Rupiah Melemah

surabayapagi.com

SURABAYAPAGI.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Senin, bergerak melemah 55 poin atau 0,30 persen menjadi Rp18.135 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp18.080 per dolar AS, dinilai karena pengaruh kekhawatiran terhadap fiskal Indonesia.

Analis mata uang sekaligus Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuabi menilai pelemahan rupiah itu dipengaruhi kekhawatiran terhadap fiskal Indonesia kembali meningkat seiring kenaikan harga minyak global.

Baca juga: Pelemahan Rupiah Makin Dalam

“Kenaikan harga minyak berpotensi memperlebar defisit APBN (anggaran pendapatan dan belanja negara) melalui peningkatan biaya impor minyak dan beban subsidi energi serta kompensasi kepada Pertamina,” ujar Ibrahim kepada ANTARA di Jakarta, Senin.

Mengutip Anadolu, harga minyak dunia melonjak pada Jumat (23/10), dengan minyak mentah Brent mencapai level tertinggi sejak Juni 2022, di tengah kekhawatiran serangan baru AS terhadap Iran dan meningkatnya ketegangan regional yang mengancam pasokan energi.

Harga minyak mentah Brent, yang menjadi acuan internasional, naik 2,7 persen atau 3,06 dolar AS menjadi 116,20 dolar AS per barel sejak Jumat (23/10) pukul 13.50 GMT, melampaui level tertinggi yang tercatat pada awal perang.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI), yang menjadi acuan AS, menguat 3,04 persen atau 3,02 dolar AS menjadi 102,50 dolar AS per barel, level tertinggi dalam lima pekan terakhir.

Baca juga: Rupiah Menguat ke Rp17.992 Dipengaruhi Pencabutan Sanksi AS atas Rusia

Sepanjang pekan lalu, harga Brent telah meningkat sekitar 5 persen, sedangkan WTI naik sekitar 3 persen. Kenaikan tersebut membuat kedua acuan harga minyak itu berpeluang mencatat penguatan mingguan selama tiga pekan berturut-turut.

Lonjakan harga minyak terjadi seiring meningkatnya perkiraan bahwa Washington dapat kembali melancarkan serangan terhadap Iran dalam beberapa pekan mendatang. Presiden AS Donald Trump pada Kamis (22/10) mengatakan negaranya mungkin akan melakukan serangan tambahan terhadap Iran.

Para pejabat AS dan Zionis Israel disebut telah menyusun rencana untuk melancarkan kembali serangan setelah pemilihan umum paruh waktu AS.

Baca juga: BI, Batasi Pembelian Dolar AS

Selain itu, ketegangan regional juga meningkat ketika kelompok Ansarullah di Yaman terus melancarkan serangan terhadap Arab Saudi, sehingga memicu kekhawatiran mengenai ancaman terhadap infrastruktur energi. Departemen Luar Negeri AS telah memerintahkan personel yang tidak memiliki tugas penting untuk meninggalkan Arab Saudi.

“Meskipun kenaikan harga minyak dapat meningkatkan penerimaan negara dari sektor migas, manfaat tersebut berpotensi tidak cukup untuk mengimbangi kenaikan belanja energi, terutama apabila harga BBM ( bahan bakar minyak) domestik tetap dipertahankan untuk menjaga daya beli masyarakat dan stabilitas inflasi,” ujar Ibrahim.

Dengan demikian, persistensi harga minyak yang tinggi dapat dinilai mempersempit ruang fiskal dan meningkatkan risiko terhadap pencapaian target defisit APBN. ec.baq

Editor : Redaksi

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru