Dari Hobi, Bambang Dirikan Komunitas Pecinta Luwak di Blitar

Bambang saat menunjukkan salah satu koleksi luwaknya. SP/ BLT

SURABAYAPAGI.com, Blitar - Bambang Ariadi yang khawatir akan adanya eksistensi luwak semakin terancam, ia pun memutuskan membentuk sebuah komunitas pecinta luwak di Blitar dan menjadikannya sebagai bisnis sampingan. Bambang dan koleganya juga berupaya memberikan edukasi kepada masyarakat dengan kegiatan gathering setiap akhir pekan di Kebon Rojo. Hal ini dilakukan agar masyarakat sadar melalui kegiatan sosialisasi dan edukasi.

Hingga kini ada berbagai jenis luwak yang dia pelihara, Bambang mengaku banyak memelihara jenis luwak yang berasal dari luar Pulau Jawa. Sebut saja, mulai dari luwak jenis Tenggalung asal Kalimantan, luwak Bali, hingga luwak bulan, ada di rumahnya. Terkait hal tersebut, merasa sangat khawatir dengan eksistensi luwak yang makin hari makin langka.

"Selama pandemi ini kami sudah tidak pernah gathering. Karena setiap garhering itu kan banyak warga yang ikut juga berkumpul sama kami. Kami takut itu malah jadi masalah karena melanggar protokol kesehatan nantinya. Ya nanti kalau pandemi sudah selesai, semoga kami bisa kumpul-kumpul lagi," harapnya.

Dari hobi dan seluk beluk pemeliharaan luwak, Bambang akhirnya bertemu dengan beberapa rekan yang punya ketertarikan yang sama. "Lalu saya kan bertemu dengan beberapa teman yang suka luwak juga. Akhirnya saya bikin komunitas Anak Luwak Blitar pada 2014 sama teman-teman dan kebetulan saya yang jadi ketua sampai sekarang," ujarnya, dikutip Minggu (18/4/2021).

Lewat hobinya tersebut, kini mulai menampakkan hasil secara finansial. Sebab, dari kegiatannya tersebut, Bambang mengaku dapat menjadikannya sebagai ladang bisnis dari jual beli anakan luwak. Kini, tak kurang sekitar 20 ekor luwak "mejeng" di sejumlah kandang yang ada di rumahnya.

"Kalau biaya perawatan dan pakan kira-kira per bulan sekitar Rp 300 ribu untuk 20 ekor luwak. Kalau soal pemasukan, relatif sih. Tapi dalam tiga bulan itu saya bisa jual rata-rata Rp 300 ribu untuk seekor luwak anakan. Itu juga tergantung jenis luwaknya. Kalau dirata-rata dalam sekali panen selama tiga bulan saya bisa dapat Rp 5 juta," akunya.

Selain itu, Bambang menyebutkan, selama ini terkendala dalam proses pengawinan luwak. Sebab, hewan mamalia ini terbilang pilih-pilih pasangan kawin.

"Kalau perawatan sebetulnya gampang karena hampir sama dengan kucing. Tapi, yang susah itu kawinnya. Soalnya naluri dia kan hewan buas sebenarnya. Jadi saya juga minta bantuan ke teman-teman setiap kawin luwak," terangnya lagi. Dsy11