasional (HSN) di Lapangan Kecamatan Tikung, Lamongan pada Kamis (22/10/2027).
Mengusung tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”, kegiatan ini menjadi momentum memperkuat peran santri dalam bidang keagamaan, pendidikan, pelestarian budaya, hingga pembangunan daerah.
Baca juga: 60 Kepala Sekolah Madrasah Ma’arif NU Lamongan Dilantik, Didorong Cetak Kader NU Masa Depan
Upacara dipimpin langsung oleh Ketua Tanfidziyah PCNU Lamongan, Gus Syahrul Munir, yang bertindak sebagai pembina upacara. Selain upacara, peringatan HSN juga diwarnai peluncuran buku Aswaja, pemberian apresiasi ke 21 penulis dari PC Fatayat dalam ikut andil karya tulisnya dalam Merawat Warisan Bumi Lamongan, serta peluncuran resmi GISNU.
Dalam sambutannya, Gus Syahrul Munir menegaskan bahwa santri memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga nilai-nilai keislaman dan kebangsaan sekaligus berkontribusi nyata bagi kemajuan masyarakat.
Menurutnya, santri masa kini dituntut tidak hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman, menjaga tradisi luhur, serta mengambil peran dalam pembangunan bangsa.
“Santri harus mampu menjadi generasi yang berilmu, berakhlak, mandiri, dan memiliki kepedulian terhadap lingkungan serta masyarakat. Semangat santri harus diwujudkan dalam kerja nyata yang memberikan manfaat bagi umat dan bangsa,” demikian pesan yang dapat ditekankan dalam sambutan Ketua PCNU Lamongan.
Ia juga mengajak seluruh elemen Nahdlatul Ulama, mulai dari lembaga, badan otonom, pesantren hingga para alumni santri, untuk terus memperkuat sinergi dan menghadirkan program yang manfaatnya dapat dirasakan masyarakat luas.
"Santri masa depan adalah santri yang kuat dalam tradisi, unggul dalam ilmu pengetahuan, luhur dalam akhlak, dan nyata pengabdiannya kepada masyarakat serta negara," ujarnya.
Pesan ini dapat menjadi arah pengembangan kader santri yang tidak hanya kokoh dalam keagamaan, tetapi juga kompeten dalam pendidikan, ekonomi, teknologi, sosial, dan kepemimpinan publik.
21 Penulis Buku Merawat Warisan Bumi Lamongan Terima Penghargaan
Salah satu agenda yang menjadi perhatian dalam rangkaian peringatan HSN tersebut adalah, apresiasi terhadap upaya merawat dan mendokumentasikan kekayaan budaya daerah.
Sebanyak 21 penulis buku Merawat Warisan Bumi Lamongan, yang merupakan perwakilan dari 15 Pimpinan Anak Cabang (PAC) Fatayat NU se-Kabupaten Lamongan, menerima piagam penghargaan dari Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah (Arpusda) Kabupaten Lamongan.
Piagam penghargaan diserahkan langsung oleh Kepala Dinas Arpusda Kabupaten Lamongan, Umuronah, S.S.T., M.Kes., sebagai bentuk apresiasi terhadap kontribusi para penulis dalam upaya pelestarian, pendokumentasian, dan pengenalan warisan budaya Lamongan melalui karya tulis.
Upaya pendokumentasian warisan budaya dinilai penting untuk menjaga identitas daerah agar tidak hilang ditelan perkembangan zaman. Melalui tulisan dan dokumentasi, pengetahuan mengenai tradisi, sejarah, serta kekayaan budaya Lamongan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Keterlibatan kader Fatayat NU dari 15 PAC juga menunjukkan bahwa gerakan perempuan Nahdliyin memiliki peran strategis dalam pelestarian kebudayaan. Mereka tidak hanya aktif dalam kegiatan sosial dan keagamaan, tetapi turut mengambil bagian dalam merawat identitas dan kearifan lokal Kabupaten Lamongan.
Baca juga: Bagian Kesra Sumenep Teguhkan Tradisi Keilmuan Lewat Musabaqah Qira’atil Kutub
Buku Merawat Warisan Bumi Lamongan diharapkan menjadi sumber pengetahuan sekaligus referensi bagi masyarakat, generasi muda, dan peneliti yang ingin mengenal lebih jauh kekayaan budaya daerah.
Peluncuran Buku Aswaja Perkuat Pemahaman Keagamaan
Selain memberikan perhatian terhadap pelestarian budaya, PCNU Lamongan juga menghadirkan peluncuran buku Aswaja sebagai bagian dari penguatan tradisi keilmuan Nahdlatul Ulama.
Buku tersebut diharapkan dapat menjadi sarana memperluas pemahaman Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah, khususnya di kalangan santri, pelajar, dan warga Nahdliyin.
Penguatan literasi keagamaan menjadi penting agar generasi muda memiliki landasan pemahaman Islam yang kuat, moderat, serta mampu menjaga tradisi keilmuan yang diwariskan para ulama.
Melalui pendidikan dan literasi, santri diharapkan mampu menghadapi tantangan zaman tanpa kehilangan jati diri dan nilai-nilai luhur pesantren.
Baca juga: Hari Santri, Wali Kota Ning Ita Pinta Santri Cerdas Kuasai Teknologi dan Menjaga Adab
GISNU Resmi Diluncurkan
Rangkaian peringatan HSN juga ditandai dengan peluncuran resmi Gerakan Infaq Shodaqoh Nahdlatul Ulama (GISNU) melalui gerakan Koin NU sebagai bagian dari pengembangan program PCNU Lamongan.
Kehadiran GISNU menjadi bagian dari upaya organisasi untuk terus beradaptasi dengan kebutuhan zaman dan memperkuat pelaksanaan program-programnya.
Peluncuran ini sekaligus menegaskan pentingnya inovasi dan pengembangan sistem pendukung organisasi agar pelayanan kepada warga Nahdliyin dapat terus ditingkatkan.
Peringatan Hari Santri Nasional di Kecamatan Tikung tersebut menjadi momentum untuk meneguhkan bahwa peran santri tidak terbatas pada bidang pendidikan agama, tetapi juga mencakup pelestarian budaya, kepedulian lingkungan, penguatan literasi, dan pengembangan organisasi.
Dengan semangat “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”, PCNU Lamongan berharap santri dan kader Nahdlatul Ulama terus mengambil peran aktif dalam membangun masyarakat yang berilmu, berbudaya, berdaya saing, dan peduli terhadap masa depan bangsa.jir
Editor : Redaksi