Ada yang Ngilu, Demam dan Biasa

Salah seorang tenaga kesehatan tengah disuntik vaksin covid-19

 

Pengakuan Nakes dan Politisi Surabaya Pasca Vaksin

 

 

 

 

 

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Vaksinasi Covid-19 dengan vaksin Sinovac saat ini tengah digencarkan oleh pemerintah ke sejumlah tenaga kesehatan (nakes) di Indonesia, termasuk di kota Surabaya. Total hingga Kamis (21/1/2021), sudah 3.327 orang nakes atau 11,89 persen. Sedangkan, ada 360 orang nakes tak belum lolos tahap skrining menerima vaksinasi dosis pertama.

Meski begitu, vaksin Sinovac sendiri dinilai oleh Ketua Uji Klinis Vaksin Covid-19 dari Universitas Padjadjaran Bandung, Prof. Kusnadi Rusmil, belum sepenuhnya ampuh. Ia mengatakan uji klinis fase ketiga yang dilakukan pihaknya sebenarnya belum selesai. Tim masih harus menganalisis perkembangan hingga enam bulan setelah vaksinasi terakhir dilakukan terhadap relawan.

"Sebelum penelitian diambil darah, kemudian disuntik dua kali dengan vaksin ini. Setelah disuntik 14 hari ambil darah, tiga bulan ambil darah dan 6 bulan ambil darah. Yang belum kami lakukan pemantauan setelah 6 bulan. Yang 3 bulan setelah penyuntikan sudah selesai," katanya.

Dirinya juga menjelaskan, terkait efikasi vaksin Sinovac yang hanya bisa memberikan nilai kebermanfaatan 65,3%. ”Vaksin ini tidak benar-benar bisa melindungi sepenuhnya orang yang sudah diimunisasi kebal dari penularan virus corona. Ia memperingatkan masyarakat tetap menerapkan protokol kesehatan. Itu membuktikan orang yang divaksin masih bisa kena. Karena kami sedang terus melakukan uji klinis,” tegasnya.

 

Agak Ngilu dan Demam

Meski belum begitu ampuh, namun puluhan hingga ratusan ribu vaksin Sinovac pun sudah dilakukan penyuntikan ke sejumlah pihak hingga nakes. Dari penelusuran Surabaya Pagi, beberapa nakes yang sudah divaksin Sinovac dosis pertama ini, hingga Kamis (21/1/2021) berbagai macam efek samping yang diterima. Ada yang tidak merasakan apapun. Namun ada yang merasakan, ngilu atau demam.

“Sudah divaksin mas. Awalnya yah deg-degan. Tapi setelah itu biasa saja,” kata PR, salah satu nakes dari salah satu RS Swasta di kawasan MERR Surabaya Timur, yang meminta namanya tidak dikorankan, Kamis (21/1/2021).

Hanya saja, tambah PR, sejak Rabu (20/1/2021) kemarin, dirinya merasakan demam tetapi tidak sampai suhu tinggi. Selain itu juga merasa ngilu di lengan. “Apa mungkin kecapaian, atau abis disuntik (Sinovac) di lengan sini. Juga kemarin (Rabu, red) ada rasa greges sumer-sumer ngunu mas (sedikit demam). Suhu 37,2. Sebetulnya masih normal. Makanya, aku sih tak buat positif wae. Ehh.. tapi temen lho mas, ojok ditulis namaku kalau dikoran. Iso-iso kalau ketauan, ijinku dicabut. Aku cuma ngomong apa adanya saat ini. bukane aku nolak vaksin,” kata PR, sambil mewanti-wanti namanya tidak dikorankan. PR sendiri mendapat vaksinasi Covid-19 pada Senin (18/1/2021) lalu.

 

Tidak Merasakan Apapun

Namun, hal berbeda juga diungkapkan, seorang nakes di sebuah Puskesmas di Surabaya. Sebut saja, QQ, nakes yang telah mendapat vaksinasi Covid-19 pada Sabtu (16/1/2021), hingga Kamis kemarin tidak merasakan apapun.

“Tak ada rasa apapun. Biasa saja. Makanya, kita harus percaya pada pemerintah, agar vaksinasi dijalankan. Meski begitu, tetap patuhi prokesnya,” menurut QQ, saat ditemui di rumahnya, Kamis kemarin.

Dia bersama ribuan nakes yang sudah disuntik, setelah disuntik vaksin Sinovac kali ini, akan kembali menjalani penyuntikan tahap kedua. Namun, dirinya belum mengetahui. “Belum tau, katanya memang akan ada vaksinasi lagi tahap kedua. Untuk penguatan. Coba tanya ke Dinkes saja,” beber QQ.

 

Banyak Nakes yang Belum Divaksin

Sedangkan, vaksinasi terhadap nakes di Surabaya pun belum sepenuhnya merata. Masih banyak nakes yang menunggu giliran untuk mendapat vaksinasi. Dari pengakuan beberapa nakes di RSU dr. Soetomo yang belum menerima vaksin Covid-19, sebagian mengaku belum begitu yakin terhadap dampak yang diberikan oleh vaksin tersebut. "Kita belum divaksin, masih takut efek sampingnya, lagipula kita belum dapat giliran," ucap salah seorang perawat senior yang enggan namanya dikorankan.

Begitupun Nakes yang berada di luar kota Surabaya, di Gresik, mengaku belum menerima vaksinasi itu. Dirinya menuturkan jika ketersediaan dan giliran yang belum sampai. "Belum, belum giliran saya, belum sampai Kalimantan mungkin," ungkap Gondiar yang bekerja sebagai dokter di Puskesmas wilayah Gresik.

 

Tak Ada Gejala Apapun

Sedangkan, koordinator tim vaksinasi nakes RS National Hospital, dr Silvia Haniwijaya Tjokro MKes mengatakan, dari pemberian vaksin sinovac pada nakes berjalan dengan lancar. Bahkan tidak ada satu pun nakes yang menunjukkan gejala atau efek samping.

"Selama observasi hingga kini, tidak pernah ada keluhan apapun. Di sini buka Senin-Sabtu ada 2 sesi tiap sesi maksimal 20 orang," kata dr Silvia, kemarin.

Sementara itu, Direktur RSIA Kendangsari Merr dr Sukamto SpOG mengingatkan, meskipun sudah disuntik vaksin COVID-19, protokol kesehatan tetap harus dipatuhi. "Jadi gini, kekebalan itu tidak langsung ada setelah disuntik, butuh waktu sekitar 3 bulan untuk kekebalan itu tumbuh. Jadi memang prokes 3M atau 5M harus tetap dipatuhi," pungkasnya.

Pelaksanaan vaksin COVID-19 ini dilakukan dua kali. Setelah divaksin pertama, dua pekan kemudian akan kembali divaksin di tempat fasilitas kesehatan yang telah ditentukan. Rencananya 33.023 nakes se-Surabaya akan divaksin. Vaksin untuk nakes ini ditargetkan rampung dalam 3 minggu.

 

Ketua DPRD Surabaya Sehat

Sementara itu Ketua Komisi A DPRD Surabaya, Pertiwi Ayu khrisna mengingatkan warga Surabaya untuk tidak khawatir mengenai vaksinasi yang tengah digencarkan oleh pemerintah pusat maupun Pemkot Surabaya. Setelah pada beberapa waktu lalu vaksinasi telah dilakukan oleh Forkopimda Kota Surabaya.

Menururt Ayu, pemerintah tengah melakukan upaya terbaik untuk warganya dalam mencegah penyebaran virus corona yang semakin meluas.  "Menurut saya itu tidak perlu khawatir dengan kabar-kabar meninggal, cacat. Itu tidak benar, buktinya Ketua DPRD Surabaya ini sehat-sehat saja itu setelah divaksin," kata politisi Partai Golkar itu.

Meski demikian, penerima vaksin harus menjalani observasi terlebih dulu. Pemerintah Kota Surabaya sudah menyiapkan tempat observasi di Balai Kota. "Tapi harus diperhatikan, kalau punya penyakit tidak bisa langsung divaksin, seperti saya yang belum bisa divaksin kata dokter kemarin," imbuhnya.

Ayu meminta masyarakat masyarakat tidak perlu termakan hoax yang dibuat oleh sebagian orang yang tidak bertanggung jawab. Ia mengatakan demi kebaikan bersama.

Ketika ditanya mengenai mengapa Indonesia memilih jenis Sinovac daripada jenis vaksin lain, dirinya berpendapat lebih kepada kecocokan karena makanan serta iklim yang ada di Indonesia. "Itu tergantung iklim dan makanan kita ya, kalau di Eropa kan makanannya beda sama kita, iklimnya juga beda. Ini hanya kecocokan saja," ceritanya.

 

Wakil Ketua DPRD Jatim Sehat

Sedangkan, terpisah, Wakil Ketua DPRD Jatim Sahat Tua Simanjuntak usai divaksin bersama Wakil Gubernur Emil Dardak, pada Kamis (14/1/2021) lalu, hingga Kamis (21/1/2021) juga tidak mengalami kendala apapun. “Sampai sekarang, tidak ada gejala apapun. Kondisi tetap baik. Gak ada yang ngilu apapun. Wis sehat terus,” kata Sahat, kemarin.

Karena itu dia berpesan tidak ada yang ragu untuk vaksin. Sebab, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sudah menyatakan vaksin aman. Begitu juga Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah memastikan vaksin halal.  

Pesan sama juga disampaikan politisi Partai Golkar itu, dimana dia mengajak masyarakat Jatim untuk ikut melakukan vaksinasi sesuai tahapan yang akan di atur oleh pemerintah. Dia juga bersyukur Jatim bisa memulai program vaksinasi ini dengan lancar. alq/fm/rko/erk/cr2/rmc