AHY Nyatakan Kudeta, Kampanye untuk Demokrat

Dr. Agus Mahfud Fauzi, M.Si (kiri); Fahrul Muzaqqi, S.IP, M.IP (tengah); Faqih Alfian, S.IP, M.IP (kanan)

Analisis Berita dari Pengamat Politik Unair, Unibraw dan Unesa Surabaya

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya – Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menyebut ada upaya merebut posisi Ketum Partai Demokrat. Isu pengambilalihan jabatan disebut sebagai bukti adanya ketidaksolidan dalam lingkup internal Partai Demokrat. Namun sikap AHY ini dianggap oleh tiga pengamat politik dari Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Universitas Brawijaya (Unibraw) Malang dan Unersitas Negeri Surabaya (Unesa) Surabaya, sebagai ajang kampanye untuk Partai Demokrat di pertempuran Pilpres tahun 2024

Pengamat Sosiologi Politik Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Dr. Agus Mahfud Fauzi, M.Si menyebut ancaman kudeta terhadap kepemimpinan Ketua Umum Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) hal yang wajar. Mengingat, Demokrat pernah menjadi pemenang di Indonesia di Pemilu 2009.
Selain Demokrat, Agus mencontohkan sejumlah partai yang pernah terpecah usai kalah di Pemilihan Presiden. "Ketika kalah, ada internal partai yang ingin membawa gerbong berkoalisi dengan pemerintah, namun ada pula yang ingin tetap di luar," kata Agus, Selasa (2/2/2021).
Hal ini dianggap sebagai penyebab terbelahnya partai hingga memunculkan dualisme. Bukan hanya setelah Pemilu, tambah Agus, potensi keterbelahan ini sudah ada sejak sebelum pemilu dan saat ini giliran Demokrat yang sedang 'digoda'.
Sekalipun demikian, ada sisi positif yang bisa diambil dari Demokrat dalam isu kudeta ini. Di antaranya, banyak orang yang membicarakan Demokrat. "Itu sebuah kampanye yang bermanfaat untuk partai politik. Ketika dibicarakan sekalipun tentang perpecahan atau isu lainnya akan menjadi magnet tersendiri. Tak mudah menghadirkan perhatian masyarakat. Meskipun, jika tak diantisipasi hal ini bisa menjadi ancaman serius bagi partai," katanya.
Sekalipun demikian, Agus menilai kejadian ini bukan agenda setting dari Demokrat atau AHY untuk sekadar mempopulerkan partai.
Sehingga, kuncinya ada pada AHY. Apabila mampu memadamkan konflik di internal Demokrat dengan efektif, partai berlambang bintang bersinar tiga arah ini akan kembali berjaya. "Partai Demokrat pernah jaya di Indonesia. Meskipun saat ini sedang down (menurun), namun masih sangat berpeluang untuk berjaya lagi," kata Agus.

AHY Kurang Gentle


Meski begitu, Agus menilai AHY kurang gentle dalam menyikapi isu tersebut. "AHY itu memberikan informasi ke publik namun tidak yakin, sehingga beliu meminta klarifikasi ke Jokowi. Harusnya AHY bisa langsung menegur yang bersangkutan," terangnya.
AHY, tambah Agus, pasti mengetahui siapa yang menjadi sumber informasi. “Harusnya, AHY bisa galih secara detail kepada sumber informasi terkait siapa oknum yang dimaksud," tandas pengamat Politik dari Unesa ini.
Agus Machfud Fauzi, melumrahkan, dalam sebuah gerakan politik, isu kudeta sangat wajar terjadi. Baik isu yang dibentuk oleh lawan, kawan, atau mungkin penduduk pemerintahan. Namun yang perlu digaris bawahi, isu tersebut tentu menggiring sorotan publik kepada Partai Demokrat dan Personal AHY.
"AHY dan Demokrat akan beruntung jika bisa mengelola isu ini. Namun, akan blunder jadinya jika tidak ada tindak lanjut dari Demokrat terkait isu ini," jelasnya.
Ia pun menilai bahwa dalam menanggapi isu ini, AHY terlalu responsif. "AHY sangat susah digeser dari Demokrat. Harusnya dia tau. Tapi mengapa dia terlalu responsif dalam menanggapi isu kecil ini ?," tanya Akademisi Unesa itu.

Dinamika Internal


Sebagai Pakar Sosiologi Politik, dirinya menjelaskan bahwa ada beberapa hal yang harus dilakukan oleh AHY maupun Partai Demokrat untuk menyelesaikan isu ini. Karena isu tersebut sudah di expose kepada publik oleh AHY. “AHY dan Demokrat harus membuktikan kebenaran informasi tersebut dan juga mengekspos kepada publik apapun yang telah diklarifikasi Jokowi," ungkapnya.
Problematika ini, menurut Agus, adalah dinamika internal yang direspon terlalu berlebih. Namun karena sudah terlanjur, AHY dan Demokrat harus mengupas tuntas isu ini agar tidak merugi.
Rongrongan terhadap kepemimpinan AHY memang bisa muncul dari dua arah. Baik internal maupun eksternal. Seperti halnya partai lain, pihaknya tak memungkiri, terpilihnya AHY sebagai Ketua Umum juga masih menimbulkan gejolak di internal.
Sehingga, pernyataan AHY yang menyebut ada mantan internal Demokrat ingin membuat gerakan kudeta dinilai cukup relevan. "Ada yang mungkin merasa lama membesarkan Demokrat, namun merasa iri dengan terpilihnya AHY. Mengingat, proses kaderisasi AHY yang relatif singkat," katanya.
Dari unsur eksternal, lebih disebabkan peluang kontestasi kandidat calon presiden di 2024. Pun demikian dengan partai lainnya, Demokrat dinilai masih memiliki peluang untuk mencalonkan kader terbaiknya.

Kegaduhan Internal Partai


Tak jauh berbeda dengan Agus Machfud Fauzi. Pengamat Politik dari FISIP Unair, Fahrul Muzaqqi, S.IP, M.IP., sangat menyayangkan dengan apa yang telah dilakukan oleh AHY.
Dirinya mengamati, sebagai tokoh sentral dan juga Ketua Umum Partai Demokrat, AHY tak semestinya menampilkan kekhawatirannya di depan publik. Selain menimbulkan kegaduhan, hal tersebut juga dirasa tak pantas dilakukan oleh putra dari pendiri Partai Demokrat itu. "Sebetulnya AHY tak perlu berstatement, itu malah mengundang kegaduhan internal Demokrat," ujar Fahrul.
Jika memang dirasa perlu berbicara, tambah Fahrul, tidak perlu AHY sendiri yang berbicara. “Masio AHY sedang geram dan kesal, khan bisa pejabat Demokrat yang lainnya yang bicara," tuturnya.
Dalam situasi ini, AHY mestinya tak perlu khawatir berlebihan. Karena menurut Akademisi Unair itu, mengingat kursi kekuasaan AHY sangat sulit untuk di tumbangkan.
Fahrul Muzaqqi melihat potensi besar yang dimiliki oleh Partai Demokrat. “Maka dari itu, Sebisa mungkin SDM dalam Demokrat dapat dikelola dengan baik. Jangan sampai terjebak dalam poros pemerintahan,” tekannya.
Untuk saat ini, kata Fahrul, AHY hendaknya memperkuat solidaritas dari partai yang sudah dibentuk 19 tahun lalu itu. "Nantinya jika problematika sudah selesai, barulah AHY muncul untuk memberikan statement. Nampaknya itu bisa meminimalisisr kegaduhan," tegas Fahrul.

Jadi Problem Nasional


Sedangkan, isu terkait dengan pengambilalihan kepemimpinan Partai Demokrat ini, dilihat Faqih Alfian, S.IP, M.IP., pengamat Politik dari Universitas Brawijaya Malang, seakan-akan terlihat sebagai sebuah problematika nasional.
“Hal tersebut seharusnya hanya menjadi sebuah dinamika partai secara internal, tanpa harus menyiarkan secara luas, sampai problematika tersebut menjadi problem demokrasi secara nasional," ujar Faqih.
Dinamika internal partai yang sedang terjadi seperti saat ini adalah fenomena lazim dalam sebuah organisasi. “Seyogyanya pula diselesaikan secara internal, walaupun ada sinyalir keterlibatan dari pihak eksternal," tambahnya.
Faqih Alfian, melihat ini sebagai bentuk yang kurang bijak bagi seorang pemimpin (partai). Terlebih tanpa ada kejelasan seperti saat ini dan hanya tuduhan yang didasari dari beberapa laporan anggota.
 “Karena fenomena ini jamak terjadi dalam sebuah dinamika partai. Beberapa tokoh yang disebutkan juga terbagi dari internal dan juga eksternal. Kecenderungan pihak internal sangat besar, karena dinamika internal Demokrat sedang tidak kondusif akhir-akhir ini," jelas Faqih.

Posisi AHY
Hal itu disampaikan pengamat politik Unibraw Malang ini, karena posisi AHY saat ini sudah menjadi Ketua Umum Partai dan sudah sangat kuat. Meskipun, tambah Faqih, AHY sangat sulit digulingkan, namun penunjukkan internal Demokrat yang menjadikan AHY sebagai Ketua menimbulkan resistensi dari beberapa tokoh internal sehingga kecemburuan akan muncul dari hal tersebut.
"Harusnya yang dilakukan oleh AHY lebih bijak. Karena permasalahan Partai Demokrat terlepas benar adanya keterlibatan dari pihak luar, harusnya disikapi dan diselesaikan secara internal, tanpa menyebarkan narasi-narasi kepada publik tersebut," pungkasnya. mbi/cr2/rmc