Undercover Dolly 7 Tahun Setelah Tutup

Ada Rumah Kuliner Incomenya Cuma Rp 100 ribu/hari

Pengki, pembina Rumah Batik di kawasan eks lokalisasi di Jalan Putat Jaya sedang menyelesaikan canting pada kain batik di Rumah Batik. Sp/Patrick

 

Saat Masih Lokalisasi PSK, Income Gang Dolly Sehari bisa Rp 2 Milliar

 

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya- Masa kejayaan rumah d/l wisma wisma di gg Dolly Putat jaya pasca ditutup Pemkot tahun 2014, kini sirna. Saat masih berstatus lokalisasi pelacuran kelas menengah dan terbesar di Asia Tenggara ini bisa mengais income Rp 2 miliar satu hari. Ini untuk satu gang Dolly. Kini satu rumah yang sudah beralih status rumah kos, rumah usaha kuliner, kerajinan dan pelatihan. Satu rumah incomenya cuma Rp 100 ribu, sehari. Memang ironis. Tapi ini realita pilihan pemerintah daerah kota Surabaya dan Propinsi Jawa Timur. Tim wartawan Surabaya Pagi yang melakukan undercover selama dua hari di gg Dolly dan perkampungan Jarak melaporkan, suasana dua jalan itu kini tidak seramai tahun 2014 ke bawah. Tempat parkir malam, jualan minuman keras dan warung sate, kini berubah jadi tempat pelatihan dan sentra kerajinan serta kuliner. Suasananya tak seramai saat masih menjadi lokalisasi pelacuran.

Gang fenomenal yang menjadi daya tarik bagi laki-laki dewasa untuk sekedar plesir sesaat terletak di Kelurahan Putat Jaya Surabaya. Bahkan Gang Dolly disebut sebagai kawasan prostitusi terbesar di Asia Tenggara.

Diceritakan Ryan, warga Girilaya yang berdomisili di area tersebut mengungkapkan jika sejak kecil dirinya dibesarkan dengan lingkungan prostistusi yang terlanjur memiliki brand besar itu. Dulunya transaksi esek-esek menjadi hal wajar ia saksikan sebelum akhirnya berubah total 2014 silam semenjak Wali Kota Tri Rismaharini menempuh langkah besar untuk menutup gang legendaris tersebut.

"Dulu banyak cewek-cewek majang di kawasan sini. Muda, STW (setengah tua, red) berjejer di banyak rumah sampai sana. Pokok rame. Apalagi kalau sudah kapal sandar di Perak. Banyak banget," cerita pria 31 tahun itu saat ditemui Surabaya Pagi di salah satu warkop yang berada Gang Dolly.

Namun, penutupan yang dilakukan oleh Pemkot Surabaya kala itu tak serta merta berjalan mulus. Terdapat ratusan serikat warga dan wanita pekerja seksual (WPS) melakukan perlawanan. Alasannya hanya satu. Mereka mengaku kehilangan satu-satunya mata pencaharian.

Tujuh tahun berselang, kini, beberapa wisma yang dulunya jadi langganan pria hidung belang, sudah berubah menjadi sebagai pusat pelatihan dan penjualan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang memproduski tas, sepatu, sandal, dan sandal hotel.

Bahkan, Pemkot Surabaya juga telah membangun beberapa taman ramah anak. "Itu dulunya punya siapa namanya saya lupa. Akhirnya dibeli sama pemkot miliaran saat itu. Sekarang jadi tempat produksi barang pakai," imbuh Ryan sambil menunjuk salah satu wisma besar yang saat itu sempat berjaya di Gang Dolly.

Meski tak seramai dulu, sentra UMKM itu, tambah Ryan menjadi tempat di mana warga terdampak menyambung hidupnya dengan berjualan kerajinan warga. "Ini maunya kan dibentuk untuk menjadi sentra kerajinan dari warga sini. Jadi bisa cari uang dengan nyaman. Tapi jauh (pendapatannya) deh bro ketimbang dulu," katanya lagi.

 

Kuliner Hingga Kos-kosan

Hal senada juga diungkapkan Mamik, pemilik usaha makanan, kuliner dan kos-kosan ini. Mamik mengaku sempat terkejut dan menentang tindakan pemkot yang merubah wajah gang yang selama ini menjadi sumber penghasilannya. "Kalau dihitung-hitung ya jauh mas sama pendapatan yang dulu. Sekarang ya paling pol-polan Rp 50 ribu sampai Rp 100 loh sehari. Itupun susah. Kalau saya kan ditunjang sama kos-kosan saya," ceritanya.

Selain beralih fungsi dari wisma menjadi barang kerajinan dan rumah kos, sebagian warga juga membuka jasa pencucian motor yang berjejer rapi di gang sekitar. Juga tersedia salon yang turut serta melengkapi variasi usaha warga eks Gang Dolly itu.

Dari pantauan Surabaya Pagi di sepanjang gang Dolly itu, beberapa rumah yang pernah dijadikan wisma beragam dibuat tempat usaha. Mulai usaha mandiri hingga ada yang dibawah binaan Pemkot Surabaya.

Mulai dari usaha kuliner, kerajinan tangan, sentra UMKM binaan Pemkot hingga kos-kosan. Dari kos-kosan sendiri, merupakan kos-kosan campur lelaki dan wanita. Sepanjang gang Dolly, kurang lebih lima kos-kosan bebas.

 

Ada yang Menolak

Iktikad baik yang diambil Pemkot Surabaya untuk mengkaryakan eks WPS Dolly tak melulu berjalan mulus. Eks WPS menolak mengikuti program yang disediakan. Warga bahkan menyebut mereka masih praktik di lokalisasi berbeda.

Selain WPS, para petugas parkir dan petugas pengamanan Dolly juga tidak tertarik bergabung dengan program pemerintah. Mereka beralasan apa yang ditawarkan tidak sebanding dengan yang mereka peroleh pada masa jayanya Dolly.

"Banyak yang nolak waktu itu mas, gila apa kita biasa menghasilkan Rp 300 sampai Rp 500 ribu dalam sehari hanya dari lahan parkir dan warung makan. Akhir pekan malah Rp 1 juta ke atas loh. Kemudian dikagetkan dengan pembubaran. Munting awak dewe bos," imbuh Mamik.

Meski begitu, masih ada beberapa warga yang ikut pendampingan dibawah naungan Pemkot Surabaya. Seperti Rumah Batik dan UMKM Inovasi Mandiri minuman dan makanan. Mereka berada di Putat Jaya, keluar sedikit dari gang Dolly.

 

Rumah Batik

Seperti Rumah Batik, yang diasuh oleh Pengki, mampu menjadikan wadah pelatihan warga maupun wisatawan tentang batik.

Pengki menjelaskan bahwa setelah penutupan lokalisasi ditetapkan Rumah Batik sebagai tempat belajar untuk pelatihan membatik bagi warga di Putat Jaya. Seiring berjalannya waktu respon warga kota Surabaya meningkat sehingga Rumah batik menarik minat warga di luar Putat Jaya.

“Pertama warga yang terdampak penutupan eks dolly diharapkan mendapatkan ketrampilan dalam membatik. Setelah bisa membatik bisa memproduksi sendiri dengan harapan meningkatkan pendapatan,” ungkap Pengki.

Rumah Batik merupakan UKM binaan Pemkot Surabaya, awalnya didirikan pada 2016 merupakan sarana belajar serta observasi bagi warga tanpa dipungut biaya. “Pelatihan membatik disini dibina mulai dari nol hingga bisa memproduksi mandiri. Untuk konsultasi kesulitan bisa dilakukan di Rumah Batik dan fasilitas juga disediakan lengkap,”jelasnya.

Rumah Batik satu - satunya yang ada di Indonesia yang mewadahi pelatihan dan pembinaan bagi warga sampai bisa. Biasanya Rumah Batik dimiliki oleh perorangan.  Pengki mengatakan kampung Jarak cukup produktif menjadi sentra UKM sehingga meningkatkan perekonomian di kawasan tersebut. “Warga binaan yang sudah mandiri juga mampu membuka lapangan pekerjaan guna meningkatkan penghasilan dan produksi membatik,”pungkasnya.

Tidak hanya berfokus pada membatik, di tempat ini juga ada pelatihan untuk mengelola kain kreatif, seperti jumbutan, shibori, eco print, sulam pita dan lukis.

 

Berimbas karena Pandemi

Berbeda dengan Rumah Batik, UMKM Mandiri yang memproduksi minuman olahan rumput laut, tinggal di kawasan eks lokalisasi pada awal-awal cukup memiliki potensi. Apalagi, dengan dibina oleh Pemkot Surabaya, hasil produknya bisa dijual di Gedung Siola Tunjungan.

Sarbani, pemilik olahan minuman bernama Orumy ini, menjelaskan bahwa awal – awal masih ramai produksi minuman, namun saat ini sudah sangat berkurang. Dari segi pemasaran didampingi oleh mahasiswa sehingga masih bisa mengangkat hasil penjualan.

“Faktor utama dari kesulitan pemasarannya dikarenakan kesulitan pada pandemi ini, biasanya produk minuman orumy masih bisa ditopang melalui stand di Gedung Siola Tunjungan, kini dipasarkan Dolly Saiki Point dan dibantu mahasiswa lewat pemasaran online,” ucapnya.

Ia berharap pada Pemerintah Kota Surabaya Eri Cahyadi agar perekonomian di wilayah Putat Jaya khususnya kampung dolly bisa kembali bangkit. Apalagi rumah – rumah yang dipilih oleh Pemkot bisa digunakan nantinya untuk pengembangan UMKM di kampung dolly dan memasarkan produk. “Perlunya bantuan pemerintah untuk membantu memasaran produk – produk UMKM,”tutupnya.

Ia mengharapkan warga Dolly dan Jarak bisa berkolaborasi untuk memajukan perekonomian terutama Karang Taruna bisa lebih aktif lagi dibidang UMKM. Pasca penutupan lokalisasi Dolly yang aktif dalam UMKM yang mengawali kampung Jarak terdapat UMKM banyak berbeda kampung Dolly sampai sekarang Barbara yang hanya memproduksi sepatu.

 

Pemkot Belum Sentuh Langsung

Sementara itu, Ketua RW 11 Putat Jaya, Sutoharip mengatakan bahwa dirinya mendukung penuh terhadap kemajuan perekonomian di wilayah tersebut harus diimbangi dengan modal dan pelatihan terhadap warga yang mempunyai minat dan mau bekerja di bidang usaha.

“Saat ini Putat Jaya terdapat kurang lebih 20 UMKM yang aktif seperti Rumah Batik, ada lagi Rumah Kreatif tetapi pembelinya tidak ada. Iya gitu – gitu saja, kalah sama warung – warung biasa. Selain itu, asset rumah – rumah yang dibeli oleh pemerintah kota kini belum juga digunakan. Lebih aneh lagi pengurus kampung tidak boleh mengetahui asset yang dibeli tersebut dipakai apa,”ucapnya.

Ia menambahkan mengenai UMKM memang masih belum mendapatkan sentuhan langsung dari Pemerintah Kota. “Sepertinya UMKM masih jalan sendiri - sendiri. Dari segi dana mereka menggunakan modal sendiri. Dana umkm yang dijanjikan juga belum tahu sudah cair apa belum,”jelasnya.

 

Keamanan Aman

Sementara itu, Kapolsek Sawahan Kompol Wisnu Setyawan melalui Kanitreskrimnya, Iptu Ristitanto mengatakan jika keamanan eks Gang Dolly saat ini cukup kondusif. "Aman. Warga juga menjalani rutinitas seperti biasanya ko," katanya, Rabu (19/5).

"Jarang terjadi tindak kriminalitas di daerah sana. Jadi aman-aman saja," imbuhnya. fm/pat/cr2/rmc