Dalang Lengserkan Presiden Jokowi, 7 Orang

Ilustrasi karikatur

Menko Polhukam Mahfud MD, tidak Menjelaskan Identitas Tujuh Orang itu. Mereka Sudah Minta Maaf. Tetapi Tenaga Ahli Utama KSP Ali Mochtar Ngabalin, Sebut ada Mantan Menko Bergelar Doktor

 

SURABAYAPAGI.COM, Jakarta- Sedikitnya ada tujuh orang yang menjadi dalang di balik aksi seruan 'Jokowi End Game' minggu lalu. Ketujuh orang itu kini telah meminta maaf, sehingga tidak dilakukan penangkapan dan penahanan terhadap dalang di balik aksi seruan menolak PPKM. Seruan  'Jokowi End Game'  sempat ramai di media sosial

"Kemarin ada yang mengatakan pemerintah berlebihan mau menghadapi demo, tapi ternyata demonya tidak ada. Siapa yang berlebihan? Kita tahu bahwa demo tanggal 24 Juli 2021 tidak akan ada,’’ kata Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam), Mahfud MD, Senin (26/7/2021) kemarin.

Menurut Mahfud, pelaku penyebar seruan melengserkan Jokowi adalah kelompok 'tidak murni' yang selalu menyalahkan apapun keputusan pemerintah. "Kelompok tidak murni itu adalah kelompok yang selalu menyalahkan keputusan pemerintah,’’ ungkap Mahfud MD, dalam diskusi bersama Sapa Indonesia Pagi Kompas TV, Senin (26/7/2021).

Tetapi Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP) Ali Mochtar Ngabalin sudah tahu nama dalang yang menjadi provokator aksi..’’Dia osok tua yang masih mendendam dendam pada Presiden Joko Widodo Jokowi. Dia sudah bau tanah itu terus menghasut masyarakat,’’ kata Ngabalin melalui akun Twitter AliNgabalinNew pada Senin, (26/7/ 2021).

 

7 Orang Provokasi

Menurut Ali Ngabalin, ada sejumlah pihak yang  suka memprovokasi.  Antara lain seorang doktor, mantan menteri, dan mantan menteri koordinator (menko). ‘’Mereka  selalu memprovokasi rakyat,’’ tudingnya.

Mahfud menyebut, pemerintah sudah tahu background tujuh orang itu. Aksi mereka tidak bisa berjalan, karena tidak ada yang pegang komando. ‘’Pemerintah ada Polri, BIN dan TNI. Semuanya sudah diketahui, termasuk penyebar pertamanya,’’ tambah Mahfud.

"Ternyata tujuh orang ini setelah diinterogasi mengaku hanya iseng. Mereka kita interogasi dan mengatakan 'kami hanya iseng' lalu minta maaf," ungkap mantan Ketua MK ini.

Makanya, kata Menko Mahfud, pada tanggal 24 Juli, pemerintah tidak mengerahkan tentara dan polisi dimana pun. Mengingat, pemerintah tahu tahu nggak ada apa-apa.

Mahfud menjelaskan, seruan tersebut hanya diprovokasi oleh orang-orang iseng.

Kemudian, provokasi tersebut tidak terencana dengan matang sehingga tidak ada pengikutnya.

"Ini cuma diprovokasi oleh orang-orang iseng dan menurut saya, tidak terencana dengan matang, tidak ada pengikutnya tapi disebar. Mereka lalu di panas-panasi oleh beberapa akun yang ingin membuat pemerintah disalahkan," ungkapnya.

 

Provokator Sempat Diburu Polisi

Poster seruan untuk melakukan aksi unjuk rasa menolak PPKM Darurat sudah ramai di media sosial. Rencana  aksi 'Jokowi End Game' dilakukan pada Sabtu (24/7/2021), dimulai dari Glodok menuju Istana Negara. "Mengundang seluruh elemen masyarakat!! Untuk turun ke jalan menolak PPKM dan menghancurkan oligarki istana beserta jajarannya," tulis seruan pada poster itu.

Namun, aksi tersebut mendapat kecaman publik, karena dianggap membahayakan masyarakat di tengah lonjakan kasus Covid-19 di Indonesia. Setelah aksi tersebut tidak terbukti, publik kembali menyoroti sebaran poster untuk menangkap sang provokator aksi tersebut.

Kemudian, nama Ahmad Sofian yang diduga menjadi provokator aksi 'Jokowi End Game' muncul di media sosial.

Sosoknya menjadi sorotan setelah muncul sebaran poster yang menuntut dirinya ditangkap dan dipenjara. Bahkan, sebaran poster yang berjudul "Penjarakan Achmad Sofian" pun ikut viral di media sosial.

Lantas, siapakah sosok Ahmad Sofian? Dikutip Surabaya Pagi dari laman wartakota.co.id, Ahmad Sofian adalah warga Jalan Dukuh II RT06/01, Kelurahan Dukuh, Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur. Ayah tiga anak itu tengah diburu polisi lantaran diduga menjadi provokator aksi unjuk rasa 'Jokowi End Game'.

 

Ketua RT tak Percaya

Yudi, Ketua RT 6 RW 1, Kelurahan Dukuh, Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur, mengaku kaget ketika melihat warganya jadi buruan polisi di media sosial.

Ia sempat tidak percaya saat melihat wajah Ahmad Sofian di akun Twitter pribadinya pada Jumat (23/7/2021) malam, menjadi sorotan.

Pasalnya, selama tinggal di lingkungan rumahnya sejak beberapa tahun silam, Sofian tidak menunjukan gelagat mencurigakan. Terlebih, terlibat dalam aksi polisi atau mendukung kegiatan partai politik. "Jangankan saya, warga sekitar saja pasti jawabannya sama, enggak nyangka," kata Yudi, sambil mengatakan warga sekitar tidak ada yang tahu kegiatan Ahmad Sofian sehari-hari.

Dalam pantauan Yudi, pria bernama Sofian, adalah sosoknya berangkat kerja pagi hari dan pulang kerja sore atau malam. "Gitu aja kok enggak ada yang aneh dan hal buruk juga enggak ada," terang Yudi.

Yudi pun tidak tahu kalau Sofian ikut dalam kegiatan partai politik di luar lingkungannya. Karena selama ini, Sofian hanya dianggap warga biasa dan tidak ikut-ikutan dalam berpolitik. "Warga sini sempat nanya, ini benar enggak Pak RT, ini bener enggak, mereka lihat di medsos," ujarnya.

Sebelum ini, Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus sudah mengatakan, banyak informasi hoaks yang menyatakan adanya aksi unjuk rasa menolak PPKM darurat Sabtu lalu. n jk/erc/rmc