Dari Reseller Camilan, Kini Sukses Berbisnis Macaroni Baper

Camilan Macaroni Baper milik Eka Wulan Sari. SP/ TRG

SURABAYAPAGI.com, Trenggalek - Eka Wulan Sari yang mengawali usaha camilan dari menjadi reseller makaroni, dia pun berinisiatif untuk memproduksi makaroninya sendiri. Memiliki usaha rintisan camilan Makaroni, membuat Eka bisa lebih prospek dan mudah dalam menjalankannya nantinya. Eka menyakini usaha makanan perlu konsistensi rasa, sehingga tak perlu mengikuti tren layaknya baju yang seiring berganti.

Pada tahun 2020, Eka pun nekat menjadi sales dari produk makaroninya sendiri dengan menyambangi swalayan-swalayan di Kabupaten Trenggalek dengan tujuan untuk mempromosikan produknya. Tak disangka, kenekatan itu berbuah manis, ternyata produknya diterima. "Sampai 30 swalayan," ungkapnya, Selasa (27/4/2021).

Eka mengaku, untuk bisa menemukan racikan makaroni yang sesuai itu butuh waktu sampai setahun. Cipta rasa makaroni itu terinspirasi dari produk asal Jawa Barat. Rasanya pedas. Dan, karena

Selama masa belajar masak camilan Makaroni, Eka berkali-kali gagal. Dimulai salah beli jenis makaroni, karena ternyata yang dibeli adalah makaroni sayur sampai rasa makaroninya pernah dibilang terlalu banyak minyak. Lama waktu, Eka berhasil beradaptasi dan menemukan kesalahannya. Sehingga makaroni buatannya diterima konsumen. "Saya mulai usaha makaroni dengan modal Rp 120 ribu," ucapnya.

Menurutnya, konsumen dirasa mulai stabil pada 2020 lalu. Menurutnya, kestabilan tersebut karena hikmah dari pandemi Covid-19. Produksinya stabil minimal 2000 pcs per bulan. Tiap pcs memiliki berat 100 gram, nilai jualnya antara Rp 12.500 - 14.000 ribu.

"Awal ada kebijakan pembatasan-pembatasan memang turun drastis sampai 50 persen. Saya akan terpuruk kalau lama-lama menerima kondisi ini," cetus wanita berjilbab itu.

Kedati demikian, pandemi Covid-19 justru menjadi berkah bagi Eka, produknya lulus kurasi salah satu pasar modern. Selain itu, jangkauan pasarnya pun sampai ke luar pulau Jawa, selain konsumen dari Jatim khususnya. "Ada di Samarinda, pengiriman biasanya sekitar 2 ribu pcs," kata anak dari pasangan Suhartanto dan Mujiarti ini.

Eka berharap, bisa menyediakan lapangan pekerjaan untuk masyarakat di Kabupaten Trenggalek khususnya. "Selama ini produksi dibantu Ibu," ungkap Mahasiswi jurusan Manajemen dengan konsentrasi keuangan tersebut. Dsy8