5.500 Karyawan BTPN "Ditendang" Digitalisasi Perbankan

Gedung Bank BTPN

 

Perbanas Nilai Dalam Dunia Digitalisasi, Karyawan Masih Tetap Dibutuhkan, tinggal Dipoles Soal Skill di Tiap SDM

 

SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Lagi, tahun 2021 ini, bank milik manajemen Sumitomo Mitsui Financial Group, PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk (BTPN), akan memangkas karyawan hingga 5.500 orang. Pada periode tahun 2016-2018, BTPN juga mengurangi sekitar 6.000 karyawannya di Seluruh Indonesia. Pertimbangannya, karena BTPN akan bertransformasi menjadi bank digital. Pemangkasan karyawan kali ini sama seperti empat-lima tahun lalu yaitu dilakukan melalui program pengunduran diri sukarela.

Direktur Utama BTPN Ongki Wanadjati Dana mengatakan penciutan karyawan itu dari jumlah karyawan BTPN kurang lebih 7.400 orang. Ini berarti kini BTPN tinggal punya 1900 karyawan. Karyawan tersisa mayoritas atau sekitar 74 persen merupakan generasi milenial usia 25-39 tahun dan Gen Z usia 19-24 tahun.

"Karyawan kami awalnya 12 ribu, cabang kami awalnya 1.200. Hari ini, dengan digitalisasi 5.500 karyawan kami memilih karir yang lain, dan sampai hari ini saya cukup bersyukur semuanya kerja di tempat yang mereka inginkan atau menjadi pengusaha kecil-kecilan," ujarnya dalam LPPI Virtual Seminar #47: Human Capital Investment in Digital Era, Kamis (6/5/2021).

Mulanya, ia menuturkan manajemen BTPN melakukan sosialisasi kepada seluruh karyawan bahwa perseroan memutuskan untuk masuk ke industri bank digital. Pasalnya, transformasi menjadi bank digital harus dilakukan oleh BTPN agar bisa bertahan.

"Jadi, setelah sosialisasi itu terus kami sampaikan pada mereka ini adalah masa depan kita. Kalau kita ingin masuk ke arah sana tentunya kita harus berubah termasuk Anda semua, berubah kemampuan, cara kerja, pola pikir, dan sebagainya," imbuhnya.

Sosialisasi itu berlangsung pada kurun waktu 2016-2017. BTPN, lanjutnya, juga membuat program transformasi digital bagi para karyawan yakni Gemilang. Setelah keluar dari program tersebut, BTPN memberikan pilihan pada karyawan untuk tetap bertahan bekerja di BTPN atau memilih karir lain.

"Bagi yang tidak merasa ini adalah hal yang mereka bisa kerjakan, kami berikan pilihan pada mereka. Ada yang mau pensiun, ada juga yang ingin coba karir beda, dan kami berikan dukungan sepenuhnya. Jadi, waktu itu ada program untuk mengundurkan diri sukarela," terangnya.

 

Bank Harus Berinovasi

Dampak digitalisasi inipun direspon oleh Pengurus Perbanas Pusat. Meski begitu, menurut Pengurus Perbanas Pusat, para pekerja di dunia perbankan tidak perlu khawatir dengan munculnya era digitalisasi seperti saat ini.

"Jangan khawatir dengan adanya digital, justru dengan adanya digital kita dituntut untuk lebih kreatif dalam bekerja. Saya pun tidak melihat ini peluang kehilangan pekerja. Di BCA ada 25.000 karyawan dan dengan banyaknya platform yang diluncurkan pekerjaan makin bertambah," ujar Vera Eve Lim, pengurus Perbanas Pusat yang juga Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA), kemarin.

Vera menambahkan, semakin banyak produk yang diluncurkan, maka spektrum akan makin luas. Dengan demikian, pada era digital ini job desk karyawan akan lebih fokus kepada penyelesaian masalah yang tidak dapat ditangani oleh layanan digital. "Karyawan tetap dibutuhkan untuk menangani hal-hal yang tidak bisa dilayani dengan digital. Justru skill karyawan akan kita upgrade," tegasnya.

 

Perkuat Skill dan SDM

Pihak perbankan pun menyadari, tak semua hal dapat dilakukan oleh teknologi digital, misalnya yang berkenaan dengan transaksi di atas Rp 1 triliun. Untuk itu, digitalisasi harus diikuti dengan membangun bisnis model yang cocok dengan nasabah. "Harus fokus dulu membangun bisnis model yang cocok dengan nasabah. Punya aplikasi mobile bukan berarti sudah digital. Yang paling penting bisnis model yang cocok dan lakukan analisis yang baik agar customer experience juga berkembang," ujarnya.

Hal senada disampaikan Direktur PT Bank Mandiri (Persero) Tbk sekaligus Pengurus Pusat Perbanas Rico Usthavia Frans. Menurutnya, fungsi teller dan customer service bank akan berganti dari hanya menghitung uang dan melayani administrasi nasabah, menjadi penyelesai masalah di era digital. Oleh karena itu, karyawan bank dituntut ke depannya harus memiliki skill yang lebih mengarah kepada pelayanan untuk menyelesaikan masalah berat nasabah yang berkaitan dengan fraud transaksi digital.

“Jadi, teller dan customer service harus berubah fungsi yang tadi cabang banyak yang datang untuk menabung sekarang tugasnya adalah menyelesaikan masalah yang kompleks. Ini membutuhkan skill yang berbeda dari teller yang tadinya hanya menghitung uang,” pungkasnya.

 

Tsunami PHK Perbankan

Sementara, sumber dari internal Perbanas, pemangkasan di dunia perbankan sudah terjadi pada tahun 2017 hingga kini. Pemangkasan itu terjadi ketika dimulainya digitalisasi di dunia perbankan.

Bank-bank besar di Indonesia pun juga terdampak sejak tahun 2017. Seperti PT Bank Danamon Tbk, sejak tahun 2017 total sudah memangkas lebih dari 10.000 karyawannya. Baik karyawan tetap atau karyawan tidak tetap.

Bahkan, bank yang masuk dalam naungan BUMN, seperti Bank Mandiri, Bank Tabungan Negara (BTN) serta Bank BRI, rata-rata dalam tiga tahun terakhir sudah mengurangi total sekitar 2.000 karyawannya. jk/erk/cr2/ril/rm