Cito Mall Sepi, Diobyekkan Bisnis Pasien Covid-19

Aksi protes pengelola Cito Mall, terus dilakukan Kamis (4/2/2021) di depan drop area parkir lobbi utama Cito Mall Surabaya. SP/Patrick cahyo

 

Wakil Rakyat Surabaya Ramai-ramai Dukung Warga dan Paguyuban Pengelola Mall Cito Surabaya, Tolak Pendirian RS Siloam oleh Lippo Group

 

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya – City of Tomorrow (Cito) Mall Surabaya kembali disorot. Bila saat pembangunan superblock mall dan apartemen milik Lippo Group ini ditengarai melanggar izin Amdal dan Lalin serta mengganggu penerbangan Bandara Juanda Surabaya, pada 2006-2010 lalu. Kini, di masa pandemi Covid-19, rencana Lippo Group untuk membangun rumah sakit (RS) khusus Covid-19 yang dikelola RS Siloam, ditentang pemilik usaha dan beberapa tenan di Cito Mall. Alasannya, Cito Mall, saat pandemi atau bahkan sebelum pandemi, kondisinya terus sepi. Apalagi kini diketahui, izin pembangunan site plan Lippo Group di area Cito ini untuk hotel dan apartemen. Bukan untuk pembangunan Rumah Sakit.

Ini temuan dari anggota Komisi A DPRD Kota Surabaya asal Fraksi Demokrat, M. Mahmud, yang  pada Kamis (4/2/2021) meninjau langsung di lokasi yang akan dibangun RS khusus Covid-19 di area Cito Mall.

Mahmud, politisi Partai Demokrat menegaskan, secara general pihak Siloam tidak memiliki izin operasional rumah sakit khusus Covid-19 di area Cito Mall Surabaya.

“Kalau tetap beroperasi berarti ini tidak benar sama sekali, dan pihak Siloam melanggar aturan yang ada,” tegas mantan wartawan ini, di lokasi, Kamis (4/2/2021).

Pasalnya, terang Mahmud, dalam site plan manajemen induk Siloam yaitu, Lippo Group, site plannya hanya untuk pembangunan hotel dan apartemen. Namun, kini, kemudian muncul akan berubah menjadi rumah sakit khusus Covid-19. “Jika tetap beroperasi Itu artinya ada izin siluman. Dijadikan obyekan. Ini yang perlu kita awasi secara ketat,”ungkap Mahmud.

 

Proyek Minta Dihentikan

Senada dengan Mahmud, juga diungkapkan Wakil Ketua Komisi A, Camelia Habibah. Politisi PKB ini menegskan, Siloam belum mengantongi izin operasional. Untuk itu, rencana pembangunan proyek RS khusus Covid-19 dihentikan.

“Rencananya operasional dimulai tanggal 08 Februari  2021, tapi karena belum ada izin operasional untuk rumah sakit, maka kami tegaskan kepada manajemen Siloam hentikan rencana opening tersebut,” tegas Camelia.

Habibah menjelaskan, secepatnya Komisi A akan memanggil pihak-pihak terkait seperti, Dinas Perizinan Kota Surabaya, Dinas Kesehatan, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Cipta Karya, dan pengembang, untuk lebih lanjut membahas rencana operasional RS Khusus Covid-19 di Cito Mall.

“Kami juga meminta menghentikan aktifitas sementara di area Cito Mall yang akan difungsikan menjadi Rumah Sakit Covid-19. Sampai ada hasil hearing nanti Senin pekan depan, kami minta stop kegiatan di dalam RS Khusus Covid-19 Cito Mall,” kata politisi milenial PKB Kota Surabaya tersebut.

 

Cito Sudah Sepi

Anggota Komisi A lainnya, Imam Syafii, memahami ketakutan warga sekitar lingkungan Cito Mall yang menolak rencana pendirian Rumah Sakit Khusus Covid-19 di area mall tersebut. Apalagi, selama ini, Cito sudah terbilang sepi, bahkan sebelum ada pandemi atau sudah ada pandemi.

"Kami bisa memahami ketakutan pedagang di sini. Wong apalagi pusat perbelanjaannya saja sepi. Apalagi kalau digabungkan dengan RS khusus Covid. Bicara virus corona, semua takut,” kata Imam.

Imam mengaku kaget, sebab rumah sakit tetap tersebut berlokasi di gedung yang bersebelahan dengan Mall Cito. Ia kemudian mempertanyakan terkait perizinan pendirian RS tersebut. "Mendirikan rumah sakit izinnya ketat, apalagi rumah sakit khusus Covid - 19 yang notabene menangani penyakit menular. Tentu saja infrastrukturnya harus diperhatikan, Amdalnya seperti apa," jelas politisi Partai Nasdem ini.

Oleh sebab itu, lanjut Imam, DPRD akan memanggil pihak terkait untuk mengecek progres perizinan. Meskipun sudah selesai, DPRD tetap akan mereview apakah diberikan sesuai dengan prosedural atau tidak.

"Karena kami curiga pernah ada kejadian satu grup dengan Siloam jalan ambles itu (Raya Gubeng, red), persoalannya izin. Kami tidak ingin hanya karena membutuhkan rumah sakit covid tapi merugikan masyarakat yang terdampak," keluh mantan wartawan ini.

Imam mengimbau kepada Pemerintah Kota Surabaya agar lebih memahami masyarakat. Ia juga memahami, karena keterbatasan rumah sakit penanganan Covid - 19 dan kapasitas bed sudah mulai habis. Namun Imam meminta agar jangan sampai pilihan alternatif tersebut bisa merugikan masyarakat.

"Karena itu sebelum diizinkan operasional, harus duduk dengan warga supaya tidak ada persoalan. Jangan sampai ketika ada penolakan terus diterabas. Jangan sampai. meninggalkan kesan yang tidak baik, jangan dipaksakan tetap beroperasi," tandas dia.

 

Tenan Mall Menolak

Sedangkan, Paguyuban Pengelola Mall Cito Surabaya Kamis (4/2/2021) menggelar protes atas berdirinya RS Covid-19 yang bersebelahan dengan Mall dan Apartemen Aryaduta. Mereka membentangkan spanduk penolakan didepan RS tersebut.

Sekretaris Pengurus P4 Tenant Mall Cito, M. Yazid dengan tegas menolak berdirinya RS tersebut, sebab menurutnya, lokasi berdirinya RS masih di dalam lingkungan Mall Cito.

“Prinsipnya kami menolak RS di sekitar area Mall Cito. Kami menolak RS Covid-19 yang berdekatan dengan Mall dan Apartemen. Mall itu kan pusat ekonomi dan bisnis jadi banyak pertimbangan. Ini alasan utama kenapa menolak,” tegasnya.

Total sebanyak 1.500 stand yang berada di Mall Cito, dengan sisa 800 stand yang bertahan mengeluh dengan biaya service, gaji karyawan, dan lain-lainnya yang kebanyakan mengalami penunggakan.

“Kita aja diminta jaga Prokes. Tapi masa rujukan Covid-19 di dekat ruang publik. RS belum dibuka aja udah pada takut. Ini pertaruhan nyawa. Kami minus pendapatannya. Sudah sangat sepi sejak pandemi,” keluhnya.

Sepinya Cito Mall juga diakui salah satu penjaga stand di area foodcourt saat ditanya Surabaya Pagi.

“Sekarang aja sudah tambah sepi pengunjung. Apalagi sebelum kemarin, juga sudah sepi. Nah, ini kalau betul lokasi RS memang dekat dengan Mall. Bagaimana nanti yah… tambah sepi lagi yah mending tutup,” ungkapnya.

 

Whisnu Bela Warga

Plt Wali Kota Surabaya, Whisnu Sakti Buana menanggapi penolakan paguyuban mall City of Tomorrow atas dibukanya RS Darurat Covid-19. Whisnu menyebut dibukanya RS Covid-19 di area Mall Cito karena Surabaya membutuhkan RS tambahan. Meski begitu, bila terdapat penolakan dari warga sekitar dan lingkungan Mall Cito, maka RS Covid - 19 tidak akan dibuka. "Saya bela warga saya, keselamatan warga itu juga menjadi hukum tertinggi bagi saya," tegas Whisnu.

Disinggung latar belakang pemilihan lokasi RS Covid-19, Whisnu mengatakan bahwa pada awalnya tidak memilih lokasi di lingkungan Mall Cito. Semua itu Siloam yang mengajukan. "Kita tidak memilih. Dari Siloam menawarkan mau membuat RS di Surabaya untuk membantu penanganan Covid, kita tentunya menyambut hal itu, sepanjang itu memenuhi persyaratan, tentu kita jalankan," ucap Whisnu.

Namun, Whisnu kembali menegaskan bila terjadi penolakan maka pihaknya akan tetap tidak membuka opersional RS tersebut. Hanya saja, ia mengungkapkan akan melakukan pendekatan persuasif dengan meminta bantuan dari Polrestabes Kota Surabaya.

 

Akui Izin Belum Keluar

Terpisah, sehari sebelumnya, yakni Rabu (3/2/2021), project manager RS Siloam Cito, dokter Sian Tjoe Project menjelaskan, , pembukaan RS Siloam Cito khusus Covid-19 masih menunggu izin dari Dinas Kesehatan Kota Surabaya. Dia menargetkan, RS darurat itu bisa dibuka 8 Februari 2021.

“Rencananya tanggal 8 Februari. Tapi, kalau di lapangan kami belum tahu, karena Dinas Kesehatan izinnya belum keluar,” ujar Sian Tjoe dalam konferensi pers di salah satu rumah makan di Jl Ahmad Yani Surabaya, Rabu (3/2/2021).

Dokter Sian Tjoe juga mengatakan bahwa RS ini tidak menjadi satu dengan Mal Cito. Dia juga mengaku sudah mengadakan pendekatan kepada Lurah setempat dan membuka jalan dari arah belakang, sehingga ambulan dan pasien yang memerlukan rawat inap atau UGD bisa akses dari belakang.

“Gedung ini bukan di dalam Mal. Gedung ini terpisah dan saya bisa yakinkan bahwa RS Siloam ini tertutup semua. Jadi tidak ada akses yang bisa ditembus oleh udara atau apa pun juga,” katanya.

Dia juga memastikan bahwa protokol gedung RS untuk Covid-19 juga diperketat. Begitu pun protokol kesehatan bagi para tenaga media yang bertugas. “Nakes kami pun setiap 5 hari diperiksa darah serologi untuk melihat apakah terjangkit atau tidak. Saya sendiri setiap 7 hari diperiksa darah. Siloam ini tentu saja harus mengikuti semua yang dilakukan oleh Dinkes, Kemenkes, dan juga protokol WHO,” katanya. alq/pat/cr2/rmc