Dari Berbagai Jenis Kayu, Antarkan Agam Ciptakan Produk Kreatif

Agam Dwi Ahmad Fahrezi dengan salah satu kreasi kerajinan lampu dari kayu buatannya. SP/ BYW

SURABAYAPAGI.com, Banyuwangi - Agam Dwi Ahmad Fahrezi yang merupakan pengusaha muda kreatif bidang kerajinan tangan yang tinggal di Kelurahan Pengantigan, Kecamatan Banyuwangi, Kabupaten Banyuwangi. Agam yang juga pernah berprofesi sebagai sales di suatu perusahaan hingga terlibat di dunia kontraktor.

Berbekal bahan baku dari kayu jati, kayu kopi, kayu asem dan kayu mahoni. Dengan keahliannya ia sulap dengan produk-produk kreatif yang memiliki nilai jual lebih tinggi. Ia memasok harga produksinya dengan harga yang sangat terjangkau, mulai dari puluhan ribu sampai ratusan ribu.

“Sejauh ini sudah ada 200 lebih macam kerajinan tangan yang saya produksi. Dan itu semua hasil kreatifitas saya sendiri yang mengalami beberapa modifikasi. Saya berusaha dalam waktu satu bulan sekali harus ada jenis produk baru. Mulai dari kotak tisu, gantungan kunci, jam tangan, jam dinding, vas bunga, asbak, sampai ukiran kalender yang semuanya terbuat dari bahan baku kayu,” tuturnya.

Alasan dia memilih usaha bidang kerajinan karena memiliki beberapa tantangan tersendiri. Khususnya dalam hal kreativitas produknya dengan memanfaatkan ketersediaan Sumber Daya Alam (SDA). Maka, tak jarang ia juga melakukan lawatan di berbagai darah mulai Malang sampai Yogyakarta untuk riset.

Usaha yang berumur satu tahun ini tak luput mengalami berbagi kendala. Mulai dari permodalan sampai dengan pengiriman produk pesanan.

“Dengan modal 3 juta. Yang alokasi dana waktu itu hanya cukup digunakan membeli mesin produksi dan bahan baku. Karenanya saya sering mendapatkan sokongan biaya produksi dari konsumen langsung. Sebab konsumen melakukan pembayaran di awal. Nah biaya itulah yang dilakukan untuk tambahan biaya produksi,” jelasnya.

Pun dalam aspek pemasaran misalnya. Ia mengaku awalnya produk-produk dipasarkan melalui teman-teman akrabnya. Berawal membuat suatu produk dari kayu, lalu ditawarkan kepada sejumlah kawan-kawannya.

“Aspek pemasaran juga dilakukan secara online. Saya katakan perilaku konsumen sekarang 60% sudah beraktifitas belanja di media online. Sehingga melalui berbagai media sosial sampai pengiriman email file proposal yang intinya mengajak kerjasama tak bisa dipungkiri sudah saya lakukan. Mulai dari kirim email ke hotel-hotel sampai resto-resto. Ditambah dengan penitipan produk-produk di artshop kota-kota lain. Mulai dari Malang sampai Surabaya,” jelasnya.

Selain itu, ia juga pernah gagal dalam proses pengiriman barang ke Bali, setelah barang sampai ternyata barang-barangnya rusak. Akibat dari berbagai benturan saat pengiriman. Konsumen tak mau tahu dan minta barang diganti atau uangnya dikembalikan.

“Dan Alhamdulilah omzet perusahaan saya mencapai 7 juta per bulan. Diantara faktor-faktor yang mendukung dengan bergabung dengan website belanja online daerah banyuwangi-mall.com, juga terlibat dalam asosiasi ‘Banyuwangi Craft’ yang memberikan kemudahan mengikuti pelatihan dan pameran yang gencar-gencarnya dilakukan saat kepemimpinan Abdullah Azwar Anas. Tak jarang, Bupati Banyuwangi terlibat langsung dalam promosi produk-produk lokal para pelaku usaha mikro melalui akun media sosial pribadinya yang memiliki ribuan followers,” pungkasnya lagi. Dsy2