BOR Rumah Sakit di Surabaya Naik Tajam

Petugas rumah sakit lapangan saat mempersiapkan tempat tidur bagi pasien Covid-19

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Pasca dinaikannya level pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) di Surabaya ke angka 3, berimplikasi pada meningkatnya keterisian tempat tidur atau bed occupancy rate (BOR) di sejumlah rumah sakit rujukan Covid-19.

Salah satu yang terlihat adalah di Rumah Sakit Darurat Lapangan Bangkalan (RSDLB). Tak kurang dari dua hari, terjadi lonjakan pasien yang mencapai hampir 2 kali lipat.

Di tanggal 16 Februari misalnya, jumlah pasien Covid-19 di RSDLB hanya sekitar 41 orang. Angka ini kemudian meningkat di hari ini, Jumat (18/02/2022) menjadi 73 orang. Bahkan per hari ini, ada sekitar 28 pasien baru yang masuk ke RSDLB.

“Meningkat tajam. Aliran masuk pasien mulai deras. Total pasien yang masih dirawat 73 orang terdiri dari 48 laki-laki, 25 perempuan,” kata Ketua relawan covid-19 RSDLB Radian Jadid saat dihubungi Surabaya Pagi.

 Dari jumlah 73 orang tersebut, kata Jadid, masih didominasi oleh klaster institusi atau perusahaan. Bahkan jumlahnya mencapai lebih dari 20 orang.

“Ada klaster perusahaan di Surabaya Selatan 15 orang. Klaster unit usaha di Surabaya Barat 21 orang,” aku Jadid.

Hingga saat ini para pasien yang dirawat belum diketahui apakah ada pasien yang terkonfirmasi varian Omicron atau tidak. Musababnya, belum ada pemeriksaan lebih lanjut untuk sampel dari pasien covid-19. Kendati begitu, ada beberapa pasien yang diindikasi terkena varian omicron.

"Tidak. Karena belum di WGS, namun dari ciri, gejala dan keluhan dari para pasien, mengarah ke ciri-ciri omicron,” ucapnya

Tingginya pasien dari kluster perusahaan diduga diakibatkan oleh jenis varian virus yang memiliki penyebaran yang sangat cepat. Dalam hal ini adalah varian Omicron.

“Khas varian Omicron. Satu tempat/kawasan, satu kena, semua kena. Karena mereka dalam satu tempat untuk waktu yang lama (jam kerja 1 shif 6-8 jam. Interaksi terus menerus, biasanya dalam ruang tertutup, pakai AC, sirkulasi udara tertutup, potensi terpapar sangat besar,” katanya menjelaskan.

Oleh karenya ia menghimbau agar masyarakat tidak menyepelehkan varian Omicron. Karena dari eviden di lapangan, walaupun Omicron daya serangnya relatif rendah, namun daya sebarnya sangat tinggi dan cepat.

“Jangan sampai yang terpapar sangat banyak, fasilitas kesehatan tidak cukup menangani, nakes banyak yang terpapar dan off, maka akan terjadi chaos dan bisa menyebabakan lonjakan perparahan bukan dari daya serangnya, tapi karena tidak tertangani dengan baik,” ucapnya.

Selain di RSDLB, lonjakan juga terjadi di RS PHC Surabaya. Humas RS PHC Surabaya Irvan Prayogo saat dihubungi menyampaikan, saat ini keterisian tempat tidur (BOR) telah menyentuh angka 69,01%.

Secara kapasitas, RS PHC memiliki 71 bed yang berada pada Ruang Isolasi Khusus pasien Covid-19. Ruang isolasi khusus ini kata Irvan, dipisahkan baik alur dan gedung pelayanannya, serta petugas yang jaga sudah di set sendiri agar meminimalisir cross infection

“Saat ini BOR kami terisi 49 dari 71 Bed khusus Ruang Isolasi Khusus. Dimana Ruang Isolasi Khusus ini memang dipisahkan,” kata Irvan.

Dari 49 pasien yang saat ini dirawat, mayoritas merupakan pasien yang terkonfirmasi covid-19 varian Omicron.

“Untuk yang ini sampel kami kirimkan ke ITD Unair secara berkala mas, apakah memang Omicron atau bukan. Namun jika melihat situasi saat ini dan hasil yang disampaikan oleh ITD Unair, kurang lebih 90% pasien saat ini dominan Omicron dengan gejala yang relatif lebih ringan dari pada Varian Delta sebelumnya,” pungkasnya. 

Sebagai informasi, jumlah pasien Covid-19 di Surabaya hingga hari ini pukul 15;00 WIB, telah mencapai 5.647 orang.  Bahkan kasus harian Covid-19 terbilang cukup tinggi. Data dari Surabaya Lawan Covid-19 mencatat terjadi penambahan kasus hari ini sebanyak 2.127 orang. Bahkan ada pula korban jiwa hari ini sebanyak 8 orang.

Secara keseluruhan, jumlah kasus aktif Covid-19 di Jawa Timur mencapai 477.142 dengan tambahan kasus hari ini sebanyak 8.034 orang.  Sem