6 Daerah di Jatim New Normal, Surabaya Masih Jauuuuuhhh...!

Rapid tes massal yang digelar oleh Badan Intelegen Negara (BIN) di Terminal Keputih, Surabaya, Kamis (4/6/2020). Foto SP/Arlana

SURABAYAPAGI, Surabaya - Enam dari 38 kabupaten/kota di Jawa Timur (Jatim) resmi memberlakukan masa transisi sebelum masuk masa kenormalan baru atau new normal. Ketiga daerah itu yakni Kota Malang, Kabupaten Malang,  Kota Batu, Pacitan, Blitar dan Banyuwangi, Khusus wilayah Malang Raya, dinyatakan sukses menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB).  Sementara, Surabaya, hingga Jumat (5/6/2020) disebut masih jauh untuk bisa dikatakan siap menerapkan new normal. Pasalnya, hingga semalam, kota Surabaya ada penambahan 52 kasus baru, praktis total yang positif Covid-19 berjumlah 2.880 kasus. Apalagi, dengan perilaku masyarakat Surabaya, yang disebut masih belum siap diatur dengan pembatasan.

 Hal ini diungkapkan dua pakar yakni Sosiolog Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Bagong Suyanto dan Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Surabaya dr Brahmana Askandar, yang dihubungi terpisah Jumat kemarin.

Bagong Suyanto menuturkan, sebetulnya untuk menerapkan hidup baru atau new normal di Surabaya, masih sangat jauh untuk bisa terealisasi. Hal itu terlihat dari perilaku masyarakat yang sulit untuk memenuhi protokol kesehatan terutama masyarakat di daerah padat penduduk.

“Sebab selama (PSBB), pendekatan yang dilakukan pemerintah lebih pada pendekatan yang sifatnya ancaman hukuman atau regulasi. Sementara kalau memang mau menyiapkan masyarakat menyambut new normal, pemerintah juga sudah harus siap melakukan pendekatan yang tidak menghomogenisasi seluruh masyarakat Surabaya dengan satu pendekatan itu. Harus ada alternatif,” jelas Bagong Suyatno.

Guru besar sosiologi Unair ini menambahkan, persoalan saat ini adalah cara memfasilitasi dan mempercepat kesiapan masyarakat. Hal itu supaya kesiapan masyarakat dalam merespon new normal tidak gagap atau tidak ketinggalan dan bahkan bisa mengancam keselamatan.

"Tapi perlu begini, jangan hanya menjelaskan arti penting new normal itu dari segi medis artinya mengancam keselamatan nyawa dan sebagainya. Justru itu pemerintah itu harus menggeser, selama ini kan kepada medis dan ekonomi, sosialnya kan belum digarap. Sekarang kan butuh fokus penangan untuk COVID-19 ini sosial juga harus diperhatikan, harus mau membantu kesiapan masyarakat ke arah sana," jelasnya.

Cara itu, katanya, ada penekanan pendekatan yang digunakan dalam menghadapi new normal tidak dihommogenisasi atau disamaratakan. Pemerintah juga harus merangkul kelompok masyarakat sebagai support sistem. Dan juga, salah satu fokus pemerintah yaitu memiliki skala prioritas dengan memilih kelompok-kelompok yang harus diprioritaskan.

 

Kasus Positif Belum Melandai

Sementara, dari segi medis dan perilaku, Ketua IDI Surabaya melihat Surabaya pun masih belum layak menjalankan new normal itu. Pasalnya, hingga saat ini, masih belum menunjukkan tren penurunan kasus Covid-19. “Kalau di Surabaya belum tepat untuk melakukan new normal. Bahkan di Jatim pun, belum bisa dikatakan tepat waktu. Apalagi dengan perilaku dan kesiapan masyarakat. Saya pesimis,” beber dr Brahmana.

Hal itu berkaca pada kondisi masyarakat sekarang yang kerap kali mengabaikan mengikuti aturan physical distancing. "Kita lihat saja aturan PSBB masih banyak yang tidak mengindahkan. Apalagi kalau menerapkan new normal imbauan physical distancing, tidak bergerumbul pakai masker bisa saja malah tidak diikuti dengan benar," ujarnya.

Menurut Brahmana, new normal baru ideal dilakukan saat kasus corona di Surabaya mulai melandai. "New normal itu sebaiknya diterapkan ketika kasus sudah mulai turun, transmisi lokal sudah mulai melandai. Kalau sekarang di Surabaya masih di tengah-tengah perjuangan. Jadi masih belum melandai," katanya.

Di sisi lain, jika new normal benar-benar diterapkan, ia hanya bisa berharap masyarakat makin sadar menaati segala protokol kesehatannya. "Kami sendiri tidak tahu kapan berakhir (pandemi corona). Jadi kalau ada protokol new normal itu PR-nya 1, harus ditaati oleh masyarakat. Tapi kalau aturan new normal tidak ditaati, hasilnya tidak optimal, korban-korban akan berjatuhan," tutup dia.

 

Malang Raya Lebih Siap

Sementara itu, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa melihat, penerapan new normal di 6 daerah sudah bisa disiapkan per Juni 2020 ini. Bahkan, Malang Raya disebut sebagai daerah yang menerapkan PSBB paling berhasil, ketimbang Surabaya Raya.  "Masa transisi di Malang Raya ini resmi diberlakukan per 1 Juni ini," kata Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa, di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, kemarin.

Meski telah menerapkan PSBB, angka kasus di Malang Raya cukup tinggi, yakni ada tambahan 17 pasien baru positif covid-19, hingga 6 Juni 2020. Rinciannya, 14 kasus di antaranya dari Kota Batu, dua di Kabupaten Malang dan satu kasus di Kota Malang. Namun, Khofifah melihat, kasus tersebut pergerakan sejak bulan Mei. "Sebenarnya ini kasus per akhir April, tapi kemudian terkonfirmasi lagi pada Mei," kata dia.

Khofifah mencontohkan 14 kasus baru di Kota Batu yang diumumkan hari ini, sudah dinyatakan sembuh. Khofifah mengaku sudah berkomunikasi dengan beberapa pasien tersebut saat berkunjung ke Kepanjen, Kabupaten Malang pada 16 Mei 2020. "Karena itu tadi, waktu di tes swab PCR, hasilnya baru hari ini diumumkan oleh pemerintah pusat," ucap dia.

 

Siap Buka Lagi Sektor Wisata

Tak hanya Malang Raya, ada tiga kabupaten lainnya di Jawa Timur yang siap dengan New Normal. Mereka  Banyuwangi, Blitar dan Pacitan.

Menurut Dinas kebudayaan dan Pariwisata (Disbupar) Jawa Timur, daerah yang siap dengan New Normal bakal siap mengoperasikan tempat wisatanya. Dari enam daerah tersebut, Banyuwangi melaporkan ke Disbudpar Jatim sangat siap membuka wisata new normal. Sementara Kota Batu yang dikenal sebagai kota wisata juga sedang menyiapkan bersama Kota dan Kabupaten Malang. "Banyuwangi kemarin melaporkan sudah siap. Kota Batu, setelah PSBB tidak di perpanjang mulai mempersiapkan sebaik-baiknya," ujar Kepala Disbudpar Jatim, Sinarta, kemarin.

Sinarta juga mengingatkan perihal protokol kesehatan, sebelum wisata new normal dibuka di enam daerah itu. Tak hanya itu Standard Operasional Prosedur (SOP) khusus juga harus disiapkan serta disosialisasikan. Termasuk penyediaan tempat cuci tangan, pengukur suhu tubuh, hand sanitizer dan layanan kesehatan "Semua pengelola wisata, baik wisata alam, wisata budaya, dan wisata buatan harus mengikuti dan menyesuaikan dengan protokol kesehatan," ucapnya.

 

Stiker New Normal

Sementara itu, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, New Normal bakal disesuaikan dengan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat Banyuwangi.

Adapun "Kebiasaan Anyar" ini mulai diterapkan dari berbagai kegiatan pelayanan publik. Hal itu dilakukan mengingat pandemi COVID-19 belum dapat dipastikan kapan akan berakhir atau ditemukan vaksinnya.

Oleh sebab itu, Pemkab  Banyuwangi akhirnya menerapkan pelayanan masyarakat mulai dari tingkat desa dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) tertentu yang disesuaikan dengan protokol kesehatan. "Karena kita belum tahu sampai kapan COVID-19 ini akan berakhir, maka kita kemudian memulai bagaimana desa-desa memberikan pelayanan tapi dengan SOP," jelas Bupati Azwar Anas.

Adapun dalam penerapannya, Pemkab juga memberikan arahan kepada masyarakat agar selalu mematuhi dan melaksanakan apa yang telah dianjurkan dalam poin-poin "Kebiasaan Anyar", seperti aturan protokol kesehatan dalam pelayanan publik.

Hal itu juga berlaku bagi sektor pariwisata, mengingat Banyuwangi yang juga terkenal dengan julukan "Sunrise of Java" itu memiliki ragam destinasi wisata dan menjadi nafas perekonomian utama di ujung timur Pulau Jawa. "Hotel ada yang sudah paket dengan rapid test. Bandara ada SOP untuk menjemput tamu. Ketika turun (dari pesawat) mereka (penumpang) harus diperiksa dan dites. Travel harus jelas. Restoran harus kita kurasi dan kami kasih sticker New Normal. Semua tamu wajib dikasih hand sanitizer," jelas Bupati Azwar Anas.

Apa yang telah dilakukan Pemkab Banyuwangi dalam rangka menegakkan upaya pencegahan penyebaran COVID-19 dan tetap menjalankan roda ekonomi pariwisata itu sekaligus menjadikan Banyuwangi ditunjuk sebagai role model wilayah untuk re-opening pariwisata bersama Bali dan Pulau Bintan. byt/ptr/eko/adt