ANALISA BERITA

Bursa Calon Panglima TNI, Pengamat: Persaingan Tidak Sehat

Pengamat Militer Connie Rahakundini Bakrie

 SURABAYAPAGI, Surabaya -Tiga nama kepala staf TNI di tiga matra otomatis menjadi calon Panglima TNI menggantikan Marsekal Hadi Tjahjanto yang akan pensiun November 2021. Saya melihat ketiganya berpotensi sama besar untuk menjadi Panglima TNI.

Ketiganya pasti baik. Pasti bobotnya sama karena mereka sudah melewati hal yang sama. Dan juga  Panglima TNI selanjutkan memiliki pekerjaan rumah yang lebih berat.

Mulai dari menyiapkan alutsista yang lebih baik, normalisasi siklus jabatan, memisahkan fungsi prajurit tempur dan prajurit administratur, serta terkait finansial TNI.

Jika mengacu pada negara lain, menurut saya, finansial TNI lebih banyak digelontorkan untuk TNI Angkatan Udara.

Kita lihat Angkatan Udara itu paling besar karena perang ke depan lebih dianggap perang udara atau perang dari luar angkasa. Yang kedua, Angkatan Laut dan yang ketiga Angkatan Darat.
 
Bursa calon Panglima TNI tahun ini saya lihat bobotnya lebih berat terkait dengan isu politik. Mengingat salah satu calon Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa akan pensiun pada 2022. Namun, syarat menjadi Panglima TNI tetap akan mengacu pada UU No 34 tahun 2004 tentang TNI.
 
Saya juga melihat persaingan calon Panglima TNI saat ini tidak sehat. Bursa calon Panglima TNI, malah seperti kontes kecantikan yang penuh dengan kampanye, dukungan, dan berita hoaks.
 
Menurut saya distorsi itu banyak terjadi. Terlebih lagi sudah ada endorsement (dukungan) terbuka. Jadi, menurut saya sudah enggak sehat.
 
Siapa pun Panglima TNI yang terpilih, menurut saya, harus bisa membuat strategi baru. Ancaman di masa depan bukan hanya di Laut China Selatan, namun proxy baru pun akan lahir yaitu India, Pakistan, dan Afghanistan

 (Dikatakan Pengamat Militer Connie Rahakundini Bakrie dalam tayangan Metro Pagi Primetime di Metro TV, Selasa, 7 September 202i dan yang dikutip dari laman medcom.id pada Rabu (8/9))