ANALISIS POLITIK

Awas! Kelompok-kelompok Religius Radikal, Gerus Nilai-nilai Pancasila

Kelompok radikal religius (Ilustrasi)

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Pakar Manajemen Isu dan Krisis Universitas Brawijaya Maulidya Pia Wulandari, Ph.D, mengamati nilai- nilai luhur Pancasila yang dibingkai dalam frame Bhineka Tunggal Ika, mulai tergerus. Mestinya harus dijadikan dasar untuk generasi mendatang.

"Nilai Pancasila makin kesini, makin tergerus. Apalagi ketika banyak masyarakat yang mempersepsikan bahwa Pancasila hanya dijadikan alat pemerintah untuk mengekang dan membungkam kebebasan, menghambat tumbuhnya sebuah keyakinan, dan sebagai alat propaganda kekuasaan pemerintah," kata wanita yang akrab disapa Pia, Minggu kemarin (30/05/2021).

Polarisasi politik di tingkat elit, tambah Pia, pola pendidikan Pancasilanya cenderung tidak berkembang dan membosankan membuat masyarakat makin melupakan dan meninggalkan nilai-nilai Pancasila.

Indonesia hari ini, tambah Pia, sangat memprihatinkan terutama pada lunturnya penerapan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Dirinya mulai merasakan lunturnya nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan masyarakat sejak dimulainya masa Reformasi. Sejak itu, masyarakat mulai menggencarkan nilai-nilai ideologinya masing-masing atas nama demokrasi, kebebasan, dan hak asasi manusia.

"Kondisi ini makin diperburuk lagi dengan tumbuhnya kelompok-kelompok religius radikal, yang membuat nilai-nilai luhur Pancasila semakin tergerus," ia mengingatkan.

 

Konflik Horisontal

Kampanye Presiden Joko Widodo, dengan meneriakan "Saya Pancasila, saya Indonesia" dinilainya belum cukup. Ada banyak persoalan di masyarakat yang harus diselesaikan dengan turun tangan bukan melalui ucapan. Rasisme dan diskriminasi makin sering muncul. Konflik horisontal masih sering terjadi di level grassroot.  "Jangan sekedar menghafal Pancasila tapi tidak paham esensinya. Lebih mengenaskan lagi kalau sampai tidak hafal," tegasnya

Belum lagi dengan perkembangan media sosial yang sulit dibendung, membuat masyarakat semakin tidak perduli lagi dengan Bhineka Tunggal Ika.

Sejak reformasi, nilai toleransi beragama, musyawarah untuk mufakat dan kehidupan yang berkeadilan sosial sangat sulit ditemui di Indonesia.  "Untuk nyari hidup tentram dan damai saat ini kok makin sulit ya. Masyarakat Indonesia mudah tersulut api pertikaian, menjadi intolerant, bahkan menjadi netizen yang terburuk di dunia maya karena ekpresi kemarahan, hujatan, dan perundungan yang di luar batas nilai-nilai Pancasila," ucapnya tegas.

 

Bangun Pancasila Sejak Dini

Oleh karena itu, Pia menegaskan agar pemerintah segera membangun kembali ke-bhineka tunggal ika-an dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Nilai-nilai Pancasila harus ditanamkan sejak dini bagaimana pun caranya.  "Lihat orang Korea Selatan, China, Jepang, Palestina dan negara-negara yang masyarakatnya memegang teguh ideologi negara yang kuat. Sejak dini mereka diajarkan utk hidup berdasarkan nilai-nilai ideologi negera," ucapnya

Para elit politik, aparat pemerintah, pendidik, pemuka masyarakat dan tokoh agama juga harus memberikan contoh nyata dalam menerapkan nilai-nilai Pancasila. Sistem pembelajarannya pun harus disesuaikan dengan karakteristik masyarakat zaman sekarang. "Jangan hanya ada kegiatan-kegiatan simbolis yang sifatnya dipermukaan. Mulai saja dari hal yang mudah dilakukan dari butir-butir Pancasila untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari," katanya.

Teriakan NKRI harga mati namun tak menjalan nilai-nilai luhur pancasila, semua tak ada artinya. Menurutnya, nasionalisme itu tidak buta. Menerapkan butir-butir Pancasila saja sudah bagian dari bentuk nasionalisme karena hidup bernegara berdasarkan ideologi negara sendiri bukan ideologi dari negara dan bangsa lain.

"Pancasila bukan sekedar ideologi, tapi tuntunan hidup berbangsa dan bernegara di Indonesia. Banyak negara yang iri pada Indonesia yang punya ideologi seperti Pancasila dan selalu mengatakan bahwa harta terbesar Indonesia adalah Pancasila yang tidak dimiliki oleh negara lain," katanya lagi.

 

 

Ingin Ganti Pancasila

Pakar Ilmu Sosiologi Politik Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Dr. Agus Mahfud Fauzi menegaskan, nilai-nilai pancasila dewasa ini, perlu dijaga dan dirawat dengan baik khususnya oleh generasi muda. Mengingat, kelompok-kelompok ekstrimis religius yang acap kali muncul, terus berupaya mengantikan pancasila dengan ideologi lain yang tidak sesuai dengan nilai-nilai masyarakat Indonesia.

Tanpa menafikan adanya oknum yang ingin menggantikan dasar negara Indonesia dengan Indeologi lain, melalui doktrin kepada generasi muda Indonesia, maka Agus menghimbau agar pendidikan Pancasila harus dibina dan diberikan sedini mungkin. "Generasi muda itu orang yang kreatif. Kalau tidak harus dipupuk dengan pancasila, terkadang mereka berekpresi diluar dari substansi pancasila," ucapnya.

Ekspresi generasi muda kata Agus, cenderung dituangkan di media sosial. Celakanya di media sosial terjadi polarisasi yang justru memperparah bahkan memecahbelah anak bangsa.

"Hal yang perlu diantisipasi, karena niat baik mereka terkadang mereka di media sosial terkadang disalahpahami. Sehingga dibutuhkan katalisator sebagai kesepahaman bersama sekaligus memahamkan mereka terkait kebhinekaan yang ada bukan semacam penyebab retaknya hubungan antara satu dengan yang lain," jelasnya.

Tatkala hubungan masyarakat telah sejalan dengan nilai-nilai luhur pancasila, niscaya keretakan dan perpecahan dalam masyarakat dapat terselesaikan dengan amanat sila ke-4 Pancasila yakni musyawarah dan mufakat.

"Jadi momentum 1 Juni ini, harus dimanfaatkan oleh generasi muda untuk meniru Bung Karno. Beliau terus memikirkan bagaimana arah Republik Indonesia, merefleksikan perspektif kebangsaan kita, semua dijadikan satu yang sifatya itu sinergi dan tidak memaksa," kata Dr. Agus kepada Surabaya Pagi.

 

 

Demokrasi, Gerus Pancasila

Pengamat Politik Universitas Brawijaya Wawan Sobari, S.IP., MA., Ph.D menjelaskan, Pancasila di era reformasi saat ini seolah-olah menjadi tidak prioritas. Dengan mengutip pernyataan Prof. Yudi Latief, Wawan menyebut Pancasila sebagai sebuah kitab yang usang. "Tulisan Yudi Latief itu menarik, dia sebut Pancasila itu sekarang jadi kitab yang usang. Mau dibuang takut kualat, mau disimpan pun tidak terpakai," kata Wawan Sobari kepada Surabaya Pagi, Minggu (30/5/2021).

Tidak diprioritaskannya Pancasila disebabkan oleh berbagai faktor. Salah satunya adalah demokrasi. Dalam demokrasi liberal kata Wawan, terdapat 3 pilar utama. Pertama adalah kebebasan publik (citizen liberty), berikutnya adalah hak-hak politik dan terakhir adalah pemerintahan yang efektif.

"Butir-butir pancasila sebenarnya bagus, cuma rakyat tidak mau tahu. Tidak membaca, karena yang didahulukan itu kebebasan berpendapat. Karena kebebasan berpendapat salah satu bagian dari citizen liberty," katanya.

Celakanya dalam era reformasi saat ini, justru asas-asas pancasila sangat dibutuhkan dalam pelayanan publik. Ia memberikan contoh, ketika dirinya diminta untuk menyusun naskah akademik revisi UU layanan publik dari sisi politik.

"Saya telusuri asas-asasnya, dari sekian asas layanan publik, ada salah satu asas Pancasila gak ada yakni tidak ada sila pertama atau asas religius, akhirnya saya revisi dan berikan masukan maka ditambahkan asas itu dalam UU 25 tahun 2009," katanya.

Hal lain yang membuat Pancasila seolah tidak menjadi prioritas adalah kata "pancasila" sendiri yang berasal dari bahasa sansekerta. Panca yang lima dan sila yang artinya prinsip. Oleh karenanya, ia meminta agar pemerintah melalui BPIP dapat mereaktualisasikan kembali bahasa Pancasila sejalan dengan perkembangan saat ini. Sehingga pancasila tidak lagi menjadi kitan yang usang.

Lucunya, hingga saat ini Badan Pembinan Ideologi Pancasila (BPIP) tidak menunjukan hasil kerja nyata kepada publik. Sehingga yang terjadi adalah publik terus bertanya-tanya, dimana eksistensi BPIP. sem/cr2/rmc