Anaknya Beriklan Maju Cawawali, Risma pun Bereaksi

Dr. H. Tatang Istiawan

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Mulai minggu yang lalu, kota Surabaya, diramaikan reklame calon Wali Kota dan calon wakil Wali Kota Surabaya dari PDIP. Ada dua faksi yang mejeng. Whisnu Sakti Buana, Wakil Wali Kota Surabaya sekarang, muncul sendirian dengan berbagai janji politik. Diluar reklame Whisnu, ada baliho wajah Eri Cahyadi, sendirian juga. Reklame Eri menggotong nama Risma. Diluar reklame Eri bersama Risma, ada juga iklan Eri dan Cak Ji, yang tak lain Ir. Armudji, kader PDIP yang dua kali menjadi ketua DPRD Kota Surabaya.

Usai PDIP tidak mengumumkan cawali Surabaya diantara 75 calon kepala daerah rekomendasi Megawati se-nusantara, muncul wajah pria tak begitu dikenal. Fuad Benardi, Ketua Karang Taruna Surabaya. Pria berwajah innocent ini ikut nebeng “beriklan”. Anak Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini ini, meramaikan bursa calon kepala daerah yang perlu direkomendasi DPP PDIP. Pria yang pernah terseret amblesnya jalan Raya Gubeng ini mencalonkan Cawawali Surabaya.

Sebagai praktisi media, saya menilai iklan Fuad ini, seperti pemandangan yang menyilaukan mata. Artinya, apa Fuad sudah bercermin diri? Apa Fuad sudah memikir masak-masak kapabilitasnya, sehingga berani memasang reklame, dirinya turut mencalonkan diri maju Pemilukada Surabaya 2020.

Jangan-jangan ini “dagangan politik” Risma, untuk mendapat rekomendasi dari Megawati?.

Saya menyebut demikian, karena selama ini Eri Cahyadi, jago Risma, dikritik sana-sini, pusat dan Surabaya.

Mengingat Eri yang digadang gadang Risma, bukan kader PDIP. Apalagi digandengkan dengan Cak Ji. Konon “pasangan” Eri-Cak Ji, diluar skenario yang dikehendaki Risma. Makanya Cak Ji, menyatakan mundur dari pencalonan pilwali Surabaya yang ditawarkan ke DPP PDIP. Eri, kemudian “berpromosi” sendirian. Otomatis, dalam perebutan rekomendasi ini, Eri Cahyadi harus head to head dengan Whisnu Sakti Buana.

Menggunakan ukuran loyalitas partai, adalah ironi bila rekomendasi dari Megawati, tidak jatuh ke kader PDIP, Whisnu Sakti Buana. Akal sehat saya bisa menerima bila pengumuman cawali Surabaya pada tanggal 14 Agustus lalu ditunda. Konon untuk meredam emosi politisi lokal PDIP. Nah, Risma, sebagai incumbent yang suaranya didengar lebih dulu untuk urusan rekomendasi penggantinya, moment tanggal 14 Agustus itu bisa jadi digunakan untuk kalkulasi “bisnis politik”nya.

Eri, yang di Pemkot dijuluki anak emas Risma, harus dicarikan pasangan dari kader PDIP yang loyal padanya. Akhirnya bertebaran iklan bergambar Fuad Bernadi, anak Risma. Orang-orang politik tahu arah iklan ini, yaitu upaya “mengawinkan” Fuad dengan Eri. Ini karena konon Risma, tak merestui penggantinya adalah Whisnu Sakti Buana.

Bagi orang komunikasi dan marketing, membaca bertebarannya reklame Eri Cahyadi bergambar sendirian dan ada yang bareng Cak Ji. Lalu muncul iklan pendatang, pria yang mengklaim sanggup jadi cawawali Surabaya, ada pesan promosi dari Risma.

Bagi orang marketing dan komunikasi, media iklan luar ruang (Outdoor advertising) seperti billboard, banner, spanduk, baliho, neon box, dan shop sign adalah media reklame dan advertising bisa untuk melakukan promosi politik. Reklame , dengan desain berkarakter visualisasi dominan warna merah ini menurut saya untuk perhatian publik. Pesan promosinya inilah wakil dari PDIP.

Reklame ini untuk memudahkan orang-orang dan publik mengenali calon wawali dan cawawali Surabaya pasca Risma.

Apalagi produk iklan politik ini ditempatkan di tempat-tempat strategis dan mudah dilihat orang (eye cathing space) di pusat kota Surabaya Timur dan tengah. Tujuan beriklan di media luar ruangan inivselain untuk menciptakan Awareness, juga membangun persepsi warga kota tentang sosok calon wawali dari PDIP.

***

Minggu yang lalu juga, saya dapat kiriman viral video walikota Risma, berhijab hijau, berbicara ngalor ngidul di depan wartawan Pemkot Surabaya. Risma bicara soal jabatan walikota mendatang dan pembangunan kota Surabaya. Termasuk ceritanya saat ia mulai membangun kota Surabaya pada tahun-tahun awal periode pertama menjabat walikota.

Duduk di sofa warna putih, kali ini Risma, tidak nangis dan ngotot. Dari rekaman sejak awal hingga akhir, ibu kandung Fuad ini, bicara diselingi senda gurau. Ini mungkin, dia “tahu adat” bahwa di depan awak media, apalagi yang membawa kamera, tidak boleh berekspresi marah. Di depan kamera ia harus berbicara dan berpenampilan menarik. Praktis selama berbicara dengan wartawan-wartawan muda pokja (kelompok kerja) Pemkot Surabaya, Risma tampak fotogenik.

Ia tak banyak bicara tentang putra pertamanya, Fuad Bernardi, mencalonkan cawawali. Padahal ada iklan Outdoor, Fuad mengaku dirinya siap maju sebagai calon wakil Wali Kota di Pilkada Surabaya 2020 mendatang.

Fuad yang merupakan kader DPC PDI Perjuangan Surabaya ini pun mengaku siap jika DPP PDIP merekomendasikannya menjadi calon wakil wali kota. Untuk urusan kampanye, Fuad juga mengaku telah menyiapkan tim relawan.

Menyaksikan obrolan Risma dan penampilan Fuad di reklame outdoor, saya ragu kalau Eri bersama Fuad bisa maju pemilukada Surabaya, meneruskan mimpi Risma. Mengingat lawan Eri-Fuad, bukan cawali sembarangan. MA, meski bukan kader partai politik, dia tokoh masyarakat yang mantan Kapolda Jatim. Posisi ini menyangkut standing seseorang. Maaf penelusuran saya sampai Agustus ini, modal Fuad di publik hanya Ketua Karang taruna saja. Akal sehat saya bilang, modal seperti itu jauh dari kurang. Saya soroti eksistensi Fuad ini belum menyentuh modal uang (karena urusan dana logistik pilkada, Ibunya sudah paham besarannya dan cari carinya. Maklum Risma sudah dua kali ikut pemilukada).

Saya meragukan ektabilitas Fuad, karena track recordnya bermasyarakat. Ini diluar aspek milenialnya. Dalam urusan anak muda, Fuad masih bisa berteriak lantang.

Pertanyaannya, apakah dalam capaian rekomendasi tahap terakhir pada tanggal 19 Agustus besok, ia katut ? Bisa jadi faktor keberuntungan yang Fuad dapatkan? Walahualam.

***

Saya dengar sejumlah politisi di PDIP Surabaya saat ini dihadapkan pada persoalan yang sangat pelik dan sulit untuk menentukan dukungannya pada salah satu figur Whisnu, atau Eri. Cahyadi.

Bagaimana tidak, mereka dihadapkan pada pilihan untuk mendukung jagonya Risma yang bukan kader PDIP atau Whisnu yang tak disukai ibunya Fuad.

Jadi yang “bingung” sekarang ini bukan saja Risma, tapi kader dan simpatisan PDIP cabang Surabaya.

Justru yang saya dengar politisi PDIP yang didera kebingungan ini memilih sembunyi-sembunyi mendukung Whisnu, kecuali kader PDIP dari Gubeng Jaya, Anugerah Ariyadi SH. Kader lain masih bingung.

Konon ada dugaan Risma, dua minggu ini diduga juga diliputi kebingungan.

Oleh karenanya, last minute, Risma membiarkan Fuad, memasang iklan dan memberi keterangan pers, setelah pengumuman rekomendasi 75 calon kepala daerah se Indonesia, tanpa cawali dan cawawali Surabaya.

Jadi Risma tampaknya sulit mengggunakan terminologi politik tegak lurus bila Megawati merekomendasi Whisnu.

Bila Whisnu yang mengantongi rekomendasi dari Mega, Risma diduga bisa terserang sindroma kekuasaan atau bahkan nervous (gelisah) politik yang luar biasa.

Sebagai politisi yang salama ini dipuja oleh sebagian besar di Pemkot Surabaya, ia bisa kehilangan akal sehatnya, sehingga ocehan dan manuver politiknya bisa makin menjadi tidak  terkontrol. Misalnya nangis lagi.

***

Bila benar Fuad maju sudah direstui Risma, terkesan ada “dagangan politik”, dalam perebutan rekomendasi Mega. Ini ada beberapa alasan. Pertama saat menangani isu corona, Risma pernah dituding mencari panggung di tengah wabah.
 

Bulan Juni lalu, ia bersujud hingga dua kali, di hadapan para dokter dan Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Mata Risma bahkan nampak memerah dan menangis.

Hal itu terjadi saat ia mendengarkan keluhan dokter-dokter yang ada di rumah sakit rujukan di Surabaya, salah satunya Ketua Pinere RSUD dr Soetomo, dr Sudarsono.

Ini menjadikan isu corona dituding sebagai dagangan politik. Aroma tak sedap “dagang politik” seperti ini, disadari atau tidak, perlahan akan terkuak ke permukaan.

Terutama bila Whisnu yang justru kantongi rekomendasi dari Megawati. Secara sederhana “dagang politik” itu praktik politik transaksional kekuasaan.

Sebaliknya, bila rekomendasi sampai ke Eri Cahyadi - Fuad, akan muncul sosok Risma, sebagai politik dinasti. Ini karena Fuad, yang modal sosialnya (elektabilitas) pas-pasan malah bisa meraih tiket maju dari PDIP.

Pemilih muda Surabaya akan memcatat saat ini ada politik kekerabatan. Ini artinya sistem patrimonial, yang mengutamakan regenerasi politik berdasarkan ikatan genealogis telah ditumbuhkan oleh Risma.

Kehendak merit system yang digadang-gadang generasi milenial bisa tak diberi ruang.

Inilah praktik pewarisan lewat jalur politik prosedural.

Anak masuk institusi kekuasaan yang disiapkan. Nah, apakah di Surabaya boleh ada dinasti politik? Bila “regenerasi” gaya Risma dibiarkan, bisa jadi proses rekrutmen dan kaderisasi di partai politik di Surabaya tidak berjalan atau macet. Terutama di PDIP. Gambaran nyatanya jika kuasa dinasti di Surabaya ala Fuad, bukan tak mungkin perkongsian bisnis penguasa-pengusaha di Surabaya tak terbendung.

Akibat Dari Politik Dinasti ini, kelak semua keluarga termasuk anak, mantu, keponakan, suami dan istri bisa berbondong-bondong untuk dapat terlibat dalam system pemerintahan di Surabaya.

Saya khawatir dengan politik dinasti semacam ini kelak kota Surabaya dapat menciptakan orang yang tidak kompeten meraih kekuasaan sebagai walikota atau wakil walikota. Dan sebaliknya warga kota yang kompeten menjadi tidak dipakai, karena alasan bukan keluarga.

Ini bisa menurunkan peradaban kota bahwa untuk membangun kota Surabaya tidak dibutuhkan lagi walikota yang mempunyai kapabilitas mengelola kota metropolitan.

Tapi Minggu siang kemarin, Wali Kota Risma merespon ke publik, soal keinginan putra sulungnya maju menjadi Cawawali.
"Ngawur, ndak lha. Ngawur," kata Risma sembari tertawa usai meresmikan lapangan di kawasan Tambak Asri di Kecamatan Krembangan, Minggu (16/8/2020). Nah, ada apa lagi ini. Apakah segampang itu hubungan anak dan ibu urusan cawawali sampai Fuad berani promosi di reklame outdoor. Mari kita tunggu. ([email protected])