AHY, Umumkan Kudeta, Program Citra 'Politik Meratap'

Dr. H. Tatang Istiawan

 

Selamat Datang Politik akal Sehat Jelang Pilpres 2024 (2)

 

 

 

 

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Sejarah mencatat, Partai Demkrat  (PD) telah diakui menjadi sebuah partai politik Indonesia papan atas.

Partai ini didirikan pada 9 September 2001 dan disahkan pada 27 Agustus 2003. Konon pendirian partai ini erat kaitannya dengan niat untuk membawa Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), menjadi presiden.

Saat itu SBY menjadi Menteri Koordinator bidang Politik dan Keamanan di bawah Presiden Megawati.

Kini SBY, berhenti sebagai Ketua Umum PD. Sementara Megawati, masih merengkuh jabatan Ketua PDIP. Praktis, Megawati tidak berperang melawan AHY. Tetapi dengan PD.

Catatan jurnalistik saya, saat terjadi perang dingin antara SBY dan Megawati, suami Megawati Taufik Kemas menyebut, SBY sebagai 'anak kecil'. Ini karena SBY dianggap tak berani bicara langsung dengan Megawati dalam rapat kabinet. SBY justru berkoar di media massa.

Atribut “anak kecil” kini kembali digulirkan untuk AHY, yang mengaku akan di kudeta. Padahal ia masih memegang tampuk pimpinan Partai Demokrat. Gerakan kudeta ke AHY, ternyata tak nyata ada. Kecuali baru kabar-kabari tentang pertemuan antar mantan kader Demokrat dengan mantan Panglima TNI Moeldoko, membahas kepemimpinan AHY di partai Demokrat.

Menurut akal sehat saya, sebagai mantan prajurit,  AHY, meski baru berpangkat mayor, ia pasti tahu aksi sebuah kudeta.

Contoh teraktual sebuah kudeta saat ini adalah kudeta Militer di Myanmar. Kudeta ini mendapat perlawanan dari rakyat. Dalam kudeta itu, militer juga menahan Kanselir Aung San Suu Kyi dan Presiden Win Myin berserta anggota kabinet. Sementara di Partai Demokrat, siapa pengurus partai yang disingkirkan? Apakah AHY, juga telah didepak?

 

***

Apa yang diumumkan AHY melalui konferensi pers Selasa lalu bagian dari realita politik. Tinggal bagaimana orang menyikapinya.

Orang bisa menyorot sosok AHY pimpinan partai politik sedang menarik simpati publik dengan memainkan strategi public relations atau putra sulung SBY ini benar-benar ingin membangun peradaban politik yang santun.

Dalam strategi public relations, misalnya, AHY bisa meniru gaya SBY, yang saat berkuasa sering memposisikan penguasa yang teraniaya.

Apakah AHY benar mengadopsi gaya politik SBY yang menampilkan dirinya sebagai pihak yang teraniaya?. Keterangan pers yang menyebut telah terjadi kudeta, mengesankan demikian. Kudeta tidak ada, kecuali pertemuan antar mantan kader PD dengan Moeldoko, seorang pensiunan jenderal TNI yang kini menjabat Kepala Staf Kepresidenan (KSP).

AHY lupa, gaya seperti pimpinan partai yang teraniaya telah membuat orang muak. Gaya seperti yang dilakukan SBY, kini sudah using. Apalagi setelah Risma, menjadi Mensos. Mantan Walikota Surabaya ini juga suka memainkan pencitraan terhadap dirinya. Bedanya Risma, tidak bergaya teraniaya, tetapi mencari perhatian publik.

Nah, nada-nadanya, AHY saat ini seperti bermain citra 'politik meratap'. Ada gambaran jelas, AHY menggerakan pengurus DPP PD untuk melakukan politik teraniaya agar bisa menarik simpati publik.

Apalagi dalam 3x Pemilu, suara PD di tingkat nasional terus melorot. Bisa jadi tahun 2024, bila AHY tidak melakukan pencitraan-pencitraan, pemilih PD bakal makin anjlok.

Apakah untuk mengerem pemlih yang dulu mengagumi SBY, perlu diikuti AHY dengan model baper (bawa perasaan)?

Nada-nadanya, isu yang digulirkan AHY saat ini, bila dikelola kubu AHY dengan cerdas, bisa menjadi sebuah strategi politik memulihkan suara PD seperti era tahun 2004 dan 2009.

 Apalagi sampai AHY bisa menggoreng isu keterkaitan Moeldoko secara running. Peristiwa ini bisa menjadi liputan  yang suram era pemerintahan Jokowi. Dan gorengan semacam ini bisa membuahkan pertengkaran yang tak perlu dengan teman, dan rekan sesama politisi.

Cara AHY menarik keterkaitan Moeldoko bertemu mantan kader PD dengan istana, menurut akal sehat saya, taktik politik melambung. Anak SBY ini ingin menyeret presiden Jokowi, ke persoalan internal PD, yang sebenarnya sebuah intrik politik klasik yang telah lama tumbuh di tubuh partai berlambung mercy.

Inil;ah gambaran konstelasi politik di Indonesia yang memang tak mudah ditebak. AHY, meski baru berkarir politik sejak tahun 2016 bisa menciptakan  permainan politik yang dinamis. Kadang tidak menggunakan akal sehat.

Saya lebih menyorot pilihan AHY ini sebuah strategi untuk memenangkan pertarungan jelas pilpres 2024.  

Ada usaha kuat bagi AHY. Meski dirinya seorang mantan mayor, tetapi kini memiliki jabatan Ketua Umum Partai papan atas di Indonesia.

Sepertinya AHY, ingin berebut kursi presiden 2024. Saat ia memberi keterangan pers soal kudeta, terkesan ia ingin diterima sebagai petarung di dunia politik Indonesia, yang tak bisa diremehkan oleh jenderal-jenderal yang juga sudah pensiun.

Apakah seperti ini politik praktis di Indonesia, layaknya terminologi yang disampaikan oleh Harold Lasswell, who gets what, when, and how.? walahualam.

 

***

 

Meski saat memberi keterangan pers soal kudeta, AHY tampak bicara runtun. Ia masih menunjukan politisi yang merasa baper (bawa perasaan).

Cara memojokkan jenderal Moeldoko dan lalu ‘’menyeret’’ Presiden Jokowi, ke urusan kumpul-kumpul mantan kader PD dengan mantan Panglima TNI, sangat terasa bahwa AHY baper.

Pertanyaannya, apakah untuk menghadapi pilpres 2024, dua-tiga tahun ke depan mengapa masih gunakan baper, buka menjaga akal sehat. Misalnya, menunjukkan program-program PD era AHY yang bermanfaat untuk rakyat Indonesia. Termasuk generasi milenial, kelompok umur yang dekat dengan usia AHY.

Dalam dua-tiga hari setelah AHY memberi keterangan pers, ada dukungan sporadic dari kader PD muda-muda, yang belum dikenal publik seperti Andi Malarangeng cs tahun 2004-an.

Dukungan sporadis dari kelompok AHY, terkesan seperti sebuah tim investigasi yang mengumumkan hasil testimoni pertemuan seniornya dengan Jenderal Purnawirawan Moeldoko.

Akal sehat saya menyebut, katakana hasil investigasi itu dilengkapi dengan alat bukti yang kuat, mengapa tidak dilaporkan ke Polri, agar diproses secara hukum?

Praktik seperti ini menggambarkan sebuah dukungan kepada AHY tanpa memperhitungkan rasionalitas. Akal sehat saya mengatakan ini bukanlah hal yang tepat.

Kubu AHY seperti membangun sebuah narasi permusuhan, baik dengan senior di PD, dengan publik maupun dengan Jenderal (Purn) Moeldoko.

Cara seperti yang dilakukan AHY saat ini apakah memang sebuah tujuan politik PD, era suaranya ditingkat nasional jeblok? walahualam.

Cara publikasi yang sporadic seperti yang dilakukan AHY dan pendukungnya, sepertinya tidak memperhitungkan bahwa laku mereka dipantau oleh seluruh anak bangsa.

AHY perlu diingatkan, di era digital, rekam jejak siapapun begitu tampak di internet. Siapapun yang bertarung atau mempertahankan egonya seolah ada kudeta terhadap partai politik, akan terekam di media sosial. Termasuk membeberkan keburukan kubu lawan politik AHY di internal partai maupun eksternal PD.

Saatnya, AHY perlu melakukan kontemplasi, sudahkah dirinya bersama partainya mempertarungkan gagasan membangun bangsa di tengah saling tidak percaya seperti selama ini.? Mari kita tunggu program AHY dan partainya membangun bangsa, terutama generasi milenial. ([email protected])