SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Usai buka berbuka puasa bersama dengan Presiden Prabowo Subianto, sejumlah tokoh dan pimpinan organisasi (ormas) Islam di Istana, berkomentar berbeda beda.
Dirangkum Surabaya Pagi dari para tokoh Jumat (6/3), tokoh tokoh Islam itu mengungkapkan pembahasan meliputi situasi geopolitik terkini, keberadaan Indonesia di Board of Peace (BoP), hingga kondisi ekonomi dan sosial Indonesia.
Silaturahmi yang berlangsung selama tiga jam itu digelar di halaman tengah Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (5/3/2026) malam.
Sebanyak 158 pimpinan ormas Islam se-Indonesia dan para pengasuh atau pimpinan pondok pesantren hadir dalam acara.
Pendakwah Dedeh Rosidah atau Mamah Dedeh mengatakan Prabowo banyak menyampaikan mengenai situasi global yang kini memanas. Utamanya, katanya, yang saat ini terjadi di kawasan Timur Tengah.
"Presiden masih bercerita tentang kondisi sekarang di luar negeri ada peperangan tadi, itu yang dia sampaikan," ujar Mamah Dedeh usai acara.
Suasana Kekeluargaan Penuh Hangat
Presiden Prabowo Subianto dan para pimpinan ormas berdiskusi tentang sejumlah hal, termasuk situasi geopolitik global.
Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Cholil Nafis berpendapat Dewan Perdamaian alias Board of Peace (BoP) sudah tak lagi efektif. Ia menyatakan Amerika Serikat selaku penggagas juga tak mengambil tindakan yang sejalan.
"Kalau kita kan melihatnya tidak efektif sudah di BoP itu karena ternyata penggagasnya juga tidak memberikan semacam gambaran, baik track record maupun sekarang yang memihak pada perdamaian," ucap Cholil di Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (5/3).
Cholil menekankan Indonesia harus berperan aktif menciptakan perdamaian dunia. Ia menyatakan jangan sampai peperangan ini berdampak negatif terhadap rakyat sipil.
"Janjinya kalau memang saya tidak bermanfaat di BoP, saya akan mundur," tambah Cholil.
Cholil menyampaikan Prabowo berjanji segala langkahnya semata-mata untuk memperjuangkan kemerdekaan Palestina. Ia menyatakan posisi Indonesia sudah sangatlah jelas dan takkan berubah soal itu.
"Kalau tidak untuk kepentingan Palestina, maka dia akan mundur," ujarnya.
Acara silaturahmi dan buka puasa Presiden Prabowo Subianto bersama para ulama dan pimpinan ormas Islam itu berlangsung dengan suasana kekeluargaan penuh hangat. Prabowo bersalaman hingga mencium tangan kiai dalam pertemuan itu.
Acara dilaksanakan menjelang jam berbuka puasa hingga Kamis (5/3/2026) pukul 23.00 WIB. Prabowo mulanya berbuka puasa bersama Rais Aam PBNU Miftachul Achyar, Ketua Umum Muhammadiyah Haedar Nashir, dan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Anwar Iskandar.
Dilihat di YouTube Sekretariat Presiden, Prabowo mulanya menemui Miftachul Akhyar yang telah berada di ruangan Istana. Prabowo juga kemudian menemui Haedar Nashir.
Acara kemudian dilanjutkan dengan silaturahmi Prabowo bersama 158 pimpinan ormas Islam se-Indonesia dan para pengasuh atau pimpinan pondok pesantren. Acara silaturahmi ini digelar di halaman tengah Istana Kepresidenan
Prabowo kemudian terlihat mencium tangan Pengasuh Ponpes Al-Falah Ploso Mojo Kediri, KH Nurul Huda Djazuli. Terlihat Nurul Huda Djazuli duduk di kursi roda yang berada di barisan depan ruangan acara.
Saat jarak antara dirinya dengan KH. Nurul Huda Djazuli semakin dekat, Prabowo segera menghampirinya. Prabowo kemudian menunduk dan menyalami pimpinan pondok pesantren itu.
Ketua Dewan Penasihat ICMI
Dalam kesempatan yang sama, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya juga turut menyapa para tamu undangan. Ia terlihat menunduk saat menyalami Pengasuh Pesantren Al Bahjah, Cirebon, Yahya Zainul Ma'arif alias Buya Yahya.
Dalam acara, hadir pula Ketua MPR Ahmad Muzani, Mensesneg Prasetyo Hadi, Menko Pangan Zulkifli Hasan, Menko PM Muhaimin Iskandar (Cak Imin), Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto dan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo.
Sementara, para kiai yang hadir, antara lain Ketum MUI Anwar Iskandar, Rais Aam PBNU Miftachul Akhyar, Ketum PBNU Yahya Cholil Staquf, Ketum PP Muhammadiyah Haedar Nashir, Pengasuh Ponpes Tebuireng Jombang Kikin Abdul Hakim, Pimpinan Ponpes Modern Gontor Hasan Abdullah Sahal dan Pimpinan Ponpes Lirboyo Kafabihi Ali Mahrus.
Ketua Dewan Penasihat Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) Jimly Asshiddiqie menyarankan pemerintah Indonesia menangguhkan kewajiban keanggotaan di Board of Peace (BoP) usai serangan Amerika Serikat-Israel ke Iran.
Jimly menyatakan penangguhan itu dilakukan secara bersyarat, yakni ditangguhkan hingga dua syarat yang diminta RI terpenuhi.
Jimly menegaskan penangguhan yang ia maksud itu bukanlah membawa Indonesia mundur dari sana.
"Misalnya yang BoP itu kita menyatakan menangguhkan kewajiban keanggotaan kita sampai dua hal. Satu, sampai perang Iran versus Amerika dan Israel ini reda. Yang kedua, sampai ada kepastian jadwal pengakuan Israel kepada kemerdekaan Palestina. Nah, kalau sudah ada kepastian, nah baru kita aktif lagi," kata Jimly.
Jimly mengatakan hubungan Indonesia dengan Amerika Serikat berjalan sangat baik selama ini. Ia menyinggung sudah dua langkah RI yang membuat Amerika senang atas peranan Indonesia.
Tak Percaya dengan Israel
Sekretaris Majelis Syuro Front Persaudaraan Islam (FPI) Muhammad Hanif Alatas mengaku menitipkan surat dari Rizieq Shihab untuk Prabowo terkait kemerdekaan Palestina.
Hanif menyampaikan surat itu pada pokoknya meminta Indonesia menarik diri dari keanggotaan BoP. Ia mengaku sama sekali tak meragukan niat baik Prabowo. Namun, ia tak percaya dengan Amerika Serikat dan Israel.
"Nabi-nabi saja, para Rasul saja dikhianati oleh Israel, apalagi cuman kita manusia biasa," kata Hanif usai pertemuan dengan Prabowo.
Menurut Hanif, Prabowo menyampaikan siap keluar dari BoP jika dianggap tidak lagi sejalan dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina.
"Pernyataannya seperti itu. Tapi kita tetap enggak perlu nunggu itu, dari sekarang aja, orang udah terbukti kok Amerika dari dulu nggak bisa dipercaya," ujarnya.
Sementara itu, Pimpinan Ponpes Ora Aji Yogyakarta, Miftah Maulana Habiburrohman atau Gus Miftah, mengatakan Prabowo menjelaskan sikap Indonesia dalam Board of Peace (BoP). Prabowo, kata Gus Miftah, menyatakan keanggotaan Indonesia di BoP bukanlah harga mati sehingga bisa keluar kapan saja.
"Ada delapan negara yang Islam, terbesarnya di Indonesia, yang berkomitmen gabung ke BoP. Tapi sekali lagi presiden menekankan bahwa ini bukan harga mati. Artinya kalau tidak sesuai dengan kesepakatan awal maka Indonesia siap keluar dari BoP itu sendiri. Nah kapannya ini belum disampaikan," katanya.
Gus Miftah mengatakan Prabowo berharap para pemimpin ormas Islam dan ponpes memperluas pesannya kepada jemaah, santri dan masyarakat.
"Karena ini tokoh-tokoh agama, ketua-ketua ormas dan para kiai-kiai, presiden punya harapan bahwa informasi yang tadi kiai dapatkan bisa disampaikan kepada jemaah, kepada santrinya, kepada masyarakat. Kira-kira pesan presiden seperti itu," ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Pimpinan Ponpes Lirboyo Kafabihi Ali Mahrus atau Kiai Kafa menyebut Prabowo banyak membahas situasi panas global. Prabowo, kata dia, menegaskan komitmen Indonesia untuk andil menciptakan perdamaian dunia.
"Dan beliau pesankan, menyampaikan tentang perdamaian di dunia. Jadi perang itu kan membahayakan, jadi apa yang disampaikan oleh beliau itu cukup baik," tutur Kiai Kafa.
Indonesia Bersimpati Kepada Iran
Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla atau JK mengungkap isi pertemuan sejumlah tamu undangan dengan Presiden Prabowo Subianto pada Selasa (3/3) lalu. Dia mengungkapkan pertemuan itu banyak membahas soal keadaan negara dan arah kebijakan ke depan.
"Ya bagaimana keadaan negara, dijelaskan bagaimana kebijakan, keadaan negara," kata JK saat ditemui wartawan usai mengisi ceramah di Masjid Kampus UGM, Kamis (5/3/2026) malam.
Saat ditanya wartawan mengenai bagaimana sikap Indonesia terhadap perang antara Iran dengan Israel-AS, JK berharap Indonesia bersimpati kepada Iran.
"Ya, itu tentu, tentu kita mengharapkan beliau untuk memberikan simpatilah kepada Iran," ujar JK.
JK mengatakan, upaya mendamaikan negara yang sedang berperang tidaklah mudah.
Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 mewanti-wanti permasalahan konflik saat ini cukup besar.
"Ya niat, rencana, itu baik saja. Tapi ini situasi yang jauh lebih besar masalahnya. Ya Palestina dengan Israel saja tidak bisa, sulit didamaikan. Karena dunia ini sangat ditentukan oleh sifat dan Amerika," ujar JK kepada wartawan di Jakarta Selatan, Minggu (1/3/2026).
JK kemudian mengungkit perjanjian pemerintah Indonesia dengan AS yang menurutnya merugikan. Menurut JK, Indonesia berada dalam posisi tidak setara dengan AS. n erc/jk/bin/rmc
Editor : Moch Ilham