12 Menteri India Mundur, Menkes Budi Dimana Hati Nuranimu...

Raditya Mohammer Khadaffi

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Rabu hari ini PPKM sudah berlangsung 25 hari kerja. Praktis bila PPKM level 4 tanggal 2 Agustus berakhir, umur “lockdown” di Indonesia, sudah satu bulan lebih. Tapi jumlah kematian masih meninggi, tidak landai. Ini artinya, PPKM tidak ada hasilnya. Dimana hatinurani para menteri yang mengurus penanganan covid-19? Mengapa mereka tidak melempar handuk putih, tanda menyerah. Apakah menteri-menteri pembantu presiden Jokowi, yang menangani pendemi covid-19, terutama Menkes Budi Gunadi Sadikin, tidak berani mengundurkan diri, sebagai sikap gentlemen seorang satria yang gagal menjalankan tugas negara, menyelamatkan jiwa manusia rakyat Indonesia dari semua lapisan.

Dorongan saya ini, mengingat kejadian di India. Dua belas anggota Dewan Menteri Perdana Menteri India Narendra Modi, termasuk enam anggota senior Kabinet, mengajukan pengunduran diri. Menteri Kesehatan, Harsh Vardhan, juga diminta mengundurkan diri.

Dikutip dari media Jerman, Deutsche Welle, 8 Juli 2021 lalu, Perdana Menteri Modi, juga melantik 43 menteri baru dalam perombakan besar-besaran, di mana enam anggota junior naik jabatan. Dewan itu juga diperbesar dari 52 menjadi 77 anggota, hanya tiga di bawah batas konstitusional.

Perombakan dan penambahan baru anggota kabinet menandakan perubahan pertama pada Kabinet Modi ketika India berusaha untuk mempercepat program vaksinasinya sembari bersiap untuk kemungkinan gelombang infeksi lain.

India telah mencatat lebih dari 400.000 kematian akibat Covid-19 sejak pandemi dimulai, angka kematian tertinggi ketiga di dunia di belakang AS dan Brasil.

***

Mengutip data di laman Covid19.go.id pukul 17.15 WIB, tanggal 2 Juli 2021, jumlah kasus terkonfirmasi positif Covid-19 di Indonesia bertambah  25.830 pasien.

Penambahan kasus harian tersebut kembali menjadi rekor tertinggi di Indonesia selama pandemi Covid-19. Sehari sebelumnya, kasus harian Covid-19 tembus 24 ribu kasus, dengan pertambahan 24.836 positif. Jadi total kasus terkonfirmasi positif Covid-19 di Indonesia tanggal 2 Juli, yakni 2.228.938 pasien.

Sementara data pada Kamis (1/7/2021), total pasien positif Covid-19 sebanyak 2.203.108 orang.

Satu hari sebelumnya, total pasien yang sembuh yakni 1.890.287 orang. Berarti ada penambahan pasien sembuh sebanyak 11.578 orang. Sedangkan total pasien meninggal dunia mencapai 59.534 orang.

Pada hari Selasa (27/7/2021) kasus virus corona (Covid-19) bertambah 45.203 kasus. Secara keseluruhan, kasus positif Covid-19 hingga sore kemarin sudah mencapai 3.239.936. Jadi ada penambahan 1.010.998 orang. Berarti rata-rata per hari sejak awal PPKM darurat ada 40.439 orang terpapar virus corona.

Kasus kematian terkait Covid-19 tercatat sebanyak 2.069. Total sampai Selasa sore sudah menjadi 86.835 orang meninggal terkait Covid-19. Dengan demikian selama 25 hari PPKM darurat ada penambahan orang meninggal sebanyak 27.301 orang. Praktis rata-rata setiap hari selama PPKM darurat ada 1.092 orang meninggal. Sementara pasien sembuh bertambah 47.128. Jadi tercatat ada 2.596.820 orang telah sembuh dari Covid-19 sejak awal pandemi.

Saya mencatat, selama PPKM darurat vaksinasi makin digiatkan. Tujuannya untuk melindungi warga dari penularan Covid-19. Secara teori vaksinasi menjadi salah satu upaya penting dalam mengurangi penyebaran virus corona. Karena melalui vaksinasi diharapkan dapat mengurangi lonjakan kasus yang sekarang sedang terjadi.

Dari data orang terpapar, sembuh dan meninggal menunjukan vaksinasi bukan segalanya atau penularan virus telah berakhir.

Tapi siapa yang menyangka ada lonjakan kasus dari hari ke hari. Lonjakan tidak hanya jumlah yang tertular terus meningkat, tetapi penularan yang cepat dan meluas ke hampir semua daerah, khususnya di Pulau Jawa. Termasuk yang meninggal, baik dalam perawatan maupun isolasi mandiri.

Padahal masyarakat sudah ditekan untuk menerapkan protokol kesehatan. Terutama kewajiban tetap memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan dengan sabun di air mengalir, menjauhi kerumunan, membatasi mobilitas dan interaksi.

Selain pemerintah melakukan upaya testing, tracing dan treatment. Dan utamanya treatment  (perawatan) kepada warganya yang  terpapar.

Rumah sakit selama PPKM juga penuh dengan pasien. Bahkan ada rumah sakit yang membuka tenda. Ini dilakukan untuk menampung pasien. Semuanya untuk menyelamatkan pasien agar kondisi tidak semakin memburuk. Tapi di lapangan obat covid-19 kosong. Ini dilacak sendiri oleh presiden Jokowi. Lalu apa ada hati nurani dari menteri kesehatan? Apakah karena menkes bukan seorang dokter ia bisa melupakan hati nurani seperti bila menkes berlatarbelakang dokter.

Akal sehat saya seorang menkes saat pandemi sekarang ini bisa lebih persuasif dalam melayani publik agar menanggapi ancaman pandemi dengan lebih serius.

Katakan seorang menkes yang lulusan insinyur nuklir tak mungkin bisa menghentikan pandemi. Namun, sebagai menkes ia harus meningkatkan persiapan agar tak banyak nyawa yang melayang seperti yang terjadi saat ini.

Dalam bahasa awam, menkes yang memiliki hati nurani bisa mewujudkan sesuatu yang berujung pada perasaan menyesal ketika melakukan suatu tindakan yang bertentangan dengan nilai moralnya. Misalnya mengambil prakarsa menjual vaksin berbayar. Padahal negara menetapkan gratis. Juga tidak mengecek di lapangan ketersediaan obat covid-19.

Akal sehat saya lalu bilang di negara kita saat pandemi ini bisa dibilang nyawa punya harga yang murah. Ini karena ada sejumlah menteri tak mengedepankan hati nuraninya.

Pertanyaannya apakah untuk menekan angka kematian pasien covid-19, cukup hanya mempercepat vaksinasi, membiasakan gaya hidup sehat yang selalu disampaikan saat ada vaksinasi. Tidak?

Sebuah penelitian menyebut masyarakat harus meningkatkan daya tahan tubuh. Termasuk ketersediaan obat yang gampang dicari di apotik dan toko obat dengan harga terjangkau. Termasuk anjuran kemenkes ke masyarakat agar aktif secara fisik. Ini untuk mengurangi risiko rawat inap pasien Covid-19.

Kini angka kematian yang tinggi mesti dilakukan evaluasi. Terutama penanganan kasus Covid-19 di tingkat nasional maupun daerah. Menkes Budi Gunadi Sadikin, yang bukan seorang dokter, saran saya gunakan hati nurani. Serahkan jabatan menkes ke ahlinya. Dokter-dokter senior yang matang berorganisasi dan punya leadership kuat. Ini karena pendemi covid-19 adalah musibah.

Sebagai jurnalis muda yang berakal sehat, mari kita semua introspeksi. Ini menyangkut bencana pandemi yang mengancam banyak nyawa manusia. Mari kita gunakan akal sehat dan hati nurani.

Di India banyak menteri yang gagal tangani pandemi covid-19 mundur, masak menteri-menteri di Indonesia yang lebih beradab jawa, ngotot masih ingin mencari tantangan. Saya sadar pandemi bukan bisnis. Pandemi bukan sebuah tantangan. Pandemi ini bencana yang mesti ditangani sebuah tim yang tidak berlepotan dengan kepentingan bisnis vaksin. ([email protected])