Angka Kelahiran Bayi di Kabupaten Mojokerto Tinggi

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat di Dinas Kesehatan Kabupaten Mojokerto, Susi Dwiharini. SP/Dwy Agus Susanti

SURABAYAPAGI.com, Mojokerto - Angka kelahiran bayi di Kabupaten Mojokerto masih cukup tinggi. Terbukti, setiap bulan, rata-rata 1.336  bayi lahir di Bumi Majapahit. Tingginya angka kelahiran ini menandakan rendahnya angka kematian ibu dan bayinya.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat di Dinas Kesehatan Kabupaten Mojokerto, Susi Dwiharini mengatakan sasaran kelahiran hidup tahun 2021 ini sebesar 16.030 bayi.

"Angka itu terakumulasi dari bulan Januari hingga April 2021," jelasnya kepada Surabaya Pagi, Senin (14/6/2021) siang.

Wanita berparas ayu ini merinci, bulan Januari 2021 angka kelahiran bayi di Kabupaten Mojokerto sebesar 1.180 bayi, bulan Februari sebesar 1.219 bayi, kemudian Maret sebesar 1.335 bayi dan April sebesar 1.399 bayi.

"Tren nya memang cenderung naik, jika diprosentase bulan Januari sebesar 80.33 perden, Pebruari 82.98 persen, Maret sebesar 90.87 persen dan terakhir bulan April sebesar 95.23 persen," tegasnya.

Susi menambahkan, sesuai data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Timur, untuk tahun 2021 ini estimasi sasaran ibu hamil (bumil) di Kabupaten Mojokerto sebanyak 1.469 ibu. Dengan rincian, Bulan Januari sebesar 1.702 bumil, Februari 1.460 bumil dan bukan Maret sebesar 1.485 bumil.

"Angka kematian bayi bisa di analisa dari sasaran bumil dan jumlah kelahiran hidup. Jika selisihnya sedikit, itu berarti angka kematiannya juga sedikit," urainya.

Susi menegaskan, untuk Kabupaten Mojokerto tidak mengalami ledakan bati lahir, hanya saja memang ada tren kenaikan angka kehamilan dan kelahiran bayi.

"Kalau soal ledakan bayi itu bukan rana kita untuk menjawab, mungkin Dinas Pemberdayaan Perempuan Keluarga Berencana dan Perlindungan Anak  (DP2KB P2A) yang lebih relevan untuk ditanyai,' ungkapnya.

Masih kata Susi, setiap tahun ia menerima jumlah sararan bumil yang harus dipantau kondisi kesehatnnya. Itu sebagai upaya taktis dari Dinkes untuk menekan angka kematian ibu dan balita.

"Untuk pemantauan kesehatan bumil kita selalu melibatkan bidan desa serta kader kesehatan di masing-masing posyandu. Sehingga jangan sampai muncul kasus bumil dan bayi yang terabaikan kesehatannya," tegasnya. Dwy