ANALISA BERITA

Awas Spekulan Obat

Apt. Rizal Umar Rahmadani, M.FarmKlin Wakil Ketua 4 Ikatan Apoteker Indonesia Jatim

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Saya mengingatkan dalam kondisi seperti saat ini, saat pandemi, selalu akan muncul banyak oknum spekulan obat yang memanfaatkannya sebagai landang bisnisnya.

Kami apoteker di Surabaya dan Jawa Timur yang khususnya berpraktik di apotek, fokus melayani pasien sesuai dengan keluhan dan kebutuhannya.  Dan kami melawan oknum yang memanfatkan bahkan memainkan harga obat dan ketersediaan obat di saat pandemi ini.

Untuk mengantisipasi terjadinya timbunan obat covid-19 oleh oknum yang tak bertanggung jawab, pihaknya selalu memberikan arahan dan himbauan kepada seluruh apoteker yang berpraktik di apotek khususnya untuk selalu melayani masyarakat sesusai ketentuan yang sudah berlaku.

Jadi, Melayani permintaan pasien baik yang resep maupun non resep sesuai dengan kebutuhan dan melakukan pengadaan melalui jalur distributor resmi.

Harus ada pembatasan juga. Tujuannya apa? Untuk menjaga agar kestabilan dan ketersediaan obat terjaga.

Pembatasan ini tidak hanya berlaku bagi obat-obat covid-19 namun juga vitamin serta obat-obatan pendukung lainnya.

Dari hulu ke hilir kami mengingatkan kepada teman-teman apoteker agar menjaga betul alur keluar masuknya obat jangan sampai ada yang bocor ke para oknum-oknum tersebut

Bila merujuk pada aturan kemenkes, maka untuk pembelian obat covid-19 wajib menggunakan resep dokter. Kendati begitu, bagi obat pendukung covid-19, seperti obat batuk dan vitamin bisa dibeli tanpa resep dokter.

Selama ini, obat yang sering diburu oleh masyarakat adalah obat pendukung atau yang berhubungan dengan suplemen meningkatkan daya tahan tubuh, obat batuk pilek, panas dan nyeri

Obat-obat itu sekarang yang banyak dibutuhkan oleh masyarakat. Yang jelas di sini untuk memenuhi permintaan pasien atau masyarakat harus sesuai dengan kebutuhan.

Jangan sampe karena semuanya pada panik akhirnya semua obat-obatan diborong. Ini bisa menjadi celah para oknum.

Tak hanya itu, Saya juga mengingatkan masyarakat agar ketika membeli obat, harus ditempat-tempat yang telah memiliki izin dan legal secara hukum. Tujuannya adalah untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Salah satu contohnya dapat dilihat dari penjualan obat covid-19 di Pasar Pramuka Jakarta. Salah satu toko bahkan menjual obat Ivermectin dengan harga Rp475 ribu per kotak. Padahal harga tertinggi Ivermectin hanya berkisar Rp75 ribu.

Dengan mudah diaksesnya informasi masyarakat awam mengerti tentang obat ivermectin ini mas, tetapi kami apoteker di apotek selalu mengedukasi pasien dan masyarkat jika ada permintaan kami tolak. karena memang indikasinya bukan sebagai terapi covid-19 dan BPOM pun belum menyetujuinya. (Seperti yang diungkapkan Rizal Umar Rahmadani kepada wartawan Surabaya Pagi Semmy Mantolas, Rabu 7 Juli 2021).