Kapan Pandemi Covid-19 Berakhir? Ini Kata Pakar Unair

author surabayapagi.com

- Pewarta

Rabu, 06 Okt 2021 14:39 WIB

Kapan Pandemi Covid-19 Berakhir? Ini Kata Pakar Unair

i

Petugas saat melakukan sterilisasi ruangan di RSLI Surabaya. SP/Semmy Mantolas.

SURABAYAPAGI,Surabaya - Sejak kemunculan pertama virus covid-19 di Wuhan China pada akhir 2019 lalu, hingga kini kurang lebih sekitar 235 juta orang yang telah terkonfirmasi positif. Dan lebih dari 4,8 juta orang meninggal dunia. 

Di Indonesia sendiri, data Kementerian Kesehatan pada 4 Oktober lalu menunjukan kurang lebih 4,2 juta orang terkonfirmasi positif covid-19. Dan dari jumlah tersebut, yang meninggal lebih dari 142 ribu orang. Menariknya, jumlah tersebut tidak terjadi dalam satu serangan, tapi dari beberapa gelombang. 

Baca Juga: Pemkot Surabaya Pasang 7.580 PJU Baru di 3.286 Titik

Gelombang covid-19 yang terus muncul ditambah lagi kebijakan pemerintah melalui pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) yang berkepanjangan, membuat publik bertanya-tanya kapan covid-19 akan berakhir?

Sejumlah penelitian dan ramalan yang berkaitan dengan akhir covid-19 terus bermunculan. Ada yang menyatakan pertengahan 2022, ada pula yang memprediksi akan berakhir di tahun 2023.

Terhadap sejumlah ramalan dan prediksi tersebut, Pakar Vaksinologi Dr. Dominicus Husada, dr.,DTM&H.,MCTM(TP).,SpA(K) memiliki pandangan yang berbeda. Dirinya tidak menyebutkan, secara pasti kapan pandemi covid-19 akan berakhir. 

Kendati begitu, menurut dr. Domi, setidaknya ada 3 skenario yang berkaitan dengan akhir dari covid-19. Skenario pertama adalah pandemi covid-19 akan terus menerus meneror manusia, atau dengan kata lain tidak akan pernah berakhir. Walau covid-19 terus menerus ada, namun obat-obatan untuk menyembuhkan covid-19 tersedia dan mudah diakses.

Ia pun mencontohkan, HIV yang muncul pertama kali di Amerika Serikat pada 1981 yang hingga kini masih ada.

"HIV tidak bisa sembuh, tapi bisa diperpanjang masa hidup penderitanya dengan obat-obatan yang ada. Kalau covid-19 justru lebih gampang karena bisa disembuhkan. Jadi skenarionya sama seperti HIV, virusnya tetap ada tetapi obat-obatan dan teknologi tersedia dan mampu untuk menyembuhkan," kata dr. Domi saat dihubungi, Rabu (06/10/2021).

Baca Juga: HUT ke-44 Dekranas Jatim: Isye Dorong IKM/UKM Unggulan Gebrak Pasar Dunia

Skenario kedua adalah covid-19 hilang total atau berakhir tuntas. Skenario ini mirip dengan SARScov-1, cacar, polio yang hingga kini sudah tidak ada lagi hanya masih tersisa di 2 negara. Selain itu, ada pula Flu Spanyol yang kii sudah tidak ada lagi. 

"Penyakit Pes memakan korban sebanyak 350 juta orang, tapi juga sudah musnah," katanya.

Saat ditanyai, kapan Covid-19 akan sepenuhnya tuntas teratasi, ia tidak memberikan periode waktu yang tepat. Dirinya pun mencontohkan flu spanyol yang diatasi dalam jangka waktu 5 hingga 8 tahun, dan dengan jumlah korban sebanyak 50 juta orang. 

"Untuk saat ini covid-19 masih akan berlanjut cukup lama. Gelombang datang silih berganti. Kalau sudah tiba di titik puncak, semua akan berakhir," ucapnya menghibur.

Baca Juga: Gelar Rapat Anggota Tahunan, KSDR Laporkan Kinerja Keuangan Tahun 2023

Skenario ketiga adalah, status pandemi covid-19 berubah menjadi endemi. Atau dengan kata lain, virus covid-19 akan terus ada tetapi penyebarannya hanya di suatu wilayah tertentu saja. Pada skenario ketiga ini, maka muncul konsep new normal atau hidup berdampingan dan berdamai dengan virus. Walaupun dalam beberapa hal akan menyulitkan, bila masyarakat tidak siap dan beradaptasi menyesuaikan dengan kondisi.

“Semua akan berakhir, dan kita berharap bahwa covid-19 juga akan segera berakhir. Tapi masyarakat mungkin beberapa ada yang abai. Mutasi tetap berlangsung, karena virus berusaha mempertahankan diri sebagai adaptasi terhadap alam," katanya

"Kuta tidak mungkin menghentikan kegiatan masyarakat terlalu lama. Vaksin dan protokol kesehatan adalah kunci, jangan lupa resiko penularan tidak pernah nol. Keseimbangan baru harus sudah disiapkan. Harus siap dengan pertempuran baru, dengan sains sebagai komandan," tambahnya lagi.sem

Editor : Mariana Setiawati

BERITA TERBARU