8 Tahun Tutup, Praktik Prostitusi di Eks Lokalisasi Masih Jalan

Salah satu eks lokalisasi Dolly yang dibeli Pemkot Surabaya mangkrak

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Tempat prositusi Dolly dan kompleknya sudah ditutup oleh Pemkot Surabaya sejak 27 Juli 2014. Sewindu sudah bisnis prostitusi yang konon terbesar terbesar di Asia Tenggara ini sirna. Tidak tampak lagi nyala lampu warna-warni di tiap wisma. Begitu pula keberadaan para wanita pekerja seks komersial. Ditutupnya kompleks lokalisasi Dolly pada jaman Wali Kota Tri Tismaharini ini pun akhirnya disulap menjadi tempat bermanfaat. Mulai taman baca hingga sentra UMKM. Namun belakangan, sejumlah kawasan itu disebut-sebut menggeliat kembali.  Aktifitas transaksi seksual masih berlangsung di kawasan itu, tetapi dilakukan secara terselubung alias sembunyi-sembunyi.

“Putat Jaya sudah mulai kembali seperti dulu. Sudah mulai ada yang buka layanan. Nggak banyak. Kalau malam, di warung-warung Gang Putat Jaya Lebar B itu bisa dilihat,” ujar Ketua RT salah satu wilayah terdampak penutupan eks lokalisasi pada wartawan, Senin (4/7/2022).

Adanya rumor itu menarik perhatian Anggota Komisi A DPRD Surabaya, Imam Syafi’i untuk melakukan investigasi. Mantan wartawan yang kini terjun sebagai politisi itu, Kamis (30/6/2022) pukul 23.30 WIB, melintasi Jalan Girilaya tidak jauh dari depan gang Dolly. Kendaraan sengaja dipacu perlahan, untuk menarik para calo yang rumornya mangkal di sekitar kawasan tersebut.

Benar saja seorang lelaki berusia sekitar 25 tahun melambaikan tangannya. “Nggolek cewek tah Mas?,” ujar pria gondrong tersebut.

Pria itupun menghampiri kemudian mengeluarkan HP-nya, lalu memperlihatkan deretan foto wanita. “Silakan pilih Mas. Yang ini usianya 26 tahun. Ini 27 tahun. Nanti mainnya di dalam situ,” imbuhnya sembari mengajak masuk ke wisma di tepi jalan yang pintunya tertutup. Di dalam wisma terdapat warung kopi lengkap dengan deretan bangku.

Pria itu mengatakan, praktek prostitusi terselubung disini sudah berlangsung lama. “Memang sering ada mobil patroli polisi, tapi sekedar lewat saja. Jadi sistemnya kayak on call, Mas. Kita nggak berani terang-terangan. Pilih ceweknya lewat foto tadi, nanti tak bawa ke sini. Kostnya deket sini-sini ae,” jelasnya.

 

Tak Sesuai Foto

Tak lama kemudian datang seorang wanita berpakaian seksi dengan make-up yang cukup tebal. “Lha kok ngene? Umure di atas 30-an iki. Gak cocok karo fotoe. Wis gak jadi,” ujar Imam Syafi’i.

Di tengah perbincangan, datang 2 pria kemudian duduk dibangku. Satu di antara mereka tertarik dengan wanita tersebut. Lalu mereka berdua naik ke lantai 2.

“Takut juga sebenarnya Mas kalau melayani tamu disini. Lagi pula tempatnya nggak bersih, jorok. Biasanya saya melayani tamu di hotel lewat mami saya yang satunya,” ujar wanita PSK saat nongkrong di salah satu cafe.

Wanita bertubuh langsing berumur sekitar 25 tahun tersebut menambahkan, tarif di Dolly Rp300 ribu short time.

“Saya dapat 125 ribu, Mas. kemudian wismanya 50 ribu. Sisanya dibagi para makelar. Tapi sering nggak jelas pembagiannya,”  imbuhnya.

Persoalan klasik membuat wanita ini menjalani profesi sebagai pekerja seks.“Ya biasa lah, Mas. Masalah keluarga. Punya suami nggak jelas. Sedangkan saya butuh uang,” pungkas wanita asal Cirebon tersebut.

 

Kurang Perhatian Pemkot

Sementara itu, Nirwono Ketua RT 5 RW 3 Kampung UMKM Kreatif Putat Jaya 2A mengatakan hal ini dipicu oleh berkurangnya perhatian Pemkot Surabaya dalam melakukan pendampingan UMKM menjelang berakhirnya masa kepemimpinan Risma.

“Kita juga serba repot. Sebagai RT kita nggak bisa melarang, mereka juga cari makan. Tapi kan sayang banget, kalau UMKM bisa dimaksimalkan untuk membantu perekonomian mereka. Mungkin nggak sampai begitu,” ujarnya.

Mereka yang sebelumnya terbiasa dengan mudah mendapatkan pundi-pundi rupiah, kata Nirwono, tidak menutup kemungkinan bisa berbalik arah kembali menekuni bisnis prostitusi jika tidak diberdayakan.

Dia juga menyayangkan sebanyak 24 aset dari 32 aset bangunan rumah bekas lokalisasi yang telah dibeli Pemkot Surabaya di sekitar area Dolly saat ini tutup dan mangkrak, belum difungsikan secara produktif.

“Dari 32 aset yang dimiliki Pemerintah Kota Surabaya ada delapan aset yang sudah difungsikan. Salah satunya bekas Wisma Barbara yang jadi Koperasi Usaha Bersama produksi sandal slipper untuk hotel. Itupun saat ini pekerjanya diambil dari luar penduduk wilayah terdampak lokalisasi,” ujarnya.

Nirwono menyayangkan, kelanjutan pemberdayaan UMKM warga sekitar sudah tidak lagi sepadat sebelumya. Bahkan unit bisnis di sekitar kawasan Dolly justru diisi oleh warga luar wilayah Putat, Dolly dan sekitarnya.

Senada, Anggota Komisi A DPRD Surabaya, Imam Syafi’i menyayangkan masih adanya praktek prostitusi di eks lokalisasi Dolly. “Tidak hanya di Dolly, di eks lokalisasi Moroseneng, Sememi juga ada. Padahal di kedua eks lokalisasi ini sudah terdapat usaha padat karya yang dibuat oleh Pemkot,” imbuhnya.

Imam berharap, semoga ada upaya serius dari Pemkot Surabaya untuk mengatasi persoalan sosial ini. “Seharusnya, tidak hanya melarang gadis-gadis itu bermaksiat. Tapi juga dicarikan solusi yang manusiawi. Agar mereka tidak terus menerus ke jalan sesat dan menyesatkan itu. Dosa besar ini,” tegasnya.

Politisi Partai NasDem Surabaya ini menambahkan, sudah menyampaikan temuannya ini kepada 31 camat dan 154 se-Surabaya saat rapat dengan Komisi A DPRD Surabaya. alq/cr2/ana