BMKG Warning BPBD, dengan Gempa dan Tsunami Besar di Selatan Jatim

Peta bahaya tsunami yang dikeluarkan oleh BMKG di selatan Jawa Timur saat webinar Kajian dan Mitigasi Gempa bumi dan Tsunami. SP/Youtube BMKG

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi akan munculnya gempa dengan kekuatan 8,7 Magnitudo, dan Tsunami dengan tinggi 29 meter di Jawa Timur. Untuk itu, BMKG memberikan peringatan kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah di Jatim untuk waspada.

"Berdasarkan sejarah dan data-data yang terekam sampai hari ini, kami menyusun simulasi dan pemodelan secara matematis potensi tsunami di Jawa Timur," kata Ketua BMKG, Dwikorita Karnawati  dalam webinar bertajuk Kajian dan Mitigasi Gempabumi dan Tsunami di Jawa Timur.

Dari hasil pemodelan itu ditemukan fakta mengenai tsunami bahwa di wilayah Jawa Timur. Potensi tinggi maksimum tsunami pada seluruh pesisir, ada di Kabupaten Trenggalek dengan kisaran 26-29 meter. Sedangkan, untuk waktu tercepat, tercatat diangka 20-24 menit pada Kabupaten Blitar.

Meski begitu hasil analisis dan kajian BMKG juga menyatakan bahwa potensi genangan hasil tsunami itu bisa mencapai setinggi 22 meter. "Ini sudah masuk genangan, bukan tinggi gelombang di pinggir pantai. Genangan bisa mencapai 22 meter, ini sampai masuknya juga menjorok cukup jauh (ke darat)," tuturnya.

Lebih lanjut dalam webinar-nya, Dwikorita menjelaskan mengenai peta distribusi gempa di Jawa Timur dalam periode 2008 hingga 2020. Tercatat ada ratusan titik gempa selama periode tersebut, yang ditandai dengan titik berwarna merah dan kuning.

 

Warning Pemerintah Daerah

Dari hasil analisis dan kajian tersebut, kata dia, difungsikan untuk mengecek kesiapan aparat dan pemerintah daerah dalam menanggapi potensi bencana. Serta untuk menyiapkan sarana dan prasarana untuk lokasi evakuasi apabila terjadi tsunami.

"Kami juga melakukan verifikasi ke lapangan, jadi terima kasih sekali ibu gubernur, aparat pemerintah daerah sangat siap juga sigap, dan smart. Nah ini kami selalu bersama di lapangan, bahkan didampingi tokoh ulama," ujar Dwikorita.

"Apa yang kita lihat bersama, dari kesiapan aparat, memang sudah siap ibu. Terus terang kami bangga. Tidak banyak BPBD yang sesiap di Jatim dan juga bupatinya atau walikotanya itu sangat peduli, sangat peduli," lanjutnya.

Dari situ BMKG memberi saran agar ada pemasangan jalur evakuasi, dan pembuatan titik evakuasi jika benar-benar terjadi tsunami. Apalagi berdasarkan prediksi, tinggi tsunami di Trenggalek bisa mencapai diatas 20 puluh meter.  "Dengan tinggi tersebut bisa mencapai daratan sekitar enam kilometer dari bibir pantai," lanjutnya.

 

BPBD Siapkan Katsumi

Sementara itu, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Trenggalek Djoko Rusianto menerangkan bahwa pihaknya telah melakukan tindak lanjut usai mendapat kabar akan kajian tersebut dari BMKG.

Tindaklanjut itu guna mempersiapkan kemungkinan bencana tersebut kapan saja terjadi. Dengan panjang pantai di Trenggalek mulai dari panggul sampai watulimo sekitar 98 km antisipasi harus dilakukan. Maka pihaknya langsung menghubungi para Kader Tanggap Tsunami (Katsumi) dan para camat di pesisir selatan yang berada di berbagai daerah untuk tetap melaksanakan kewaspadaannya.

“Langkah antisipasi sudah kami lakukan, membentuk Katsumi yang telah memiliki keterampilan melakukan tanggap bencana jika bencana itu benar-benar terjadi," ucap Joko.

 

Skenario Terburuk

Melihat fenomena tersebut, pakar geologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Dr Ir Amien Widodo MSi menyebut pemodelan yang dilakukan BMKG merupakan langkah awal yang tepat. Mengingat daerah Jawa Timur terbentuk karena adanya tumbukan lempeng Eurasia dan Indo-Australia, sehingga menjadi suatu keharusan untuk meneliti bab kegempaan di Jawa Timur. Pasalnya, BMKG bukan tanpa alasan menyebutkan skenario terburuk yang mungkin menimpa. 

“Pemodelan ini menunjukkan worst scenario, karena dalam lima bulan terakhir diketahui frekuensi gempa yang terjadi di Jawa Timur sangat tinggi,” ungkap dosen Departemen Teknik Geofisika itu. Tingginya intensitas terjadinya gempa ini patut dicurigai, belajar dari gempa besar Jogja pada 27 Mei 2005 silam.

Pertanda sebelum gempa Jogja itu terjadi adalah terekam aktivitas kegempaan yang semakin sering. Ketika itu, frekuensi gempa mengalami kenaikan, tetapi tidak lebih dari 50 gempa setiap bulannya. “Sementara itu, lima bulan terakhir ini gempa yang terekam selalu lebih dari 500 kejadian per bulan,” jelas Amien.

Meski menurut penelitian aktivitas seismik yang terekam selama ini tidak merata, tetapi menurut Amien, justru hal itu yang perlu dijadikan perhatian.

 

Harus Antisipasi

Amien menegaskan, gempa sejatinya tidak membunuh, tetapi dapat memicu gejala alam lainnya seperti likuifaksi, amplifikasi, longsor, dan tsunami, serta kerusakan pada infrastruktur. Menurut sejarahnya, likuifaksi terparah di Jawa Timur pernah terjadi di daerah Lumajang.

Bukan hanya gempa, melainkan juga prediksi tsunami dengan ketinggian 29 meter merupakan sesuatu yang sebaiknya diketahui lebih awal. Amien membuka catatan gempa dan tsunami yang pernah melanda Jawa Timur, juga menyebut bahwa tepat hari ini (3/6) di tahun 1994 pernah terjadi gempa sekuat M 7,8 dan menimbulkan tsunami setinggi 14 meter di Pancer, Banyuwangi. “Penting edukasi terkait mitigasi yang dikenal dengan semboyan 20-20-20,” katanya mengingatkan.

Peneliti dari Pusat Penelitian Mitigasi Kebencanaan dan Perubahan Iklim (MKPI) ITS berpesan, supaya masyarakat tidak mengimbuhi rasa panik dan cemasnya, tetapi menambah kehati-hatian dengan mempersiapkan infrastruktur layak gempa dan edukasi lainnya. “Tak terkecuali pemerintah harus mengupayakan sosialisasi terkait mitigasi, bukan lagi hanya pada wilayah kategori rawan bencana, tetapi seluruh daerah,” tandasnya. ana/can/erk/cr3/rmc