Presiden BEM Unair Dijemput Paksa Polda Jatim

surabayapagi.com
Presiden BEM Unair, M Rizqi Senja Wirawan.

SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Presiden BEM Unair, M Rizqi Senja Wirawan disebut sempat dijemput oleh Polda Jatim di kediamannya pada 19 Oktober 2026 kemarin.

Koordinator Lapangan (Korlap) aksi BEM UNAIR, Daniel mengatakan, penjemputan itu diduga lantaran ajakan aksi demonstrasi dalam rangka peringatan dua tahun pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka di Gedung Grahadi, Surabaya.

Baca juga: Polda Jatim Temukan Puluhan Pengunjung Positif Narkoba, Terbanyak di Station Club

Senja diduga dikaitkan dengan aktivitas pengelolaan salah satu media kolektif masyarakat yang selama ini memuat kritik terhadap kebijakan pemerintah serta informasi mengenai agenda demonstrasi di Surabaya.

“ Kami menyayangkan tekanan psikologis serta pembatasan komunikasi yang sempat dialami ketua, sekaligus mengingatkan pentingnya perlindungan hak-hak dasar bagi mahasiswa yang kritis,” kata Daniel, Senin (26/10/2026).

Ia menegaskan bahwa BEM Unair tidak anti dialog. Pihaknya tetap membuka ruang komunikasi dengan kepolisian, asalkan dilandasi asas kesetaraan, keterbukaan, dan tanpa ada unsur intimidasi.

“Kekuatan gerakan mahasiswa terletak pada kemampuannya menjaga solidaritas tanpa kehilangan daya kritis, serta membangun dialog tanpa melepaskan prinsip,” terangnya.

Ia menyerukan kepada seluruh elemen gerakan di Surabaya agar tetap tenang, menjaga kekompakan, dan tidak kehilangan fokus utama dalam mengawal berbagai persoalan publik.

Daniel menegaskan pentingnya menjaga soliditas gerakan mahasiswa dan masyarakat sipil. “Dalam situasi demikian, kami mengajak seluruh elemen gerakan untuk mengedepankan kejernihan informasi, memperkuat komunikasi, dan menghindari prasangka yang dapat mengalihkan perhatian dari agenda perjuangan bersama,” terangnya. Ia juga menegaskan bahwa setiap proses penegakan hukum perlu mengedepankan prinsip profesionalitas, transparansi, proporsionalitas, serta penghormatan terhadap hak-hak warga negara.

“Dalam konteks tersebut, kami mendorong agar setiap persoalan yang berkaitan dengan aktivitas mahasiswa diselesaikan melalui mekanisme yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan, sehingga tidak berkembang menjadi ketidakpastian maupun kekhawatiran yang berkepanjangan,” jelasnya.

Ia menekankan bahwa pihaknya akan tetap kritis, terbuka terhadap dialog, dan independen dalam menjalankan fungsi gerakan mahasiswa.

“Kami berharap setiap ruang komunikasi antarlembaga dapat menjadi sarana untuk membangun kepercayaan, menyampaikan aspirasi, dan mencari penyelesaian atas persoalan bersama,” tuturnya.

Ia menyerukan kepada seluruh elemen mahasiswa untuk menjaga fokus perjuangan dan melanjutkan konsolidasi secara kolektif.

Baca juga: Sambangi Media Center Mojokerto, AKBP Herdiawan Pamitan Mutasi ke Polda Jatim

“Kami percaya bahwa kekuatan gerakan mahasiswa terletak pada kemampuannya menjaga solidaritas tanpa kehilangan daya kritis, membangun dialog tanpa melepaskan prinsip, serta menghadapi perbedaan tanpa mengorbankan tujuan bersama,” bebernya.

Ia juga mendorong terciptanya hubungan yang sehat antara institusi negara, mahasiswa, dan masyarakat sipil.

“Kami berharap peristiwa ini dapat menjadi momentum untuk memperkuat komunikasi yang lebih terbuka dan akuntabel antara institusi kepolisian, organisasi mahasiswa, dan masyarakat sipil,” pungkasnya.

Kabar penjemputan paksa Ketua BEM Universitas Airlangga, M Rizqi Senja Wirawan, di rumahnya oleh Polda Jawa Timur membuka luka kembali relasi sipil dan arapat keamaan.

Dalam banyak pemberitaan, dikabarkan Rizqi Senja Wirawan dijemput oleh Polda Jawa Timur karena diduga terkait aktivitas pengelolaan media kolektif yang memuat kritik terhadap kebijakan pemerintah serta informasi mengenai agenda demonstrasi di Surabaya.

Sontak peristiwa ini membuat kita getir. Peristiwa itu datang tidak lama setelah serangkaian intimidasi terhadap suara-suara kritis lain seperti yang menimpa aktivis mahasiswa UI, sehingga sulit menganggapnya sebagai kejadian biasa.

Baca juga: Jalan Kunti Digedor, Belasan Orang Diamankan!

Akumulasi kejadian itu seakan terbaca jelas bahwa siapa pun yang bersuara kritis memiliki peluang diintimidasi aparat, bahkan sampai ke depan pintu rumahnya sendiri.

Ketika kritik dijawab dengan cara-cara di luar jalur hukum, yang terancam bukan hanya satu kelompok mahasiswa di Unair atau UI, melainkan keberanian semua unsur mahasiswa secara umum untuk bersuara.

Dalam kaitan ini, emosi saja jelas tidak cukup. Gerakan mahasiswa perlu berpikir lebih dingin tentang apa yang harus dibenahi, selagi masih punya tenaga. Ada tiga hal yang mendesak, ditambah satu jebakan yang sering luput dibicarakan.

Berhenti Jalan Sendiri-sendiri Persoalan laten gerakan mahasiswa adalah sekat antar-kampus. Tiap kampus punya kebanggaan, tradisi, dan kadang gengsinya sendiri. Kekuasaan paham betul soal ini.

Mengincar satu orang, menakut-nakuti satu kampus, lalu berharap kampus lain memilih diam adalah modus lama yang masih sering dipakai aparat. Karena itu, penjemputan Ketua BEM Unair semestinya tidak dibaca sebagai urusan Jawa Timur. Kalau satu aktivis diperlakukan begitu dan kampus lain hanya menonton, giliran berikutnya tinggal soal waktu. Solidaritas yang dibutuhkan sekarang bukan nostalgia 1998 yang dengan mudahnya bisa diputar di podium. Yang dibutuhkan lebih pada arah yang lebih membumi agar organ gerakan mahasiswa saling menjaga. Siapa yang menghubungi pengacara, siapa yang menyebarkan kabar secepatnya, siapa yang datang mendampingi keluarga harus dibangun dalam pondasi kebersamaan dan kejuangaan.

Dengan demikian, ancaman terhadap satu kampus harus langsung dijawab oleh banyak kampus, tanpa menunggu rapat panjang dan tanpa berdebat soal siapa yang memimpin. Pihak kampus juga tidak boleh luput dari sorotan. Rektorat yang buru-buru mengambil jarak ketika mahasiswanya berurusan dengan aparat sebenarnya sedang melepas tanggung jawab. Kampus mestinya mengajarkan keberanian kepemimpinan dan kemerdekaan berpikir--oleh karenanya haruslah berani pasang badan berdiri di belakang anak didiknya. Sby1,rc

Editor : Redaksi

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru